Oleh: Ustadz Imron Ahmadi, S.Ag
*********
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita sering terjebak pada pemahaman mendasar tentang menjadi “orang baik”. Banyak yang merasa sudah cukup hanya dengan tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti, dan tidak membuat onar. Namun, jika kita menyelami lebih dalam pesan moral dan nilai-nilai keislaman, ada tingkatan derajat yang jauh lebih mulia dari sekadar menjadi baik: yaitu menjadi pribadi yang bermanfaat.
Pesan inspiratif yang mendalam mengingatkan kita: ”Menjadi baik itu mudah, dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi bermanfaat, karena itu butuh perjuangan.”
Untuk membangun kesadaran diri (muhasabah), kita perlu memahami perbedaan mendasar antara kedua konsep ini:
- Kesalehan Pasif (Menjadi Baik).
Menjaga lisan, menahan diri dari maksiat, dan tidak mengganggu lingkungan adalah syarat dasar seorang Muslim. Ini adalah bentuk kufful adza (menahan diri dari kejahatan) yang berfokus pada keselamatan diri sendiri. - Kesalehan Aktif (Menjadi Bermanfaat).
Menjadi bermanfaat menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman. Ia membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan perasaan untuk mengabdi serta memberi solusi bagi masyarakat sekitar.
Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk sholeh secara pribadi, tetapi juga sholeh secara sosial. Al-Qur’an dan Hadits menempatkan kebermanfaatan sebagai tolok ukur utama kualitas keimanan seseorang.
1. Keutamaan Manusia Terbaik.
Rasulullah secara tegas menetapkan bahwa kebaikan seseorang diukur dari seberapa besar dampak positif yang ia berikan kepada orang lain:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Al-Daruquthni).
2. Diam Sebagai Fondasi Awal Kebaikan.
Diam dan menahan diri memang dinilai sebagai kebaikan awal, bahkan dianggap sedekah untuk diri sendiri ketika kita belum mampu memberi kontribusi lebih. Rasulullah bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُوتْ
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika ditanya mengenai amalan apa yang bisa dilakukan jika seseorang belum mampu berbuat banyak kebaikan aktif, Nabi menjawab:
“Engkau menahan keburukanmu agar tidak menimpa orang lain, maka sesungguhnya itu adalah sedekah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, sedekah untuk diri sendiri ini adalah batas minimal, bukan tujuan akhir dari kehidupan seorang Muslim.
3. Kebermanfaatan Butuh Kesabaran dan Perjuangan.
Mengapa menjadi bermanfaat itu sulit? Karena di dalamnya terdapat ujian berupa kepenatan, kesalahpahaman dari orang lain, dan tantangan pengorbanan. Allah SWT menegaskan bahwa kepemimpinan dan kebermanfaatan sejati lahir dari rahim kesabaran:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
(QS. As-Sajdah: 24).
Lalu Bagaimana Memulai Perjuangan Ini untuk lebih bermanfaat?
Perjuangan menjadi pribadi yang bermanfaat tidak harus dimulai dengan gerakan raksasa. Kita bisa memulainya dari lingkaran terkecil dalam kehidupan sehari-hari:
- Niatkan Setiap Keahlian untuk Ibadah.
Jadikan profesi, ilmu, atau keterampilan yang kita miliki sebagai sarana membantu sesama, bukan sekadar mencari nafkah. - Tingkatkan Kepedulian Sosial.
Buka mata dan telinga terhadap kesulitan orang-orang di sekitar kita, mulai dari keluarga, tetangga, hingga rekan kerja. - Tahan Ujian Perjuangan.
Saat niat baik kita disalahpahami atau melelahkan, ingatlah bahwa setiap keringat yang keluar dalam rangka memberi manfaat dinilai sebagai pahala perjuangan (jihad) di jalan Allah.
Mari kita yakinkan niat untuk bertransformasi dari sekadar “diam agar tampak baik” menjadi “bergerak dan berjuang agar hidup lebih bermanfaat.”
Wallohul muwaffiq ilaa aqwamit Thoriq.





