AswajaNews – Di tengah riuhnya pilihan tempat berbuka puasa modern, ada satu destinasi kuliner tradisional yang tetap menarik perhatian dan layak masuk dalam daftar rekomendasi bukber tahun ini: Ayam Panggang Sragi Ndadhapan.
Terletak di Jalan Asem Telu, Banaran, Desa Sragi, Kecamatan Sukorejo, resto ini tidak hanya menyajikan hidangan ayam panggang bumbu khas yang melegenda, tetapi juga menawarkan pengalaman bersantap yang estetis dan damai di tengah nuansa pedesaan yang asri cocok untuk berbuka bersama keluarga, sahabat, atau rombongan besar.
Begitu memasuki area kuliner yang berada di belakang Balai Desa Sragi ini, pengunjung akan disambut oleh aroma khas ayam yang dipanggang perlahan di atas tungku kayu bakar. Metode tradisional ini menjadi kunci kenikmatan rasa yang autentik, karena panas bara kayu membuat bumbu meresap sempurna hingga ke dalam serat daging, menghasilkan cita rasa gurih dan sedikit smoky yang tidak bisa ditiru dengan cara modern.
Garang asem yang disajikan dalam bambu juga menjadi daya tarik tersendiri, menghadirkan sensasi rasa pedas asam yang berpadu harmonis dengan tekstur ayam panggang yang lembut.
Suasana di Ayam Panggang Sragi Ndadhapan menghadirkan suasana tempo dulu yang nyaman dan tenang. Pengunjung sekarang bisa memilih tempat duduk di gazebo, di area lesehan dekat kolam, area lantai dua atau di area joglo bergaya tradisional yang menambah nuansa hangat dan akrab saat berbuka puasa.
Hal inilah yang membuat resto ini disebut sebagai hidden gem atau “warung kuliner tersembunyi” yang justru semakin ramai dikunjungi setelah viral di media sosial. Banyak food vlogger dan pengunjung dari luar kota yang sengaja datang hanya untuk menikmati cita rasa autentik dan suasana khas pedesaannya.
Tidak hanya soal rasa dan suasana, harga di resto ini terbilang ramah di kantong. Menu seperti ayam panggang setengah ekor maupun garang asem bisa dinikmati dengan harga yang masuk akal, sekalipun porsinya memuaskan. Pengunjung bahkan bisa memesan ayam panggang utuh untuk acara keluarga atau buka bersama skala besar.
Metode tradisional yang dipakai yakni memanggang ayam kampung segar di tungku tanah liat memberikan tekstur yang empuk sekaligus mempertahankan rasa asli daging, sehingga cocok untuk disantap bersama nasi hangat dan sambal favorit saat berbuka puasa.
Menjelang Maghrib, area resto ini mulai ramai dipadati pengunjung yang datang dari berbagai penjuru Ponorogo maupun luar kota. Banyak yang memilih mampir dulu untuk menikmati sore hari sambil menunggu adzan berbuka. Sensasi makan bersama di tengah suasana pedesaan yang teduh, ditemani aroma bakaran kayu dan suara alam, menciptakan pengalaman berbuka yang tidak hanya memuaskan perut, tetapi juga memberi ketenangan hati di bulan suci.
Di balik tampilannya yang sederhana, Ayam Panggang Sragi Ndadhapan berhasil menarik perhatian banyak pecinta kuliner karena kombinasi cita rasa otentik, suasana heritage yang estetik, serta sensasi tradisional yang kental.
Bagi warga Ponorogo dan sekitarnya yang mencari tempat buka bersama dengan sentuhan klasik dan suasana damai, resto ini bisa menjadi pilihan tepat untuk menyudahi puasa dengan kenangan rasa yang khas dan penuh kehangatan.





