Oleh: Ustadz Imron Ahmadi, S.Ag.
*********
Di tengah cepatnya arus informasi dan tingginya dinamika kehidupan modern, tanpa sadar mata dan pikiran kita sering kali terperangkap pada hal-hal yang salah. Kita begitu cepat menangkap kekurangan, merujuk kesalahan, hingga menguliti aib orang lain.
Padahal, semakin kita sibuk menilai dan mengurusi hidup orang lain, semakin sempit rasa damai di dalam dada. Energinya habis untuk menghakimi, sementara diri sendiri tertatih tanpa perbaikan.
Sebuah renungan bijak dari Khalifah Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah dalam kitab Shifatus Shafwa menjadi cermin jernih bagi kita:
”Kesalahan terburuk kita adalah ketertarikan kita kepada kesalahan dan aib orang lain.”
Keinginan untuk mencari-cari celah orang lain bukanlah sekadar kebiasaan buruk biasa, melainkan penyakit hati yang ditegaskan larangannya oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ
Yang Artinya:
”Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain”.
Menuruti rasa ingin tahu terhadap cela sesama hanya akan menumbuhkan benih-benih iri, fitnah, dan permusuhan yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.
Islam mengajarkan kita sebuah seni kehidupan yang sangat indah dengan menjaga kehormatan orang lain dan berfokus pada kualitas diri sendiri.
1. Jaminan Perlindungan dari Allah.
Bagi siapa saja yang memilih untuk menjaga dan menutup rapat celah saudaranya, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
”Barang siapa yang menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim).
2. Indikator Kualitas Keimanan.
Kematangan spiritual seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu mengabaikan hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi perbaikan dirinya:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
”Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi).
Kunci untuk dapat berubah prasangka buruk yang sering muncul dalam diri kita antara lain:
- Ganti Kaca Pembesar dengan Cermin. Sebelum melihat celah orang lain, jadikan setiap momen sebagai ajang introspeksi (muhasabah).
- Alihkan waktu yang terbuang untuk mengomentari orang lain menjadi energi produktif untuk menata karya, ibadah, dan keluarga.
- Suburkan Prasangka Baik (Husnuzhan). Hati yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orang lain adalah kunci utama untuk meraih ketenangan hidup.
Kesuksesan sejati di dunia dan akhirat tidak diukur dari seberapa banyak kita tahu tentang kelemahan orang lain, melainkan dari seberapa giat kita memperbaiki kelemahan diri sendiri.
Mari kita bersihkan hati, jaga lisan, dan fokus meniti jalan perbaikan demi meraih ridha-Nya.





