Oleh : Suwadi
*********
Hari Santri dan Hari Pahlawan bukan sekadar momentum peringatan tahunan. Keduanya menjadi pengingat akan panjangnya perjalanan perjuangan para ulama, santri, dan para pejuang dalam mempertahankan agama, menjaga martabat bangsa, serta membela Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, semangat keagamaan dan kecintaan kepada tanah air merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Para ulama dan santri telah menunjukkan bahwa menjaga agama dan menjaga bangsa merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Semangat tersebut salah satunya tercermin dalam Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama untuk membangkitkan semangat umat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat perjuangan tersebut kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi. Jika dahulu para santri berjuang menghadapi penjajahan secara fisik, maka tantangan santri pada zaman sekarang tentu berbeda. Penjajahan tidak selalu datang dalam bentuk kekuatan bersenjata. Kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kerusakan moral, serta penyalahgunaan teknologi juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Karena itu, menuntut ilmu merupakan bagian dari perjuangan santri.
Di berbagai pondok pesantren, TPA/TPQ, Madrasah Diniyah, dan lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama, tradisi keilmuan terus dirawat. Kitab-kitab karya para ulama salaf dipelajari, dikaji, dan diajarkan dari generasi ke generasi. Tradisi tersebut menjadi salah satu kekuatan pesantren dalam membentuk generasi yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus kokoh dalam akhlak.
Imam Syafi’i pernah memberikan pesan yang sangat relevan bagi para pencari ilmu:
“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan pahitnya kebodohan.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan santri tidak selesai hanya dengan menguasai ilmu agama. Santri harus terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan mampu menjawab persoalan masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman.
Santri hari ini harus mampu menjadi santri yang alim, berakhlak, adaptif, dan produktif. Santri dapat menjadi guru, ulama, akademisi, pengusaha, birokrat, tenaga profesional, teknolog, maupun berbagai profesi lainnya. Di mana pun berada, nilai-nilai pesantren harus tetap menjadi bekal dalam menjalankan kehidupan dan memberikan manfaat bagi sesama.
Prinsip “khairunnas anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, menjadi semangat penting dalam perjalanan seorang santri. Ilmu yang dimiliki bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi harus menghadirkan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Namun demikian, kemajuan zaman tidak boleh membuat santri tercerabut dari akar tradisinya. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan penjagaan terhadap tradisi keilmuan, akhlak, adab, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Di sinilah relevansi kaidah yang sangat akrab dalam tradisi pesantren:
اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ
“Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”
Kaidah tersebut mengajarkan bahwa menjadi santri bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, santri harus mampu menghadapi perubahan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai yang baik. Teknologi dimanfaatkan untuk dakwah, pendidikan, ekonomi, pelayanan sosial, dan kemaslahatan umat, bukan justru menjadi sarana yang menjauhkan manusia dari nilai agama dan kemanusiaan.
Semangat Hari Santri dan Hari Pahlawan pada akhirnya memiliki pesan yang sama: perjuangan tidak boleh berhenti.
Para ulama dan santri terdahulu telah memberikan teladan melalui perjuangan, pengorbanan, ilmu, dan pengabdian. Generasi santri hari ini memiliki tugas untuk melanjutkan perjuangan tersebut dengan cara yang sesuai dengan zamannya.
Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka perjuangan santri hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, karya, kemandirian, kepedulian sosial, serta pengabdian kepada umat dan bangsa.
Santri harus terus belajar, terus berkhidmah, dan terus memberi manfaat.
Sebab, menjadi santri bukan hanya tentang siapa yang pernah belajar di pesantren, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai pesantren terus hidup dalam diri, diwujudkan dalam karya, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dari pesantren untuk umat, dari santri untuk negeri.
Itulah spirit perjuangan yang harus terus dirawat: menjaga agama, merawat tradisi, mencintai negeri, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.





