AswajaNews – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik atau TKA SD/MI 2026 mencatat tingkat partisipasi tinggi di berbagai daerah. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kesiapan sekolah dasar dalam mengikuti asesmen nasional, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk melihat pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat pelaksanaan TKA SD/MI 2026 berlangsung lancar dan tertib di banyak wilayah. Tingginya keikutsertaan peserta didik dinilai mencerminkan kerja sama antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan asesmen tersebut.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih dari 48 ribu siswa dari ribuan sekolah mengikuti TKA. Sebagian besar peserta menjalani asesmen melalui sistem daring mandiri, yang menunjukkan adanya peningkatan kesiapan infrastruktur digital di tingkat sekolah dasar.
Partisipasi tinggi juga terlihat di Riau. Di daerah tersebut, tingkat keikutsertaan siswa dilaporkan mendekati 100 persen dengan pelaksanaan yang berlangsung tertib dan kondusif. Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa banyak sekolah mulai mampu menyesuaikan diri dengan pelaksanaan asesmen berbasis sistem yang lebih modern.
Meski begitu, tingginya angka partisipasi tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai tanda pemerataan kualitas pendidikan. Di sejumlah daerah, terutama wilayah tertinggal dan terpencil, masih terdapat sekolah yang menghadapi keterbatasan fasilitas, akses teknologi, hingga kebutuhan berbagi sarana dengan sekolah lain.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa TKA SD/MI 2026 tidak hanya menjadi alat ukur kemampuan murid, tetapi juga cermin kesiapan ekosistem pendidikan secara lebih luas. Sekolah yang memiliki infrastruktur memadai tentu lebih mudah mengikuti asesmen, sementara sekolah dengan keterbatasan masih membutuhkan dukungan tambahan.
Di sisi lain, semangat murid dalam mengikuti TKA menjadi catatan positif. Di wilayah terpencil seperti Papua, sejumlah siswa bahkan harus menempuh perjalanan sulit, termasuk menyeberangi laut, untuk dapat mengikuti asesmen. Hal ini memperlihatkan bahwa motivasi belajar peserta didik tetap tinggi, meski sistem pendukung pendidikan belum sepenuhnya merata.
TKA sendiri tidak dirancang sebagai penentu kelulusan siswa. Asesmen ini digunakan sebagai alat diagnosis untuk memetakan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik secara nasional. Dengan demikian, hasil TKA diharapkan dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran.
Partisipasi tinggi dalam TKA SD/MI 2026 menjadi capaian penting, tetapi juga menyisakan pekerjaan rumah besar. Pemerintah perlu memastikan bahwa peningkatan keikutsertaan siswa berjalan seiring dengan pemerataan fasilitas, penguatan kompetensi guru, dan dukungan teknologi di seluruh daerah.
Dengan evaluasi yang tepat, TKA SD/MI 2026 dapat menjadi instrumen penting untuk memperbaiki mutu pendidikan dasar. Bukan sekadar formalitas nasional, asesmen ini diharapkan benar-benar menjadi dasar pengambilan kebijakan agar kualitas pendidikan di Indonesia semakin merata.***





