AswajaNews – Anggota DPR RI Komisi VII periode 2024–2029, Novita Hardini, S.E., M.E., menyoroti proses hilirisasi industri di Indonesia yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan. Hal tersebut disampaikan dalam sesi materi Kuliah Tamu Universitas Merdeka Malang (Unmer) Kampus Ponorogo, Sabtu (15/8/2026).
Novita menilai Indonesia masih memiliki pekerjaan besar untuk membangun industri yang matang. Menurutnya, hilirisasi tidak cukup hanya dengan mengolah bahan mentah, tetapi harus mampu mendorong tumbuhnya industri manufaktur yang kuat sehingga menciptakan nilai tambah sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
“Hilirisasi kita masih jauh, karena seharusnya kita sudah memiliki banyak industri yang matang. Kalau industri belum matang, itu namanya kita masih di kondisi deindustrialisasi.”
Menurut Novita, kondisi hilirisasi yang belum optimal turut berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Padahal, keberadaan industri manufaktur dalam skala besar dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan pekerjaan.
Ia menyebut, apabila sektor manufaktur dapat berkembang dengan baik, penyerapan tenaga kerja dari setiap industri dapat mencapai sekitar 40 hingga 70 persen.
“Kalau konsep hilirisasi ini berjalan di Indonesia, maka pertumbuhan ekonomi kita bisa berada di angka 6 sampai 7 persen,” jelasnya.
Novita kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang ingin dicapai pemerintah. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih berada di kisaran 5,6 persen, sementara cita-cita Presiden adalah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
Menurutnya, kesenjangan antara kondisi saat ini dengan target tersebut menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama melalui penguatan industri, percepatan hilirisasi, serta penciptaan lapangan kerja.
“Pertumbuhan ekonomi kita masih 5,6 persen, sementara cita-cita Presiden mencapai 8 persen. Ini menjadi big question untuk kita semua,” tegas Novita.
Ia menilai pencapaian target tersebut membutuhkan strategi pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan angka ekonomi, tetapi juga memastikan sektor industri mampu menciptakan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja secara optimal.
Dengan demikian, hilirisasi diharapkan tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri yang matang, berkelanjutan, dan mampu menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Mahasiswa Unmer Diajak Soroti Hilirisasi Indonesia yang Dinilai Masih Mandek





