Menangkap Esensi Haji dan Semangat Pengorbanan di Bulan Dzulhijjah

Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag

*********

​Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan penghulu segala hari, Sayyidul Ayyam, di dalam salah satu bulan yang paling mulia, yakni bulan Dzulhijjah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

​Dzulhijjah bukan sekadar bulan penutup dalam kalender Hijriyah, melainkan sebuah puncak spiritual bagi umat Islam. Di bulan inilah, rukun Islam disempurnakan melalui ibadah haji. Allah SWT mengistimewakan sepuluh hari pertama bulan ini melebihi hari-hari lainnya dalam setahun. Begitu agungnya waktu ini, hingga Allah SWT bersumpah di dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2:

​وَالْفَجْرِۙ . وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ
​“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2).

Mayoritas ahli tafsir menegaskan bahwa malam yang sepuluh ini adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

​Rasulullah SAW juga bersabda tentang dahsyatnya pahala amal saleh di waktu ini:

​مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ
​“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari).

​Saat ini, jutaan saudara seiman kita dari seluruh penjuru dunia sedang atau bersiap menyambut panggilan Allah di tanah suci Mekah. Ibadah haji adalah miniatur padang Mahsyar, sebuah momentum yang meruntuhkan segala bentuk kasta, warna kulit, dan status sosial. Semua manusia memakai pakaian yang sama, kain ihram putih tanpa jahitan, mendengungkan kalimat yang sama:

​لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ
​“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu.”

​Bagi kita yang belum atau belum kembali diberangkatkan ke tanah suci, Allah SWT tidak menutup pintu keberkahan. Kita dikerahkan untuk bersinergi melalui getaran spiritual yang sama melalui amalan-amalan utama, khususnya madrasah puasa di awal bulan ini.

​Di antara sepuluh hari pertama Dzulhijjah, ada dua hari yang sangat berkelindan dengan ritual haji dan sangat dianjurkan bagi kita yang tidak berhaji untuk menghidupkannya dengan berpuasa:


​1. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah).
​Secara bahasa, Tarwiyah berarti “berpikir atau merenung”, dan bisa juga berarti “membawa air”. Secara historis-spiritual, hari Tarwiyah adalah hari di mana para jemaah haji mulai meninggalkan Mekah menuju Mina untuk mengumpulkan perbekalan air dan bermalam di sana sebelum menuju Arafah.

​Anjuran puasa Tarwiyah ini bersandar pada keumuman perintah Rasulullah SAW untuk berpuasa di 9 hari pertama Dzulhijjah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh sebagian istri Nabi SAW:

​كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ
​“Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah dan hari Asyura.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
​Melalui puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah ini, kita membersihkan diri dari hiruk-pikuk dunia, ikut merasakan keprihatinan dan kesiapan para tamu Allah yang sedang bermalam di tenda-tenda Mina. Para ulama, termasuk dalam madzhab Syafi’i, menegaskan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah adalah sunnah yang sangat utama demi mengiringi kesunahan puasa Arafah keesokan harinya.

​2. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah).
​Keesokan harinya, ketika para jemaah haji melakukan puncak ibadah wukuf di Padang Arafah, kita disyariatkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Ini adalah bentuk ikatan batin dan empati spiritual tertinggi kita dengan para jemaah haji. Rasulullah SAW bersabda mengenai agungnya ganjaran puasa ini:

​صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
​“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).


​Perpaduan antara Puasa Tarwiyah dan Arafah adalah tangga spiritual bagi kita untuk membersihkan jiwa, mengagungkan asma Allah, dan menyelaraskan detak jantung kita dengan jutaan manusia yang sedang bersimpuh memohon ampunan di tanah suci. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 28:

​وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعلومَاتٍ
​“…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28).

​Hari Tarwiyah juga menyimpan sejarah mendalam tentang Nabi Ibrahim AS. Pada malam 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS pertama kali bermimpi menerima perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Di hari itu, beliau terus berpikir dan merenung (Yutarowwi) apakah mimpi tersebut datang dari Allah atau dari setan. Baru pada hari ke-9 (Arafah), beliau seyogianya mengetahui dan yakin (Arofa) bahwa mimpi itu benar-benar wahyu dari Allah SWT.

​Seluruh rangkaian ibadah ini adalah penyerahan total (total submission). Ketika kepastian itu hadir, ego kebapakan dan kecintaan duniawi Nabi Ibrahim dilebur demi ketaatan kepada Allah SWT.

​Bagi kita yang menjalankan ibadah kurban pada tanggal 10 hingga hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah), menyembelih hewan kurban adalah simbol menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita: sifat serakah, egois, dan sombong. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya amalan ini:

​مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ.
​“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan oleh anak Adam pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi).

​Sebagai pamungkas, ​Mari kita jadikan awal bulan Dzulhijjah ini sebagai momentum untuk menyatukan hati kita dengan atmosfer spiritual ibadah haji.
Dimulai dari mengencangkan ikat pinggang untuk berpuasa di hari Tarwiyah, dilanjutkan pada hari Arafah, hingga puncaknya kita berkurban di hari Nahr dan hari-hari Tasyrik. Jika fisik kita belum berada di Baitullah, pastikan hati, pikiran, dan amal saleh kita telah bertawaf mendekat kepada Allah SWT.

​Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk mengoptimalkan hari-hari mulia ini, menerima seluruh amal ibadah puasa, zikir, dan kurban kita, serta memberikan kesempatan bagi kita semua untuk dapat menunaikan ibadah haji ke Baitullah di waktu terbaik-Nya.
​Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D