AswajaNews -Menjelang Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU mulai menghangat dengan sejumlah nama kiai dan tokoh organisasi mulai diperbincangkan di kalangan internal Nahdlatul Ulama, sekaligus menjadi perhatian publik dan warga Nahdliyin di seluruh Indonesia.
Informasi tersebut disampaikan oleh Gus Salam, cucu pendiri NU Bisri Syansuri, yang menyebut bahwa beberapa figur telah masuk dalam radar pencalonan berdasarkan komunikasi dan isu yang berkembang di lingkungan NU serta berbagai diskusi yang terjadi di tingkat pengurus.
Menurutnya, terdapat sejumlah nama yang disebut berpotensi maju, mulai dari dirinya sendiri hingga Ketua Umum PKB sekaligus Menko PM Muhaimin Iskandar, serta tokoh lain yang memiliki basis kuat di lingkungan pesantren dan struktur organisasi NU di berbagai daerah.
Nama lain yang ikut disebut antara lain Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf, Zulfa Musthofa, serta pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, yang dinilai memiliki pengaruh kuat di kalangan Nahdliyin dan jaringan pesantren tradisional.
Sementara itu, spekulasi juga mengarah pada tokoh dari kabinet seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar, meski disebut masih belum ada kepastian, serta Menteri Haji Muhammad Irfan Yusuf yang dikabarkan tidak berminat untuk maju dalam kontestasi tersebut karena alasan personal dan politik.
Gus Salam juga mengungkap bahwa komunikasi antarfigur yang disebut-sebut tersebut tetap terjalin dengan baik, termasuk dengan Cak Imin, Yahya Cholil Staquf, hingga sejumlah kandidat lain yang diklaim masih dalam tahap penjajakan politik organisasi dan konsolidasi internal.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan dirinya tidak akan ikut serta dalam pemilihan Ketua Umum PBNU dan memilih fokus pada tugas organisasi serta perannya sebagai Ketua OC Muktamar yang sedang dipersiapkan.
Muktamar NU ke-35 sendiri direncanakan berlangsung pada Agustus 2026, diawali Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Jawa Timur pada Juni 2026, yang menjadi tahap penting dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan.





