AswajaNews — Malam tirakatan menjadi salah satu tradisi yang masih dipertahankan masyarakat Indonesia menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Di berbagai daerah, malam 16 Agustus biasanya diisi dengan doa bersama, tahlil, pengajian, renungan, mengheningkan cipta, hingga makan bersama dengan nasi tumpeng. Sebagian ada yang diisi dengan menceritakan sejarah kemerdekaan.
Konon tradisi ini diinisiasi oleh Sultan Hamengkubuwana IX, yang diintruksikan turun-menurun hingga dusun. Tradisi ini ditujukan untuk mengenang para leluhur pejuang kemerdekaan.
Namun, tirakatan sejatinya memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tradisi berkumpul menjelang perayaan kemerdekaan. Di dalamnya terdapat laku spiritual, refleksi sejarah, sekaligus upaya masyarakat untuk menghayati kembali arti kemerdekaan.
Tirakat sebagai Laku Spiritual
Tirakat atau dalam istilah lain disebut riyadhah merupakan sebuah laku spiritual yang ditempuh seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Dalam salah satu penjelasan etimologis yang dikutip dari jurnal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, istilah tirakat dikaitkan dengan bahasa Arab thariqah atau thoriqoh yang berarti jalan.
Jalan tersebut dapat dimaknai sebagai usaha yang ditempuh seseorang untuk menuju Allah SWT. Dalam versi lainnya, tirakat dikaitkan dengan kata taraka yang berarti meninggalkan. Dengan kata lain, tirakat dapat dimaknai sebagai upaya meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi untuk mencapai tujuan ukhrawi.
Dalam tradisi spiritual Jawa-Islam, gagasan ini juga ditemukan dalam pemikiran Syekh Siti Jenar mengenai salat tarekh. Istilah tersebut dapat dipahami sebagai dimensi batin salat, yakni upaya meninggalkan berbagai hal yang dapat mencemari batin.
Konsep tirakat juga muncul dalam Serat Wulangreh, salah satu karya sastra Jawa yang ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV. Serat wulangreh sering digunakan untuk mengajar para pejabat atau orang-orang yang memiliki kedudukan, serta generasi muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan.
Dalam pandangan Pakubuwono IV, tirakat digambarkan melalui ungkapan ambanting sariranira, yang berarti melatih diri dengan keras dan sungguh-sungguh. Tirakat dengan demikian bukan sekadar aktivitas menahan keinginan, melainkan proses menempa diri agar seseorang memiliki keteguhan dan kesiapan menghadapi kehidupan.
Secara historis, tradisi tirakat juga dikenal dalam kehidupan para raja maupun tokoh terdahulu. Ketika menghadapi persoalan besar, biasanya mereka akan mengundurkan diri sejenak untuk melakukan tirakat, bahkan selama tujuh hingga 40 hari. Laku tersebut diyakini dapat membantu menjernihkan diri, menenangkan batin, dan menstabilkan jiwa. Dengan harapan mampu membuka ruang untuk menemukan jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.

Malam Tirakatan Kemerdekaan
Lalu, bagaimana makna tersebut jika dikaitkan dengan malam tirakatan menjelang 17 Agustus?
Malam tirakatan dapat dilihat sebagai bentuk transformasi laku spiritual dari ranah personal menuju ranah sosial. Jika tirakat secara individual merupakan upaya seseorang untuk menata diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan, maka tirakatan kemerdekaan menjadi momentum bersama untuk menata kesadaran sebagai sebuah bangsa.
Masyarakat berkumpul, berdoa, membaca tahlil, mengheningkan cipta, mengenang perjuangan para pahlawan, dan merefleksikan perjalanan bangsa. Kegiatan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang menyambut pergantian tanggal menuju 17 Agustus, tetapi juga mengajak masyarakat berhenti sejenak dari rutinitas untuk bertanya kembali: apa arti kemerdekaan ?
Dalam konteks inilah tirakatan dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap pelupaan sejarah. Ia menjadi benteng kultural agar kemerdekaan tidak sekadar dirayakan secara seremonial melalui perlombaan, pemasangan bendera, atau berbagai perayaan, tetapi juga dimaknai secara mendalam dan eksistensial.
Jika tirakat adalah sebuah jalan untuk mencapai tujuan, maka kemerdekaan juga merupakan hasil dari perjalanan panjang yang ditempuh dengan pengorbanan. Para pendahulu bangsa tidak memperoleh kemerdekaan secara tiba-tiba dan percuma. Ada perjuangan, pengorbanan, penderitaan, keberanian, dan keteguhan yang harus dilalui sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.
Karena itu, malam tirakatan dapat dipandang sebagai sebuah jeda untuk mengingat kembali jalan panjang tersebut.
Sebab, kemerdekaan yang hanya diingat sebagai sebuah tanggal berisiko kehilangan maknanya. Sebaliknya, kemerdekaan yang terus direnungkan akan melahirkan kesadaran bahwa kebebasan yang dinikmati hari ini memiliki sejarah panjang, pengorbanan, dan perjuangan yang tidak boleh dilupakan.
Selain itu, jika dikaitkan dengan ungkapan ambanting sariranira milik Pakubuwono IV, Kemerdekaan harusnya tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan harus terus diperjuangkan dalam bentuk yang berbeda: pendidikan, keadilan, kesejahteraan, persatuan, kepedulian sosial, serta kemampuan generasi hari ini untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi bangsa.
Inilah yang harus dihayati, dimaknai secara mendalam, dan diimplementasikan oleh seluruh warga negara Indonesia untuk mencapai Indonesia berdaulat, adil, dan makmur seperti tema besar kemerdekaan RI ke-81 ini.
Oleh: Azza Fahreza





