Semua telah di-setting

Oleh: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalimantan Barat)

Anda sibuk membicarakan yang tidak tahu. Mun bahasa Melayu Sambas, “Macam iye-iye.” Macam tahu segalanya, padahal Anda hanya tahu luarnya. Itu pun sedikit. Sementara orang yang tahu isi jeroan politik, malah ketawa-ketiwi. Mungkin sambil ngopi ia melihat orang yang tahu tapi macam iye-iye bicara politik.

Siapa sebenarnya yang tahu urusan politik di negeri ini? Dialah Presiden Jokowi. Dalam pidatonya tadi malam, ia sangat tahu jeroan setiap parpol. Dari mana ia tahu? Dari Badan Inteligen Negaran (BIN) dan Badan Inteligen Strategis (BAIS). Lembaga kredibel yang dibiayai oleh negara dari pajak rakyat. Yang macam iye-iye tadi lebih banyak tahu dari media abal-abal, gosip, hoax, dan rumor di warung kopi. Percaya mana? BIN atau hoax. Jelas presiden percaya BIN dan BAIS dong. Beliau tahu jeroan parpol, saya percaya. Kalau kalian tak percaya, gimana juga nak maksanya.

Soal Jokowi paham betul gerak-gerik parpol lagi ramai wak. Artinya, semua hal berbau politik sudah diketahui dulu oleh presiden. Ibaratnya, publik belum tahu, presiden sudah tahu duluan. Jangankan sekadar tahu, bisa saja semua sudah di-setting atau diarahkan oleh presiden. Boleh dong menduga-duga. Pengamat yang di televisi saja isinya semua juga menduga-duga, hehehe.

Saya ada cerite, obrolan di warkop. Ada kawan berandai-andai. “Seandainya sembilan naga itu ngumpul sambil ngopi, mungkin pada ngakak ketawa melihat kelakuan orang kita ya. Demo sana, demo sini. Hujat sana, hujat sini. Kawannya bilang, kita nonton saja, biarkan mereka. Asal jangan ganggu bisnis kita saja.” Kadang saya merenung, sepertinya kita sedang diadu-domba. Merasa ndak? Kita tak sadar sedang dipetakonflikan. Sesama anak bangsa diadu. Bertengkar tanpa ada kesudahan. Coba perhatikan, dengan siapa sebenarnya kita begadoh. Sesama anak bangsa sendiri. Kadang di grup WA saja kita bertengkar untuk sesuatu yang tak penting. Betul tak? Orang yang di atas mungkin pada ketawa sambil karaokean, makan seafood king crab, plus kacang almond Australia.

Kembali ke Jokowi yang mengetahui betul jeroan parpol. Jelang pendaftaran capres dan cawapres. Ia pasti sudah mengetahui bahkan sudah men-setting setiap pasangan. Ingat tragedi saat Surya Paloh mengumumkan pasangan Anies Baswedan dengan Cak Imin. Sebelum diumumkan, Surya Paloh sudah ketemu duluan Jokowi. Walaupun dibantah, tetap dicurigai itu semua telah di-setting rezim. Semua sudah diketahui oleh istana.

Kalau ada demo-demo, lihat ekpresi Jokowi, kalau ia tenang sambil sekali-kali bercanda, atau ia malah asyik blusukan, tandanya negara aman terkendali. Bila muncul statemen dari Kapolri atau Panglima akan mengawal aksi demo, itu tanda bahaya. Kasus Rempang Batam, Polri TNI akan kerahkan pasukan, tandanya ada ancaman negara di sana. Semua sudah diketahui dan dilakukan upaya antisipasi meredamnya.

Potensi keamanan atau kedaruratan negara pasti sudah diketahui dulu oleh Presiden. BIN dan BAIS penyampai informasi A1 ke kepala negara. Gerak-gerik Parpol tak lepas dari pantauan intel-intel dua lembaga resmi itu. Para intelnya pasti ada dalam tubuh masing-masing parpol. Mereka telah dilatih sedemikian rupa agar bisa mendapatkan informasi sedetail mungkin. Kalau ada ngaku intel, itu pasti pembohong. Yang namanya intel, istrinya saja tak tahu suaminya seorang inteligen. Apalagi orang lain. Ingat motto seorang intel negara, “Berani tidak dikenal, Mati tidak dicari, Berhasil tidak dipuji, dan Gagal dicaci maki.” Rahasia pribadi dijaga rapat jangan sampai siapa pun tahu. Ia bisa menyusup sebagai anggota pengajian, tukang bakso, pengurus parpol, guru, sopir, dsb. Ia bisa menyusup ke segala lini. Kadang seperti bermusuhan dengan negara, padahal ia intel. Lebih dahsyat lagi, para inteligen juga bisa mengadu-domba. Kalau agen CIA Amerika Serikat sudah biasa mengadu-domba rakyat sebuah negara. Bila tidak tunduk, pemimpinnya bisa dibunuh atau diperangi. Semua dilakukan hanya untuk sebuah kepentingan. Bisa kepentingan investasi agar tetap lanjut, kepentingan kekuasaan agar tetap langgeng, kepentingan apa saja asal sesuai selera penguasa.

Saya yakin, Presiden Jokowi sudah tahu pemenang Pilpres. Tentu tak lah dikasih tahu sama kita. Kalau dibilang “semua sudah di-setting” bisa benar, bisa juga salah.

Lantas bagaimana dong bila semua sudah di-setting? Tinggal dikontrol saja penyelenggara Pemilu, pemerintah, parpol, dan lembaga hukum. Berikan kritikan super dahsyat, biarlah rakyat menentukan sendiri pilihannya. Enak ya ngomong, padahal di lapangan para pemilih dihadapkan dengan money politic tak kalah dahsyatnya. Siapa yang banyak duit, dialah pemenangnya. Siapa yang banyak duit, ente bisa jawab sendirilah. Itu sajalah wak, susah juga mencari solusi bila semua sudah diatur dengan baik dan rapi.

camanewak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *