Oleh: Ustadz Imron Ahmadi, S.Ag.
*******
Menjelang peringatan Hari Santri, ingatan kita kembali tertuju pada denyut nadi pesantren. Sebuah kawah candradimuka tempat jutaan jiwa menempa diri. Di balik bilik-bilik sederhana dan deretan kitab kuning, ada satu nilai agung yang dijaga turun-temurun dengan penuh kehormatan: adab dan akhlak.
Prinsip abadi الأدَبُ فَوْقَ العِلْمِ
(Adab itu berada di atas ilmu) bukan sekadar semboyan di dinding pesantren, melainkan napas kehidupan santri. Mengapa demikian? Karena ilmu setinggi langit tanpa dilandasi adab ibarat pelita tanpa minyak. Ia tak mampu menerangi kegelapan, bahkan bisa membakar diri sendiri. Semangat Hari Santri adalah momentum terbaik bagi kita untuk merawat kembali warisan adab para ulama Nusantara yang luhur.
Tradisi pesantren dalam mengutamakan adab berakar kuat pada sumber utama ajaran Islam. Berikut spirit yang menegaskan esensi perlunya adab dikembangkan terlebih dahulu.
1. Kemuliaan Akhlak sebagai Standar Kesempurnaan Manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Muhammad SAW bukan semata karena keluasan ilmu beliau, melainkan karena keagungan akhlaknya, sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Ayat ini menjadi mercusuar bagi setiap santri bahwa puncak dari pencapaian spiritual dan intelektual diukur dari kelembutan budi pekertinya.
2. Misi Utama Kenabian untuk Menyempurnakan Akhlak.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa tujuan risalah beliau diutus ke muka bumi berporos pada perbaikan moral manusia:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad).
Hadis ini mengukuhkan bahwa seluruh ilmu agama dan umum yang dipelajari di pesantren harus bermuara pada keindahan akhlak kepada Allah, guru, orang tua, dan sesama makhluk.
3. Peringatan tentang Bahaya Ilmu Tanpa Amal dan Adab.
Ilmu yang tidak diiringi dengan adab dan pengamalan yang benar justru bisa menjadi bumerang. Rasulullah SAW mengajarkan doa agar kita senantiasa dilindungi dari ilmu yang hampa keberkahan:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah kenyang, dan doa yang tidak dikabulkan.”
(HR. Muslim).
4. Warisan Nasihat Salafush Shalih.
Para ulama terdahulu memberikan teladan nyata bagaimana mereka mendahulukan adab. Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah berpesan kepada seorang pemuda:
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu.” (Ibnul Mubarok dalam Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi).
Bahkan, Makhlad bin Al-Husain pernah berkata kepada Abdullah bin Mubarak:
نحن إلى كثير من الأدب أحقر منا إلى كثير من العلم
“Kita lebih butuh kepada adab yang banyak daripada sedikit ilmu.”
Menyongsong Hari Santri di era modern ini, tantangan terbesar kita bukanlah sekadar menguasai teknologi dan informasi, melainkan menjaga integritas moral. Di pesantren, seorang santri diajarkan untuk takzim kepada kiai, tawaduk kepada sesama, dan menjaga kehormatan ilmu dengan amal nyata.
Ilmu memberi kita cahaya untuk membaca dunia, namun adab memberi kita kebijaksanaan untuk merawat peradaban. Santri yang berilmu dan beradab adalah benteng moral bangsa yang cerdas akalnya, lembut hatinya, dan kokoh pendiriannya dalam membela kebenaran serta kedamaian.
Mari jadikan momentum Hari Santri ini sebagai panggilan jiwa untuk terus merawat tradisi luhur: menghiasi akal dengan ilmu, dan menyucikan hati dengan adab.
”Pohon yang lebat buahnya akan merunduk ke tanah, begitu pula santri. Semakin tinggi ilmu yang diraihnya, seharusnya ia semakin rendah hati, berbakti kepada negeri, dan berakhlak mulia.”
Wallohul Muwaffiq ilaa Aqwamit Thoriq.





