PENGUSAHA NAHDLIYIN DI TENGAH PERSAINGAN EKONOMI GLOBAL

Oleh: Purwanto M. Ali
Fungsionaris Pengurus Pusat Pengusaha & Profesional Nahdliyin (PP P2N)

*********

“Besarnya jumlah pengusaha adalah potensi, luasnya jaringan adalah kekuatan. Namun, tanpa konsolidasi dan profesionalisme, keduanya hanya menjadi kebanggaan yang tak kunjung menjelma keunggulan.”

Besar dalam Jumlah, Seberapa Kuat dalam Persaingan?

Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar rumah besar bagi jutaan umat yang dipersatukan oleh tradisi keagamaan. Di dalamnya juga tumbuh kekuatan ekonomi yang menghidupi pasar, menggerakkan perdagangan, mengolah hasil bumi, membangun industri, hingga merambah dunia korporasi.

Dari warung sederhana di sudut desa hingga perusahaan yang beroperasi di kota-kota besar, pengusaha Nahdliyin hadir dalam berbagai denyut perekonomian bangsa.

Namun, besarnya jumlah tidak selalu berarti kuatnya pengaruh. Luasnya jaringan belum tentu mencerminkan besarnya penguasaan pasar.

Di tengah persaingan bisnis yang kian terbuka, pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa banyak pengusaha Nahdliyin yang dimiliki Indonesia, melainkan seberapa besar kekuatan ekonomi yang mampu mereka bangun dan seberapa jauh daya saing yang sanggup mereka pertahankan?

Terlebih ketika korporasi besar, jaringan ritel modern, dan perusahaan multinasional telah memasuki pasar hingga pelosok desa. Persaingan global kini tidak selalu harus dicari ke luar negeri; ia bahkan telah hadir di depan pintu rumah sendiri.

Potensi Ekonomi yang Belum Menjadi Kekuatan

Jumlah pelaku UMKM dari kalangan Nahdliyin diperkirakan mencapai 10 juta, atau sekitar 16,7 persen dari 60 juta UMKM nasional berdasarkan angka pembanding tahun 2022. Angka ini masih merupakan estimasi, bukan hasil sensus yang terverifikasi.

Sebagai gambaran, data pemerintah pada 2025 menyebut Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM, yang menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto (PDB) dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional.

Angka-angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya ekonomi rakyat sebagai penyangga kehidupan bangsa.

Namun, persoalannya bukan semata pada jumlah, melainkan pada kemampuan mengubah potensi menjadi kekuatan.

Sepuluh juta pengusaha yang berjalan sendiri-sendiri belum tentu lebih kuat daripada jaringan usaha yang terhubung dalam produksi, permodalan, distribusi, dan penguasaan pasar.

Sebab, dalam dunia bisnis, kebesaran tidak hanya dihitung dari banyaknya pelaku, tetapi juga dari nilai tambah yang diciptakan, keuntungan yang dihasilkan, serta pasar yang mampu dikuasai.

Di sinilah ekonomi Nahdliyin menghadapi pekerjaan besar: mengubah kekuatan yang tersebar menjadi kekuatan yang terorganisasi.

UMKM: Akar yang Harus Menumbuhkan Pohon Besar

Pengusaha Nahdliyin bergerak dalam berbagai sektor: perdagangan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, industri makanan dan minuman, tekstil, konveksi, konstruksi, properti, transportasi, logistik, pariwisata, hingga teknologi digital.

Namun, fondasi penting ekonomi Nahdliyin masih bertumpu pada usaha mikro, kecil, dan menengah.

UMKM adalah akar yang menopang kehidupan ekonomi rakyat. Tetapi akar yang kuat semestinya mampu menumbuhkan batang yang kokoh, cabang yang luas, dan buah yang memberi manfaat.

Karena itu, P2N perlu menawarkan strategi penguatan pada lima sektor prioritas: perdagangan kebutuhan pokok dan ritel rakyat; industri makanan-minuman; pertanian, peternakan, dan perikanan; konveksi serta fesyen muslim; dan koperasi produktif.

Kelima sektor tersebut tidak harus berjalan sendiri.

Petani menghasilkan bahan baku, industri mengolahnya, distributor menyalurkannya, pedagang memasarkannya, sementara koperasi memperkuat pembiayaan dan pengadaan.

Ketika seluruh mata rantai terhubung, UMKM tidak lagi menjadi pulau-pulau kecil yang terpisah, melainkan membentuk gugusan kekuatan ekonomi yang saling menopang.

Yang kecil tidak harus selamanya kecil. Yang besar pun tidak semestinya tumbuh dengan meninggalkan yang kecil.

Modal Sosial yang Menanti Menjadi Modal Ekonomi

Nahdliyin memiliki kekayaan yang tidak selalu tercatat dalam laporan keuangan: kepercayaan, persaudaraan, jaringan pesantren, lembaga pendidikan, serta hubungan sosial yang melintasi desa dan kota.

Dalam ekonomi, kekayaan tersebut dikenal sebagai modal sosial.

Namun, persaudaraan tidak otomatis melahirkan keuntungan. Kedekatan organisasi belum tentu menghasilkan efisiensi. Kesamaan identitas tidak dapat menggantikan kualitas dan profesionalisme.

Bayangkan apabila ribuan warung Nahdliyin terhubung dalam satu jaringan pengadaan. Mereka dapat meningkatkan daya tawar, menekan biaya distribusi, dan memperoleh harga pembelian yang lebih kompetitif.

Demikian pula ketika petani, peternak, pengolah pangan, dan pedagang dipertemukan dalam kemitraan usaha yang terencana.

Di sinilah P2N dapat mengambil peran sebagai penghubung antarpengusaha, penggerak konsolidasi bisnis, dan pembuka akses investasi.

Sebagaimana refleksi yang patut menjadi pijakan:

«“Persaudaraan adalah akar yang menumbuhkan kepercayaan, tetapi profesionalisme adalah batang yang menopang kekuatan. Sebab kebesaran ekonomi tidak lahir dari banyaknya tangan yang bergandengan, melainkan dari kemampuan bersama menciptakan nilai dan kesejahteraan.”

— Purwanto M. Ali»

Ketika Persaingan Global Mengetuk Pintu Desa

Tantangan pengusaha Nahdliyin tidak lagi sederhana.

Di pasar nasional, mereka menghadapi keterbatasan modal, lemahnya tata kelola, kesenjangan teknologi, rendahnya produktivitas, serta persaingan dengan korporasi yang memiliki keunggulan modal dan jaringan distribusi.

Sementara itu, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus mengubah cara perusahaan berproduksi, memasarkan barang, dan melayani konsumen.

Pengusaha yang enggan beradaptasi berisiko tertinggal, bukan semata karena kekurangan modal, melainkan karena kehilangan kecepatan membaca perubahan.

Di pasar internasional, tantangannya bahkan lebih berat.

Dunia tidak menilai produk dari besarnya organisasi yang menaungi produsennya. Pasar global menuntut kualitas, harga kompetitif, inovasi, standardisasi, kapasitas produksi, dan kepastian pengiriman.

Data pemerintah menunjukkan kontribusi UMKM terhadap ekspor Indonesia sekitar 15,7 persen, jauh lebih rendah dibandingkan kontribusinya terhadap PDB nasional. Angka tersebut merupakan statistik UMKM Indonesia secara keseluruhan, bukan khusus pengusaha Nahdliyin.

Namun, peluang tetap terbuka melalui industri halal, makanan olahan, hasil pertanian dan perikanan, fesyen muslim, ekonomi kreatif, serta jasa digital.

Sepanjang 2025, program UMKM BISA Ekspor memfasilitasi 1.217 UMKM, dengan nilai pesanan dan potensi transaksi mencapai 134,87 juta dolar AS.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pasar internasional bukan ruang yang mustahil dijangkau UMKM, sepanjang mereka memiliki kesiapan produk, pendampingan, dan jaringan perdagangan.

Pengusaha Nahdliyin tidak boleh hanya menjadi penonton ketika produk dunia membanjiri pasar sendiri. Mereka harus memiliki keberanian menjadi produsen, pemilik merek, eksportir, dan pemain dalam rantai nilai ekonomi global.

Menghidupkan Kembali Semangat Nahdlatut Tujjar

Jauh sebelum NU berdiri pada 1926, para ulama telah merintis Nahdlatut Tujjar pada 1918 sebagai ikhtiar membangun kemandirian ekonomi melalui perdagangan.

Sejarah tersebut mengajarkan bahwa perjuangan membangun umat tidak hanya berlangsung di ruang pendidikan dan dakwah, tetapi juga di pasar, ladang, dan kegiatan ekonomi.

Namun, sejarah tidak cukup untuk dikenang. Warisan yang besar harus menemukan bentuk baru agar tetap bermakna.

Jika dahulu perdagangan menjadi jalan membangun kemandirian, kini profesionalisme, teknologi, investasi, dan penguasaan pasar harus menjadi bagian dari ikhtiar yang sama.

Dalam kerangka itulah P2N perlu menawarkan lima agenda transformasi ekonomi Nahdliyin: membangun basis data pengusaha secara nasional; mengonsolidasikan UMKM berdasarkan sektor dan wilayah; memperkuat pembiayaan serta investasi produktif; mempercepat digitalisasi dan profesionalisasi manajemen; serta membuka jaringan perdagangan nasional dan internasional.

Pesantren dapat menjadi salah satu simpul pengembangan melalui pendidikan kewirausahaan, inkubasi bisnis, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan.

Keberhasilan agenda tersebut tidak cukup diukur dari banyaknya pertemuan, pelatihan, atau penandatanganan kerja sama.

Ukuran sesungguhnya adalah bertambahnya perusahaan yang tumbuh, meningkatnya produktivitas, terbukanya lapangan kerja, serta meluasnya pasar yang mampu dijangkau.

Dari Kebesaran Komunitas Menuju Keunggulan Ekonomi

P2N memiliki peluang untuk menawarkan pendekatan baru dalam penguatan ekonomi Nahdliyin: bukan sekadar menghimpun pengusaha, melainkan menghubungkan kekuatan mereka dalam jaringan bisnis yang profesional dan produktif.

UMKM harus menjadi fondasi, perusahaan menengah menjadi penggerak pertumbuhan, sementara korporasi besar dapat menjadi jembatan menuju investasi, teknologi, dan pasar internasional.

Dengan demikian, yang kecil memperoleh kesempatan tumbuh, yang menengah memiliki ruang berkembang, dan yang besar ikut memperluas manfaat ekonomi.

Kekuatan Nahdliyin tidak cukup hanya dirayakan melalui besarnya jumlah warga, luasnya jaringan, atau panjangnya sejarah. Seluruh potensi itu harus mampu menjelma menjadi kemandirian ekonomi yang nyata.

Sebagaimana refleksi yang mengingatkan kita pada hakikat persaingan:

«“Kita boleh berbangga memiliki jutaan pengusaha, tetapi jangan sampai kebanggaan itu membuat kita lupa menghitung berapa yang benar-benar berdaya. Sebab dalam persaingan dunia, sejarah memberi kita akar, persaudaraan memberi kita kekuatan, tetapi ilmu, inovasi, dan profesionalisme menentukan sejauh mana kita mampu melangkah.”

— Purwanto M. Ali»

Pada akhirnya, masa depan ekonomi Nahdliyin tidak ditentukan oleh berapa juta pengusaha yang dimiliki, melainkan oleh berapa banyak yang mampu tumbuh, naik kelas, menguasai pasar, dan bersaing dalam perekonomian dunia.

Di sanalah gagasan P2N menemukan maknanya: menjadikan persaudaraan sebagai kekuatan, kewirausahaan sebagai gerakan, dan kemandirian ekonomi sebagai jalan menuju kesejahteraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

slot gacor

https://jcs.greenpublisher.id/

slot gacor

shiowla

rokokbet

rokokbet

rokokbet

rokokbet

rokokbet

https://ejournal.staiat-tahdzib.ac.id/

SLOT88

slot gacor

https://ejournal.grondwet.id/

slot gacor

https://ojs.ub.rub.de/

slot gacor

https://ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id/index.php/JKK

https://buddhidharma.com/

The Gaia Hotel Bandung

https://isnujombang.org/

https://sushiteigroup.org/

https://kinleybistro.org/

https://ojs.ejournalunigoro.org/

https://buslistrikmedan.id/area-cctv/

https://nanyangroastery.com/

https://bistronomix.org/

https://palmbeachseafood.org/

https://ktbfuso.org/

https://tbpnickel.org/

https://chandra-asri.org/

https://akashainternational.org/

https://kementeriankehutanan.com/

https://hipmibandung.com/

https://kopdesa.org/

https://jurnalkaltim.com/

https://indonesiadanantara.org/

https://kementerianluarnegeri.com/

https://kementerianpertahanan.org/

https://kawanlama.org/

https://langhamhotels.org/

https://kempinskihotel.com/

https://zhmhotel.com/

https://henshinjkt.com/

https://idaijakarta.org/

https://iaingorontalo.id/

https://iainptk.id/

https://iaincurup.id/

https://iainpalopo.id/

https://revistas.unbosque.edu.co/

slot gacor

https://ucronias.unpaz.edu.ar/

rokokbet

https://vestnik.kbsu.ru/

https://ctmd.psypharma.ru/

ROKOKBET

https://jgp.ejournal.unri.ac.id/

SLOT88

https://jurnal.eka-prasetya.ac.id/

https://ejournalstisnuaceh.com/

https://ejss.eminentjournals.com/

https://sep.ejournal.unri.ac.id/

ROKOKBET

ROKOKBET

https://ejbm.eminentjournals.com/

ROKOKBET

https://plus.architecturalperiodicals.com/

https://journal.elsaonline.com/

https://sandiegohills.org/

https://publish.scholarsin.com/

ROKOKBET

https://rokokesse.com/

https://rokokhs.com/

https://rokokbetlogin.com/

https://rokokbetaman.com/

https://rokokbetmerah.com/

https://negotiations.nbu.ac.in/

https://ojs.ejournalunigoro.com/index.php/sintesi

https://revistatecie.crea-pr.org.br/

SITUS TOTO

slot gacor

https://jurnal.una.ac.id/

https://jurnal.feb.unila.ac.id/

https://acoustics.ippt.gov.pl/

https://et.ippt.pan.pl/

ROKOKBET

ROKOKSLOT

ROKOKBET

SLOT88

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D