AswajaNews – Kabupaten Mojokerto menyimpan salah satu jejak sejarah paling penting di Jawa Timur. Di wilayah Trowulan, ingatan tentang Kerajaan Majapahit masih dapat dibaca melalui situs-situs kuno seperti Kolam Segaran, Candi Tikus, Bajang Ratu, Wringin Lawang, dan Candi Brahu.
Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kaitan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Nama Trowulan menjadi bagian penting dalam pembicaraan sejarah Jawa Timur karena kawasan ini kerap disebut sebagai bekas kota Kerajaan Majapahit, kerajaan besar bercorak Hindu-Buddha yang pengaruhnya meluas dalam sejarah Nusantara.
Jejak sejarah itu tidak hanya hadir dalam cerita atau buku pelajaran, tetapi juga tampak dalam sejumlah peninggalan fisik yang masih bisa dijumpai hingga kini. Kawasan Trowulan menyimpan memori sejarah melalui bangunan, struktur bata merah, kolam kuno, hingga gapura yang menjadi penanda kuatnya peradaban pada masa lalu.
Trowulan dan Warisan Majapahit
Salah satu peninggalan yang paling dikenal adalah Kolam Segaran. Situs ini dapat dikaitkan dengan kehidupan kota kuno Majapahit yang telah memiliki tata ruang dan fasilitas air dalam skala besar. Keberadaan kolam tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kawasan Trowulan bukan sekadar tempat tinggal biasa, melainkan pusat aktivitas yang memiliki perencanaan cukup maju pada zamannya.
Selain Kolam Segaran, Candi Tikus juga menjadi salah satu jejak penting di Mojokerto. Bangunan ini dikenal memiliki bentuk menyerupai tempat pemandian atau petirtaan. Dari situs tersebut, masyarakat dapat melihat bagaimana unsur air memiliki posisi penting dalam kehidupan spiritual dan budaya pada masa Hindu-Buddha.
Tak jauh dari itu, Bajang Ratu menjadi salah satu peninggalan yang sering menarik perhatian pengunjung. Gapura berbahan bata merah ini dikenal dengan bentuknya yang menjulang dan detail arsitektur yang khas. Kehadirannya dapat dikaitkan dengan tradisi bangunan gerbang pada masa Majapahit yang tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga menyimpan makna simbolik.
Wringin Lawang juga menjadi bagian penting dari lanskap sejarah Trowulan. Bentuknya berupa gapura besar yang seolah menjadi pintu masuk menuju ingatan masa lalu. Situs ini memperlihatkan kuatnya tradisi arsitektur bata merah yang menjadi ciri banyak peninggalan Majapahit di kawasan Mojokerto.
Candi Brahu dan Jejak Spiritualitas
Candi Brahu menjadi peninggalan lain yang memperkuat posisi Trowulan sebagai kawasan bersejarah. Bangunan ini dikenal sebagai salah satu candi tua di kawasan tersebut dan kerap dikaitkan dengan jejak spiritual masyarakat pada masa Hindu-Buddha. Struktur bangunannya yang kokoh menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya.
Melalui berbagai situs tersebut, Mojokerto tidak hanya dikenal sebagai daerah administratif di Jawa Timur, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan memori besar tentang peradaban masa lalu. Trowulan menjadi pengingat bahwa sejarah Majapahit tidak berdiri jauh dari kehidupan masyarakat hari ini. Ia hadir dalam bentuk bata, kolam, gapura, dan candi yang masih dapat disaksikan secara langsung.
Bagi masyarakat Mojokerto, warisan Majapahit dapat menjadi sumber kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Situs-situs sejarah itu bukan hanya objek wisata, tetapi juga bahan pembelajaran tentang bagaimana sebuah peradaban pernah tumbuh, berkembang, dan meninggalkan jejak panjang bagi generasi setelahnya.***





