Aswajanews – Di balik riuh persiapan pemberangkatan 565 jamaah haji Kabupaten Ponorogo tahun 2026, terselip sebuah catatan indah tentang niat suci yang dirawat belasan tahun lamanya. Tahun ini, perhatian publik tertuju pada sosok Tsurayya Ufairotum- marwa, remaja berusia 15 tahun yang tercatat sebagai jamaah haji termuda dari Bumi Reog.
Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Ponorogo, H. Marjuni, M.Pd.I. Melalui pesan singkatnya, beliau membenarkan bahwa jamaah termuda tahun ini adalah seorang pelajar asal Desa Bajang, Mlarak. Tsurayya masih berumur 15 tahun, ia didaftarkan oleh orang tuanya saat masih berusia 2 tahun.
Niat Suci Sejak Balita
Lahir pada pertengahan Juli 2010, Tsurayya kini bersiap melintasi samudera menuju Makkah di usianya yang masih remaja. Namun, keberangkatan ini bukanlah rencana singkat yang muncul tiba-tiba.
Empat belas tahun yang lalu—saat Tsurayya masih balita berusia 2 tahun—kedua orang tuanya, Bapak Munif Arfawi dan Ibu Elfi Muawanah, telah menanamkan investasi akhirat dengan mendaftarkannya ke dalam antrean tamu Allah. Kini, kesabaran itu membuahkan hasil yang manis. Tsurayya melangkah ke Tanah Suci tidak sendirian; ia berangkat dalam dekapan keluarga bersama ketiga saudaranya.
Salah satu pendamping setianya dalam perjalanan ini adalah sang kakak, Tabina Nabahatul Wasyfa. Sebagai sesama siswi MA Al Islam Joresan yang duduk di kelas XII, perjalanan haji tahun ini terasa sangat emosional bagi Tabina.
Baru saja menuntaskan seluruh rangkaian ujian akhir sekolah, Tabina akan berada di tanah haram saat pengumuman kelulusan tiba pada 4 Mei 2026 mendatang. Baginya, sujud di depan Ka’bah adalah cara terbaik untuk merayakan keberhasilan akademis sekaligus menutup masa sekolah dengan penuh syukur.
Tergabung dalam rombongan 2 regu 8 pada kloter SUB 19, kakak beradik ini dijadwalkan memulai perjalanan spiritual mereka dari depan Pendopo Kabupaten Ponorogo pada 26 April 2026, pukul 01.30 WIB.
Keberangkatan Tsurayya dan Tabina bukan sekadar perjalanan fisik menuju Arab Saudi, melainkan bukti nyata bagaimana mimpi spiritual yang dirancang orang tua sejak dini dapat menjadi kenyataan. Bagi keluarga besar MA Al Islam Joresan, keduanya adalah simbol bahwa usia muda bukanlah halangan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Selamat jalan, Dhuyufurrahman. Semoga menjadi haji yang mabrur dan membawa keberkahan bagi keluarga serta almamater tercinta.
Labbaik Allahumma Labbaik. (iim)





