AswajaNews – Kabupaten Tulungagung menjadi salah satu daerah di selatan Jawa Timur yang memiliki kekayaan geografis cukup lengkap. Daerah ini tidak hanya dikenal luas sebagai penghasil marmer, tetapi juga memiliki bentang alam beragam, mulai dari dataran rendah, pegunungan, perbukitan karst, kawasan pertanian, hingga pesisir yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Keberagaman alam tersebut menjadikan Tulungagung sebagai wilayah yang menarik dari sisi ekonomi, lingkungan, dan potensi wisata.
Secara administratif, Tulungagung terletak di barat daya Kota Surabaya. Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Kediri di sisi utara, Kabupaten Blitar di timur, Kabupaten Trenggalek di barat, serta Samudra Hindia di bagian selatan. Kondisi geografis tersebut membuat Tulungagung memiliki posisi strategis sebagai daerah penghubung antara kawasan pegunungan, dataran pertanian, sentra kerajinan marmer, dan wilayah pesisir selatan Jawa Timur.
Dari sisi topografi, Tulungagung memiliki karakter wilayah yang berlapis. Bagian barat laut daerah ini berada pada kawasan Pegunungan Wilis-Liman, sedangkan bagian tengah didominasi dataran rendah yang menjadi pusat permukiman, pemerintahan, perdagangan, dan aktivitas pertanian. Sementara itu, wilayah selatan Tulungagung masuk dalam rangkaian Pegunungan Kidul yang dikenal memiliki perbukitan kapur dan kawasan karst.
Salah satu titik penting dalam bentang alam Tulungagung adalah Gunung Wilis yang berada di Kecamatan Sendang. Gunung ini menjadi titik tertinggi di Tulungagung dengan ketinggian sekitar 2.552 meter. Keberadaan kawasan pegunungan tersebut memberi warna tersendiri bagi daerah ini, baik sebagai ruang konservasi, potensi wisata alam, maupun sumber daya lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitar.
Identitas Tulungagung sebagai “Kota Marmer” tidak dapat dilepaskan dari kawasan karst di wilayah selatan. Daerah ini dikenal memiliki potensi geomorfologi karst yang besar, termasuk keberadaan gunung-gunung marmer yang menjadi bahan utama industri kerajinan. Dari potensi geologi inilah berkembang berbagai produk marmer yang selama ini melekat kuat dengan nama Tulungagung dan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
Selain bernilai ekonomi, kawasan karst Tulungagung juga menyimpan potensi wisata alam dan edukasi. Keberadaan gua, bukit kapur, serta formasi batuan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembangan geowisata. Salah satu contohnya adalah Goa Tenggar di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung. Potensi seperti ini menunjukkan bahwa kekayaan alam Tulungagung tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk industri, tetapi juga perlu dikelola sebagai aset wisata dan konservasi.
Di bagian selatan, Tulungagung memiliki pesisir yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Kawasan ini menjadi modal penting bagi pengembangan wisata pantai, perikanan, dan ekonomi masyarakat pesisir. Pantai-pantai di Tulungagung tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi, tetapi juga menjadi bagian dari sumber penghidupan warga. Meski demikian, karakter laut selatan yang terbuka membuat pengelolaan kawasan pesisir perlu memperhatikan keselamatan wisatawan, potensi gelombang tinggi, abrasi, serta mitigasi bencana.
Dengan kondisi geografis yang beragam, ekonomi Tulungagung tumbuh dari banyak sektor sekaligus. Dataran rendah mendukung pertanian, perdagangan, dan pusat pemerintahan; kawasan selatan menghidupkan industri marmer serta wisata karst; sementara pesisir membuka peluang bagi perikanan dan pariwisata bahari. Karena itu, penataan ruang menjadi kunci agar pengembangan permukiman, industri, wisata, dan pemanfaatan sumber daya alam tetap seimbang dengan daya dukung lingkungan, sebagaimana diarahkan melalui Perda Kabupaten Tulungagung Nomor 4 Tahun 2023 tentang RTRW Tahun 2023–2043.***





