Mahasiswa KPM UIN Ponorogo 2026 Gandeng PC ISNU Ponorogo, “Tilas Wicara” Jadi Langkah Awal Penulisan Sejarah Desa Karangan

Aswajanews — Upaya merawat ingatan kolektif masyarakat melalui penelusuran sejarah lokal terus menemukan momentumnya. Mahasiswa Kelompok KPM 04 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menggagas sebuah forum diskusi bertajuk “Tilas Wicara”, sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang secara khusus mengangkat sejarah Desa Karangan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (21/7/2026) mulai pukul 19.30 hingga 23.00 WIB itu digelar di rumah Kepala Dusun Pohsawit, Yatno, dan mempertemukan akademisi, tokoh agama, pemerintah desa, serta masyarakat dalam satu ruang dialog sejarah.

Forum tersebut dihadiri Kepala Desa Karangan Pujianto, Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Munadi Kyai Ghafur, para kepala dusun, ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Suad Fikriawan, M.A., serta seluruh mahasiswa Kelompok KPM 04 Desa Karangan. Sebagai narasumber hadir Ketua PC ISNU Ponorogo Dr. Agus Setyawan, M.S.I. bersama Koordinator Riset Sejarah PC ISNU Ponorogo Dr. Muhammad Misbahuddin, M.Hum. yang memandu pembahasan mengenai metode penelusuran sejarah desa berbasis sumber primer.

Berbeda dari forum diskusi pada umumnya, Tilas Wicara tidak berhenti pada nostalgia masa lampau. Diskusi diarahkan untuk mengidentifikasi data sejarah yang masih hidup di tengah masyarakat sekaligus merumuskan langkah ilmiah dalam penyusunannya. Pembahasan berfokus pada dua figur penting penyebaran Islam di wilayah Karangan, yakni Kyai Hasan Munadi dan Kyai Ageng Setono Bethek, yang selama ini lebih banyak dikenal melalui tradisi tutur daripada dokumentasi akademik. Para peserta saling melengkapi informasi mengenai silsilah, lokasi-lokasi bersejarah, peninggalan fisik, hingga tradisi keagamaan yang diyakini memiliki keterkaitan dengan kedua tokoh tersebut.

Ketua PC ISNU Ponorogo, Dr. Agus Setyawan, menekankan bahwa sejarah desa tidak cukup dibangun hanya dari cerita lisan. Menurutnya, penulisan sejarah yang baik harus bertumpu pada metode sejarah yang menggabungkan berbagai jenis sumber, mulai dari arsip, manuskrip, artefak, prasasti, nisan kuno, hingga kesaksian para pelaku sejarah dan tokoh masyarakat yang masih hidup. Dengan pendekatan demikian, sejarah desa bukan sekadar menjadi cerita turun-temurun, melainkan berubah menjadi pengetahuan yang memiliki dasar akademik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Muhammad Misbahuddin, M.Hum. mengulas posisi historis Kecamatan Badegan dalam lintasan sejarah Jawa. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan dalam Babad Alit, kawasan Badegan merupakan bagian dari wilayah yang berada dalam pengaruh Kesultanan Surakarta. Karena itu, perkembangan desa-desa di kawasan tersebut, termasuk Desa Karangan, tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik, pemerintahan, maupun penyebaran kebudayaan pada masa Surakarta. Jejak hubungan itu masih memungkinkan ditelusuri melalui struktur permukiman lama, tradisi masyarakat, nama-nama wilayah, jaringan tokoh agama, hingga peninggalan material yang masih tersisa. Perspektif tersebut membuka peluang penelitian yang lebih luas untuk menempatkan sejarah Desa Karangan sebagai bagian dari sejarah regional Mataraman, bukan semata-mata sejarah lokal yang berdiri sendiri.

Secara historis, Desa Karangan merupakan salah satu desa di Kecamatan Badegan yang memiliki posisi strategis sebagai kawasan agraris sekaligus lintasan perkembangan Islam di wilayah barat Kabupaten Ponorogo. Kehadiran tokoh-tokoh agama, tradisi pesantren, serta keberadaan situs-situs yang masih terpelihara menunjukkan bahwa desa ini menyimpan memori sejarah yang kaya. Potensi tersebut selama ini belum terdokumentasikan secara sistematis sehingga rentan mengalami distorsi bahkan hilang seiring pergantian generasi.

FGD Tilas Wicara menghasilkan kesepakatan penting berupa penyusunan program penulisan sejarah Desa Karangan secara kolaboratif. Proses penyusunannya akan didasarkan pada pengumpulan dokumen tertulis, artefak sejarah, manuskrip, data lapangan, serta wawancara mendalam dengan para narasumber yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah desa. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi dokumentasi resmi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendidikan, pelestarian budaya, sekaligus penguatan identitas masyarakat Karangan.

Inisiatif Kelompok KPM 04 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo layak diapresiasi karena menghadirkan model pengabdian masyarakat yang tidak hanya menyentuh aspek sosial, tetapi juga pelestarian memori kolektif. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, PC ISNU Ponorogo, kalangan pesantren, dan masyarakat memperlihatkan bahwa sejarah lokal dapat dibangun melalui kerja ilmiah yang partisipatif. Di tengah arus modernisasi yang sering menggeser perhatian terhadap warisan masa lalu, Tilas Wicara menjadi contoh bahwa merawat sejarah desa sesungguhnya adalah investasi untuk menjaga identitas, memperkuat karakter masyarakat, dan mewariskan pengetahuan yang autentik kepada generasi mendatang. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D