Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag (Sekretaris LP Ma’arif NU Ponorogo – Kepala MA Al Islam Joresan)
Pernahkah kita merenungkan mengapa setiap kali hilal Ramadhan tampak, suasana seketika berubah? Tidak hanya masjid yang menjadi penuh, tapi jalanan pun mendadak ramai. Munculnya para “pedagang dadakan”—mulai dari penjual takjil di pinggir jalan hingga pasar kaget—bukanlah sekadar fenomena musiman biasa. Inilah bukti nyata bahwa Ramadhan adalah bulan keberkahan (Mubarak) yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan, termasuk urusan dapur dan ekonomi rakyat.
Sehingga, jika kita memperhatikan wajah kota dan desa kita di sore hari selama Ramadhan, kita akan melihat pemandangan yang menakjubkan. Trotoar yang biasanya sepi, mendadak penuh dengan aroma gorengan, warna-warni es buah, dan senyum para pedagang dadakan. Fenomena ini bukan sekadar urusan perut, melainkan bukti nyata bagaimana keberkahan Ramadhan menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara masif.
1. Keseimbangan Dunia dan Akhirat.
Allah SWT memberikan garis panduan yang sangat indah dalam Surah Al-Qashas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ….
”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”
Ayat ini mengajarkan kita bahwa menjadi shaleh tidak berarti harus menjadi miskin. Ramadhan justru mendidik kita untuk menjadi produktif. Para pedagang yang menjajakan takjil, mereka sedang menjemput “bahagian duniawi” mereka. Namun, karena dilakukan di bulan suci dengan niat melayani orang yang berpuasa, aktivitas dagang itu berubah menjadi “kendaraan” menuju akhirat.
Inilah esensi dari doa yang paling sering kita lantunkan:
ربنا آتنا في الدنيا حسنة.
“Rabbana atina fiddunya hasanah.”
Kita memohon kepada Allah agar diberikan kebaikan di dunia. Kebaikan dunia itu apa? Salah satunya adalah ekonomi yang cukup, rezeki yang halal, dan perdagangan yang berkah sehingga kita tidak menjadi beban bagi orang lain.
2. Berkah yang Meluas (The Multiplier Effect).
Dalam ekonomi syariah, keberkahan itu sifatnya menular. Ketika seorang ibu menjual takjil di depan rumahnya, ia mendapatkan keuntungan. Keuntungan itu ia gunakan untuk membeli baju lebaran di pasar tradisional. Pedagang baju kemudian bisa membayar zakat mal kepada mustahik.
Inilah yang kita sebut sebagai:
… وفي الآخرة حسنة……
“Wafil akhirati hasanah.” Kebaikan di akhirat tidak datang tiba-tiba; ia dipupuk dari cara kita mengelola dunia. Saat ekonomi rakyat menggeliat, maka tangan-tangan yang memberi (sedekah) akan semakin banyak. Di situlah nilai hasanah akhirat tercipta melalui harta yang diberkahkan.
3. Etika Bisnis: Menghindari Kerusakan.
Namun, Allah memberikan peringatan tegas di ujung ayat Al-Qashas tadi:
… وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ
“…dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.”
Geliat ekonomi Ramadhan harus dijaga dari sifat serakah. Jangan sampai demi mengejar untung, kita menimbun barang atau menjual makanan yang tidak layak konsumsi. Jangan sampai karena sibuk berdagang, kita meninggalkan shalat tarawih atau mengabaikan hak jalan umum.
Jika kita berdagang dengan merusak aturan Allah, maka kita justru sedang mendekatkan diri pada api neraka. Padahal, setiap doa kita ditutup dengan permohonan yang amat sangat:
…وقنا عذاب النار.
“Waqina ‘adzabannar”—dan lindungilah kami dari siksa api neraka. Jangan sampai harta yang kita kumpulkan di bulan Ramadhan justru menjadi bahan bakar api neraka karena cara mendapatkannya yang tidak halal atau penuh kelicikan.
Kesimpulan.
Keberkahan Ramadhan adalah jembatan yang menghubungkan langit dan bumi. Melalui syariat puasa, Allah menggerakkan hati orang untuk membeli, dan menggerakkan tangan orang untuk memberi.
Mari kita jadikan geliat ekonomi ini sebagai sarana syukur. Mari kita buktikan bahwa dengan berdagang yang jujur dan konsumsi yang tidak berlebihan, kita benar-benar sedang mempraktikkan doa:
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
”Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia (melalui rezeki yang halal), kebaikan di akhirat (melalui pahala ibadah), dan jagalah kami dari siksa api neraka.”
Semoga Ramadhan tahun ini membawa kemakmuran bagi para pedagang kecil, kecukupan bagi kaum dhuafa, dan keberkahan bagi kita semua.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq



