AswajaNews – Pacitan memasuki 2026 dengan dua arah gerak pembangunan yang sama-sama menonjol. Di satu sisi, pemerintah daerah mulai membuka jalan bagi proyek energi besar melalui rencana pembangunan PLTA pumped storage berkapasitas 1.000 megawatt oleh PLN.
Di sisi lain, Pemkab juga mendorong penguatan identitas sosial-keagamaan lewat peluncuran program Sekolah Sak Ngajine (SSN). Dua agenda ini memperlihatkan bahwa Pacitan tidak hanya berbicara tentang investasi dan infrastruktur, tetapi juga tentang penguatan karakter sosial lokal.
Rencana proyek energi itu diumumkan Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan pada 24 Februari 2026. Dalam keterangannya, Setda menyebut PT PLN (Persero) berencana membangun PLTA Pomped Storage di Pacitan dengan kapasitas 1.000 MW, yang disampaikan dalam pertemuan tim PLN dengan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji. Pengumuman ini menandai masuknya Pacitan ke peta proyek energi strategis berkapasitas besar.
Hampir bersamaan, Pemkab Pacitan juga meluncurkan program Sekolah Sak Ngajine (SSN) pada 10 Maret 2026. Program ini dirancang sebagai integrasi madrasah diniyah ke dalam pembelajaran sekolah formal, termasuk pengajaran baca Al-Qur’an dan fiqih.
Dalam rilis resmi Pemkab, SSN disebut sebagai bentuk implementasi penguatan pendidikan keagamaan dan bahkan dipandang sebagai program percontohan di Pacitan.
Kombinasi dua perkembangan itu memberi gambaran bahwa arah Pacitan pada 2026 tidak bergerak di satu jalur saja. Pemerintah daerah tampak mencoba menyeimbangkan dorongan investasi skala besar dengan upaya menjaga fondasi sosial masyarakat.
Satu sisi mengarah pada masa depan infrastruktur dan kebutuhan energi, sementara sisi lain menegaskan pentingnya nilai, tradisi, dan pembinaan generasi muda.
Bila dibaca bersama, langkah ini menunjukkan Pacitan sedang membangun narasi baru: daerah yang membuka diri terhadap proyek besar, tetapi tetap ingin menegaskan jati diri lokalnya.
Karena itu, 2026 menjadi tahun yang menarik bagi Pacitan, bukan hanya karena hadirnya rencana PLTA 1.000 MW, tetapi juga karena upaya memperkuat identitas sosial-keagamaan melalui SSN.***

