AswajaNews – Berbicara tentang Kabupaten Mojokerto bukan sekadar membahas wilayah administratif di Jawa Timur, melainkan membuka kembali memori kolektif tentang kejayaan Nusantara. Wilayah ini adalah saksi bisu berdirinya imperium besar, Kerajaan Majapahit, yang pengaruhnya menjangkau hingga mancanegara.
Kabupaten Mojokerto, khususnya wilayah Trowulan, diyakini para ahli sejarah sebagai pusat pemerintahan (ibu kota) Kerajaan Majapahit.
Berbagai penemuan arkeologis seperti candi, kolam segaran, hingga gapura-gapura megah menunjukkan bahwa Mojokerto adalah pusat peradaban, ekonomi, dan politik pada abad ke-13 hingga ke-15.
Konsep tata kota kuno di Trowulan bahkan disebut sebagai salah satu yang tercanggih di masanya, dengan sistem drainase dan pemukiman yang teratur.
Bagi Pemerintah Kabupaten Mojokerto, tanggal 9 Mei diperingati sebagai Hari Jadi. Penetapan ini memiliki landasan historis yang sangat valid, yaitu Prasasti Canggu (Prasasti Prapancasapura) yang berangka tahun 1256 Saka atau 9 Mei 1349 Masehi.
“Prasasti Canggu mencatat tentang penetapan desa-desa di pinggir sungai (naditira pradeca) sebagai daerah otonom yang dibebaskan dari pajak. Hal ini menunjukkan kemajuan administrasi pemerintahan di Mojokerto sejak zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk.”
Prasasti ini menjadi bukti otentik bahwa sejak masa lampau, Mojokerto telah memiliki sistem kemasyarakatan yang terstruktur dan diakui secara hukum oleh kerajaan.
Pasca-runtuhnya Majapahit, kejayaan Mojokerto tidak meredup begitu saja. Di era kolonial Belanda, wilayah ini bertransformasi menjadi pusat industri gula yang besar. Kesuburan tanahnya menjadikan Mojokerto sebagai salah satu tulang punggung ekonomi di Jawa Timur pada abad ke-19.
Saat ini, Kabupaten Mojokerto terus bersinergi antara pelestarian situs sejarah sebagai “Spirit of Majapahit” dengan pembangunan industri modern. Kehadiran berbagai situs candi seperti Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, dan Candi Brahu menjadi daya tarik wisata sejarah utama yang memperkuat jati diri wilayah ini.
Nama Mojokerto sendiri sering diartikan sebagai gabungan dari kata “Mojo” (pohon Maja) dan “Kerto” (tata tentram/makmur). Nama ini seolah menjadi doa dan harapan agar wilayah ini selalu menjadi tempat yang damai dan sejahtera, sebagaimana kejayaannya di masa lalu.***





