AswajaNews – Trenggalek tidak hanya dikenal lewat pantai dan alamnya, tetapi juga menyimpan sejumlah situs bersejarah yang penting untuk memahami jati diri daerah ini. Data resmi Pemkab menunjukkan Trenggalek memiliki banyak objek cagar budaya, mulai dari struktur, arca, hingga peninggalan batu kuno yang tersebar di beberapa kecamatan.
Salah satu yang paling sering disebut dalam pembahasan sejarah Trenggalek adalah Situs Gondang di Kecamatan Tugu. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek mencatat di lokasi ini ditemukan benda cagar budaya berupa arca Agastya dan Mahakala, serta struktur yang diduga candi berukuran sekitar 6 x 6 meter dari masa Mataram Kuno atau Hindu.
Selain Gondang, jejak penting lain terkait identitas awal wilayah ini adalah Kampak. Dokumen sejarah DPRD Trenggalek menyebut Kadipaten Kampak tercatat dalam Prasasti Kampak tahun 851 Saka atau 929 M, yang menandai posisi kawasan ini dalam sejarah pemerintahan lama di Trenggalek.
Nama Kamulan juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Trenggalek. Dalam dokumen sejarah resmi, Kadipaten Kamulan disebut tercantum dalam Prasasti Kamulan 1194 M, sementara Perda Hari Jadi Trenggalek 2024 menegaskan pentingnya Kamulan sebagai dasar penetapan identitas historis daerah.
Dari data cagar budaya resmi, Trenggalek juga memiliki Candi Brongkah di Kedunglurah, Pogalan. Situs ini tercatat sebagai struktur cagar budaya yang terawat, sehingga menarik diperhatikan sebagai bagian dari warisan arkeologis daerah, meski belum sepopuler destinasi wisata lain.
Masih dari data yang sama, ada pula Situs Semarum di Durenan yang masuk daftar struktur cagar budaya. Keberadaan situs seperti ini memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah Trenggalek tidak terpusat di satu titik, melainkan tersebar dan menyimpan potensi penelitian lebih lanjut.
Trenggalek juga menyimpan banyak benda bersejarah lain seperti yoni, dwarapala, batu dakon, dolmen, dan batu lumpang. Sebagian tercatat berada di area pendopo kabupaten, kantor kecamatan, sekolah, hingga dusun-dusun, menunjukkan bahwa memori sejarah Trenggalek masih hidup dalam ruang keseharian masyarakat.***





