AswajaNews – Fenomena full moon atau bulan purnama selalu menarik perhatian karena menjadi salah satu fase Bulan yang paling mudah diamati dari Bumi. Pada fase ini, Bulan tampak bulat penuh dan memancarkan cahaya paling terang di langit malam.
Full moon terjadi ketika posisi Bulan berada berlawanan dengan Matahari, sementara Bumi berada di antara keduanya. Kondisi tersebut membuat seluruh sisi Bulan yang menghadap ke Bumi terlihat terang karena memantulkan cahaya Matahari.
Bulan purnama merupakan bagian dari delapan fase utama Bulan dalam siklus orbitnya mengelilingi Bumi. Delapan fase itu meliputi new moon, waxing crescent, first quarter, waxing gibbous, full moon, waning gibbous, last quarter, dan waning crescent.
Siklus perubahan fase Bulan berlangsung sekitar 29,5 hari atau dikenal sebagai bulan sinodis. Perubahan bentuk Bulan yang terlihat dari Bumi terjadi karena posisi Bulan, Bumi, dan Matahari terus berubah selama Bulan mengorbit.
Meski tampak bercahaya, Bulan sebenarnya tidak menghasilkan cahaya sendiri. Cahaya Bulan yang terlihat pada malam hari merupakan pantulan sinar Matahari yang mengenai permukaannya.
Pada fase full moon, Bulan umumnya terbit ketika Matahari terbenam dan tenggelam saat Matahari terbit. Karena itu, bulan purnama sering dapat diamati hampir sepanjang malam di berbagai wilayah dunia.
Bulan purnama juga berkaitan dengan beberapa fenomena astronomi lain, seperti supermoon dan gerhana bulan. Supermoon terjadi ketika bulan purnama muncul saat posisi Bulan berada dekat dengan Bumi, sehingga tampak lebih besar dan lebih terang dari biasanya.
Selain bernilai ilmiah, bulan purnama juga memiliki makna budaya di banyak peradaban. Meski kerap dikaitkan dengan mitos tertentu, para ilmuwan menyebut sebagian besar klaim tentang pengaruh bulan purnama terhadap perilaku manusia belum memiliki bukti kuat.***





