AswajaNews – Tidak semua orang diberi kesempatan dan kemampuan untuk segera berangkat haji atau umroh ke Makkah dan Madinah. Namun menurut Gus Baha’, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat seseorang memutus harapan dan hubungan batin dengan Tanah Suci.
Dalam salah satu pengajiannya, ulama asal Rembang tersebut menjelaskan bahwa seseorang tetap bisa menunjukkan keseriusan dan rasa cintanya kepada ibadah haji, meskipun belum mampu berangkat secara langsung.
Salah satu caranya adalah dengan membantu atau memberi uang saku kepada orang yang akan berangkat haji maupun umroh.
“Misal kamu belum mampu berhaji, maka berilah uang orang yang berangkat haji,” tutur Gus Baha’.
Menurut beliau, langkah sederhana itu bukan sekadar memberi bantuan materi, tetapi juga menjadi bentuk cinta kepada ibadah haji dan penghormatan kepada tamu-tamu Allah SWT.
Rezeki “Ikut Sampai” ke Tanah Suci
Di tengah masyarakat, tradisi memberi sangu atau bekal kepada calon jamaah haji dan umroh memang sudah lama dikenal. Biasanya kerabat, tetangga, atau sahabat datang bersilaturahmi beberapa hari sebelum keberangkatan sambil memberikan sedikit uang saku untuk dipakai selama di Haramain.
Nominalnya mungkin tidak besar menurut ukuran sebagian orang, namun bagi jamaah—terutama yang berangkat dengan keterbatasan biaya—hal tersebut sering kali sangat berarti.
Dalam sudut pandang spiritual, kebiasaan ini diyakini membawa keberkahan tersendiri.
Kalaupun fisik seseorang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, setidaknya sebagian rezekinya telah “lebih dulu sampai” ke sana melalui orang yang berangkat. Banyak orang meyakini bahwa hal tersebut seperti membuka jalan dan frekuensi menuju Baitullah.
Bahkan tidak sedikit yang mengaku setelah rutin membantu jamaah haji atau umroh, lambat laun Allah SWT benar-benar membuka jalan bagi dirinya untuk berangkat ke Tanah Suci.
Gus Baha’ menjelaskan bahwa pandangan tersebut berangkat dari kaidah fikih:
“Jika tidak mampu ideal, maka jangan tinggalkan semuanya.”
Artinya, ketika seseorang belum mampu menunaikan ibadah haji secara sempurna, bukan berarti ia harus benar-benar menjauh dari segala hal yang berkaitan dengan haji.
Minimal, seseorang tetap bisa ikut merasakan kebahagiaan orang yang berhaji, mendoakan mereka, membantu keberangkatan mereka, atau menghormati para tamu Allah.

Menurut Gus Baha’, logika ini terkadang sulit dipahami sebagian masyarakat modern.
“Orang yang mampu berhaji kok malah disantuni oleh orang yang belum mampu berhaji?” begitu kira-kira pertanyaan yang sering muncul.
Namun dalam logika hikmah agama, hal itu justru menjadi tanda kecintaan seseorang kepada syiar haji dan Tanah Suci.
Dalam ceramahnya, Gus Baha’ juga menceritakan pengalaman pribadinya. Meski dahulu sempat diminta ayahnya untuk mondok di Makkah, beliau memilih tetap menuntut ilmu di Indonesia.
Akan tetapi, beliau tetap memberikan uang saku kepada teman-temannya yang berangkat belajar ke Makkah.
Dengan gaya khas yang humoris, beliau berkata:
“Saya kasih mereka uang Real. Saya akali. Karena kalau saya kasih rupiah, khawatir dibelanjakan di Indonesia,” ujarnya yang disambut tawa jamaah.
Pesan tersebut mengandung makna mendalam bahwa cinta kepada Tanah Suci tidak selalu harus dimulai dengan keberangkatan fisik. Kadang, ia dimulai dari rasa hormat, doa, kebahagiaan melihat orang lain beribadah, hingga menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu perjalanan mereka.
Karena bisa jadi, dari langkah kecil itulah Allah SWT membuka jalan seseorang menjadi tamu-Nya di kemudian hari.





