Aswajanews – Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, kita berinteraksi dengan berbagai karakter setiap hari. Mengelola hubungan antarmanusia (hablum minannas) sering kali menjadi tantangan terbesar.
Konsep kesadaran diri ini sejalan dengan pandangan seorang ulama besar dan ahli bahasa masa Tabi’in, Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, yang membagi manusia ke dalam 4 tingkatan pengetahuan dan kesadaran. Memahami konsep ini membantu kita membangun komunikasi yang efektif, menumbuhkan rasa empati, dan merawat kerukunan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.
1. Sang Pemandu Komunitas: Orang yang Tahu, dan Tahu Kalau Dirinya Tahu. (Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri).
Tipe ini adalah cendekiawan, pemimpin, atau mentor yang ideal. Mereka tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, tetapi juga sadar akan potensi serta tanggung jawab sosial yang dipikulnya.
Kehadiran mereka memberikan rasa aman dan arah yang jelas bagi lingkungan sekitarnya.
Islam mengajarkan bahwa ilmu yang disertai kesadaran adalah amanah untuk mengayomi, bukan alat untuk menyombongkan diri. Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Jadikan mereka sebagai teladan dan tempat berdiskusi (musyawarah) ketika lingkungan menghadapi masalah yang kompleks. Rasulullah SAW bersabda:
العلماء ورثة الأنبياء
“Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
2. “Permata” yang Tersembunyi: Orang yang Tahu, tapi Tidak Tahu Kalau Dirinya Tahu. (Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri).
Banyak warga yang memiliki keahlian luar biasa, namun enggan tampil karena rasa percaya diri yang rendah (imposter syndrome) atau merasa ragu. Mereka ibarat warga yang sedang “tertidur”. Lingkungan sosial yang sehat tidak boleh membiarkan potensi kebaikan ini mengendap begitu saja.
Setiap manusia dibekali potensi (fitrah) oleh Allah, dan tugas sesama Muslim adalah saling mengingatkan serta membangun rasa percaya diri sesamanya untuk berbuat baik. Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Tugas masyarakat adalah membangunkan mereka (fatabbihuh / mengingatkan). Berikan motivasi, apresiasi, dan ruang yang aman bagi mereka untuk berkontribusi.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa mukmin yang kuat dan berdaya lebih dicintai:
المؤمن القوي خير من المؤمن الضعيف
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
3. Pembelajar yang Membangun: Orang yang Tidak Tahu, tapi Tahu Kalau Dirinya Tidak Tahu. (Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri).
Ini adalah tipe warga atau rekan kerja yang sangat menyenangkan. Mereka menyadari keterbatasan dirinya, sehingga tidak malu untuk bertanya dan mau belajar.
Kehadiran kelompok ini menciptakan atmosfer masyarakat yang dinamis, berpandangan terbuka (growth mindset), dan selalu rendah hati.
Kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan adalah pintu utama terbukanya ilmu pengetahuan. Allah SWT memerintahkan kita untuk tidak ragu bertanya kepada yang ahli:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Tindakan terbaik dalam masyarakat adalah sambut dan bimbinglah mereka (farsyiduh / beri petunjuk) dengan kesabaran. Lingkungan yang merangkul pembelajar akan tumbuh menjadi komunitas yang solid, progresif, dan dinaungi keberkahan.
4. Sumber Pemicu Konflik: Orang yang Tidak Tahu, dan Tidak Tahu Kalau Dirinya Tidak Tahu. (Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri).
Tipe ini adalah individu yang minim informasi tetapi paling keras bersuara, gampang menyebarkan hoaks, dan menolak masukan. Dalam psikologi dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect. Dalam tradisi Islam, kondisi ini disebut sebagai Jahl Murokkab (kebodohan bertingkat), yang menjadi pemicu utama perpecahan sosial.
Islam melarang keras seseorang bersikap atau berbicara tanpa dasar ilmu yang benar, karena hal tersebut dapat membawa kerusakan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”.(QS. Al-Isra’: 36).
Tindakan bijak dalam masyarakat adalah Waspadai dan jauhi perdebatan yang tidak berguna (fahdzaruh / waspadailah). Hadapi mereka dengan kepala dingin, sajikan fakta yang tabayyun (jelas), dan tetapkan batasan (boundaries) yang tegas agar opini tidak berdasar tidak merusak keputusan bersama.
Khalil bin Ahmad Al-Farahidi menutup pembagian ini dengan nasihat agar kita bijak menempatkan diri dan menyikapi sesama. Kehidupan bermasyarakat yang harmonis tidak tercipta karena semua warganya seragam, melainkan karena setiap orang memiliki kesadaran diri (muhasabah).
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya mawas diri dalam sebuah hadits:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيهِ
”Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi).
Pembagian 4 tipe manusia ini bukanlah alat untuk melabeli atau merendahkan orang lain, melainkan sebagai cermin introspeksi: Di manakah posisi kita hari ini dalam bermasyarakat?
Dengan senantiasa menjaga kerendahan hati untuk belajar dan keberanian untuk saling merangkul, kita dapat mewujudkan lingkungan sosial yang inklusif, bijaksana, dan penuh keberkahan bagi semua.
والله اعلم بالصواب



