Jadikan Bulan Safar Sebagai Momentum Untuk Menakar Keikhlasan dalam Beramal Sholeh

​Oleh: Ustadz Imron Ahmadi, S.Ag

*********

Bulan Safar kerap kali diwarnai berbagai mitos atau anggapan keliru di tengah masyarakat. Tak sedikit yang menganggapnya sebagai bulan pembawa kesialan atau penderitaan. Padahal dalam Islam, tidak ada satu pun bulan yang membawa keburukan. Setiap waktu yang Allah ciptakan adalah ruang untuk menanam benih-benih ketaatan.

​Mengawali pesan kebaikan di hari yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan berupaya optimal menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

​Secara bahasa, Safar memiliki arti kosong. Imam Murtadha az-Zabidi dalam kitab Tajul ‘Arusy menjelaskan beberapa alasan historis di balik penamaan ini:

  • ​Lumbung yang Kosong.
    Dahulu, masyarakat Arab mengumpulkan pasokan makanan dari berbagai tempat pada bulan ini, sehingga tempat – tempat penyimpanan menjadi kosong.
  • ​Kota yang Sepi.
    Penduduk Makkah kerap bepergian meninggalkan kotanya untuk berdagang atau bepergian, menjadikan kota Makkah kosong melompong.
  • ​Tradisi Peperangan.
    Pada masa jahiliyah, suku-suku saling berperang pada bulan ini dan meninggalkan pihak yang kalah dalam kondisi kosong tanpa harta benda.

​Dari makna “kosong” tersebut, ada ikhtibar yang patut kita renungkan. Jangan sampai bulan Safar ini berlalu begitu saja sementara kita kosong dari amal kebaikan, baik ibadah ritual (hablum minallah) maupun ibadah sosial (hablum minannas).

​Rasulullah SAW mengingatkan dalam sabdanya:

​إِنَّ أَصْفَرَ البُيُوتِ من الخَيْرِ البَيْتُ الصِّفْرُ من كتابِ اللَّهِ
​“Sungguh rumah yang paling kosong dari kebaikan adalah rumah yang kosong dari bacaan kitabullah Al-Qur’an.”
(HR. at-Thabarani).

​Bahaya “Amal Kosong” di Era Digital
​Bagi kita yang merasa sudah banyak beramal, ada ujian lain yang tak kalah besar: kelengahan hati yang membuat amal kita menjadi kosong tak berbekas di akhirat.

​Di era pesatnya teknologi informasi dan media sosial hari ini, jemari kita begitu mudah memamerkan segala aktivitas ibadah di WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube. Kebaikan yang sejatinya rahasia indah antara hamba dan Sang Pencipta, rentan bergeser menjadi ajang panjat sosial (pansos) dan perburuan popularitas.

​Menampakkan amal kebaikan idealnya hanya dilakukan oleh orang-orang khusus yang hatinya telah terlatih dan mampu mengendalikan hawa nafsu, seperti para ulama, wali, dan mukhlisin—agar menjadi contoh teladan (uswah).

​Adapun bagi orang awam seperti kita, hawa nafsu sering kali berbisik dengan sangat halus:
​”Alhamdulillah, kamu ini orang yang ikhlas. Kamu menampilkan ibadah ini hanya supaya orang lain terinspirasi dan mengikutimu.”

​Bagaimana cara menakar apakah hati kita benar-benar ikhlas atau sekadar mencari pujian manusia? Syekh Ali al-Khawash, seorang sufi agung asal Mesir memberikan tolok ukur yang sangat indah:

  • ​Indikator Ikhlas.
    Apabila ada orang lain yang melakukan kebaikan serupa (bahkan diikuti lebih banyak orang dibanding kita), hati kita merasa sangat bahagia dan lapang. Kita bersyukur karena tugas kebaikan itu telah diwakili oleh saudara kita.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

  • ​Indikator Riya.
    Apabila kita merasa sesak, gundah, atau tersaingi melihat kebaikan orang lain lebih diapresiasi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan…”

​Jika perasaan tersaingi itu muncul dengan alasan takut kehilangan pahala, Syekh Ali al-Khawash mengajarkan kita untuk melawannya dengan menata ulang tauhid dan prasangka kita kepada Allah:

​إِنِّي مُعْتَمِدٌ عَلَى فَضْلِ اللهِ لَا عَلَى الْأألْعَمَالِ. فَإِنْ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ، فَإنما هو برحمة الله تعالى لا بعملي
​“Sungguh aku hanya mengandalkan anugerah Allah, bukan amal kebaikan yang aku lakukan. Bila nanti aku masuk surga, maka itu murni karena rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala, bukan karena amalku.”

​Orang yang benar-benar ikhlas tidak akan pernah menobatkan dirinya sebagai orang ikhlas, apalagi memamerkan keikhlasannya di hadapan khalayak. Mari kita jadikan bulan Safar ini sebagai momentum untuk mengisi “kekosongan” jiwa kita dengan amal saleh, sekaligus mengosongkan hati kita dari sifat riya, ujub, dan pamer.

Semoga seluruh ikhtiar ibadah kita senantiasa diterima dan mendapat keridaan Allah SWT.

Amiin ya Rabbal ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D