Hari Perempuan Internasional : Perjuangan Hak-hak Perempuan dalam Buku Tafsir Perempuan Karya Asghar Ali Engineer

Aswaja News – Hari Perempuan Internasional (HPI) yang diperingati setiap tanggal 8 Maret menjadi hari bersejarah bagi seluruh perempuan yang ada di dunia.

Menyimpan makna yang penting, HPI menyingkap perjuangan hak-hak perempuan dari tahun ke tahun. HPI mengingatkan perempuan pada refleksi perjuangan yang terus dilakukan hingga saat ini. Hak-hak perempuan sebagai makahluk Tuhan telah banyak terpenuhi.

Namun, perjuangan tidak berhenti sampai disitu, ada banyak tantangan yang dihadapi perempuan. Hingga saat ini, diskriminasi terhadap perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan permasalahan gender masih sering menjadi momok yang dihadapi perempuan.

HPI hingga kini terus menggaungkan kesetaraan gender dan kesadaran terhadap isu perempuan. Hal ini menjadi perwujudan solidaritas perempuan dalam memperjuangkan kaumnya untuk bangkit dari belenggu bias gender yang masih terus terjadi.

Menyoal tentang HPI yang terus berjuang untuk menggaungkan kesetaraan gender, buku dengan judul “Tafsir Perempuan (Wacana Perjumpaan Al-Qur’an, Perempuan, dan Kebudayaan Kontemporer)” yang ditulis oleh feminism muslim Asghar Ali Engineer menyingkap bentuk-bentuk perjuangan tokoh feminism muslim dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Dalam buku tersebut pada bab ke-13 dengan judul “Maulvi Mumtaz Ali Khan, Seorang Pembela Hak-hak Perempuan dalam Islam” secara sederhana menyingkap perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak-haknya.

Maulvi Mumtaz Ali Khan menceritakan bagaimana pada abad ke-19 perempuan muslim harus tunduk pada segala ketetapan bapak ataupun suami. Hal inilah yang mengantarkan Maulvi pada bentuk sinergitas memperjuangkan hak-hak perempuan.

Maulvi menyampaikan bentuk perjuangannya pada sebuah karya buku yang memuat lima hal penting tentang hak-hak perempuan. Bagian pertama Maulvi menyampaikan tentang alasan mengapa laki-laki dianggap makhluk yang superioritas, pada bagian kedua Maulvi berbicara tentang pendidikan dan perempuan, pada bagian ketiga Maulvi berbicara tentang perempuan dan jilbab, pada bagian keempat Maulvi menyoroti masalah kehidupan rumah tangga, dan bagian kelima Maulvi berbicara tentang kehidupan yang saling menguntungkan.

Secara singkat, pada bagian pertama Maulvi menyampaikan bahwa superioritas seseorang tidak terletak dari fisiknya. Bukan berarti laki-laki yang memiliki tubuh kekar memegang secara penuh superioritas dalam segala sektor.

Bagian kedua Maulvi menyampaikan kritiknya terkait dengan anggapan bahwa otak perempuan tidak secanggih otak laki-laki. Maulvi beranggapan bahwa keadaan otak seseorang tergantung dengan kondisi seseorang tersebut dibesarkan, bukan bergantung pada jenis kelamin seseorang tersebut.

Bagian ketiga Maulvi menyampaikan pandangannya mengenai jilbab, bahwa jilbab tidak hanya berfungsi untuk menutupi perempuan dari panas atau dingin. Menutup aurat perempuan dengan jilbab dapat menjaga perempuan dari pandangan laki-laki yang salah. Menurutnya, perempuan memiliki sensivitas yang besar.

Bagian keempat Maulvi menyoroti kehidupan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga yang dapat dipahami dari pendapat Maulvi adalah tentang bagaimana ketersalingan antara laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri. Untuk mencapai sebuah keputusan, maka hal tersebut berdasarkan kesepakatan antara suami dan istri.

Bagian terakhir dari buku Maulvi menyoal tentang kehidupan yang saling menguntungkan. Hal ini dapat kita pahami bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua manusia yang dapat bersinergi bersama. Seorang laki-laki yang memiliki tubuh lebih kekar dibandingkan dengan perempuan hendaknya tidak melakukan tindakan diskriminasi pada perempuan.

Dari bentuk-bentuk perjuangan yang telah dilakukan oleh Maulvi, menyadarkan perempuan saat ini untuk terus peduli terhadap isu-isu perempuan. Perempuan yang dianggap kaum yang lemah, sudah tidak saatnya lagi terhasut oleh serentetan dogma-dogma masyarakat berbasis bias gender yang dapat menghambat proses dan sinergitas perempuan untuk berdampak dan berperan diberbagai sektor.

Melalui peringatan HPI menyadarkan seluruh manusia terutama perempuan, bahwa perjuangan terhadap pemenuhan hak-hak perempuan belum berakhir. Perempuan harus terus saling bergandengan erat untuk menyuarakan hak-hak perempuan. Saling memberdayakan satu sama lain untuk tercapainya perempuan yang berdaya.

Penulis : Elsa Monica, S.Pd

Editor : Azza Fahreza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *