Aswajanews — Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melalui program Pengabdian kepada Masyarakat menggelar Workshop Satu Hari bertema tentang GEDSI dalam Ecoteologi Feminis (Senin, 5/9/2026). Kegiatan yang difasilitasi oleh Wasingatu Zakiyah, MA, Direktur Caksana Institute, ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta mengenai pendekatan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) berbasis Participatory Intersectional Action Research (PIAR).
Dalam pemaparannya, Wasingatu Zakiyah menekankan pentingnya perhatian serius dalam perencanaan pembangunan yang responsif terhadap bencana. Ia mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim dan bencana tidak bersifat netral. Perempuan, penyandang disabilitas, anak-anak, dan lansia sering kali menanggung beban lebih berat akibat hambatan akses, mobilitas, informasi, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
“Kelompok rentan bukan sekadar objek yang perlu dibantu. Mereka harus menjadi subjek utama dalam perencanaan adaptasi iklim dan penanganan bencana. Tanpa analisis interseksional, program pemberdayaan berisiko melanggengkan marjinalisasi di dalam kelompok itu sendiri,” tegas Wasingatu Zakiyah.
Workshop dan training tersebut mengupas konsep GEDSI secara utuh—mencakup akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat—serta teori interseksionalitas Kimberlé Crenshaw. Peserta diajak memahami akar pemikiran ecoteologi feminis yang merujuk tokoh seperti Françoise d’Eaubonne, Vandana Shiva, dan Rosemary Radford Ruether, lalu menautkannya dengan nilai-nilai keislaman.
Titik temu yang digarisbawahi meliputi konsep khalifah fil ardh (QS. Al-Baqarah: 30) sebagai pengelola bumi, mizan atau keseimbangan alam (QS. Ar-Rahman: 7-9), larangan fasad fil ardh (QS. Ar-Rum: 41), serta kesetaraan amal saleh (QS. An-Nahl: 97). Rujukan akademik Nur Arfiyah Febriani mengenai ekologi berwawasan gender dalam perspektif Al-Qur’an juga menjadi landasan diskusi.
Melalui studi kasus, simulasi peran, dan social mapping partisipatif, peserta dilatih menganalisis hambatan partisipasi kelompok rentan dalam musyawarah desa terkait adaptasi perubahan iklim. Mereka kemudian merumuskan kerangka operasional PIAR yang dapat diterapkan di organisasi atau komunitas masing-masing, dengan indikator keberhasilan yang menempatkan kelompok rentan sebagai aktor perubahan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pascasarjana UIN Ponorogo membangun kesadaran kritis dan keberdayaan masyarakat dalam menghadapi krisis iklim. Wasingatu Zakiyah menutup dengan pesan bahwa pembangunan ekosistem yang baik dan responsif bencana hanya akan berhasil jika suara perempuan, disabilitas, anak, dan lansia benar-benar didengar serta dilibatkan sejak tahap perencanaan. (ags)





