Oleh: Ayik Heriansyah
*********
Dalam lanskap perang postmodern, ukuran kekuatan negara tidak lagi semata ditentukan oleh jumlah pasukan atau kecanggihan alutsista yang kasat mata. Yang justru semakin menentukan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya ilmuwan dan teknokrat yang bekerja di balik layar.
Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memperlihatkan pergeseran penting ini. Perang tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di laboratorium, pusat riset, dan ruang-ruang akademik.
Iran menjadi contoh menarik bagaimana sebuah negara membangun kekuatan berbasis pengetahuan di tengah tekanan embargo dan blokade Amerika. Di bawah sanksi ekonomi dan isolasi internasional, Iran tidak memiliki banyak pilihan selain mengembangkan kemandirian teknologi. Ilmuwan Iran menjadi bagian integral dari strategi pertahanan nasional.
Peran ilmuwan Iran tampak jelas dalam pengembangan program nuklir dan teknologi rudal. Namun, di luar itu, sektor non-nuklir seperti kecerdasan buatan (AI), drone, dan sistem elektronik militer juga berkembang pesat. Ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya berfokus pada satu jenis kekuatan, tetapi membangun ekosistem sains dan teknologi yang lebih luas dan adaptif terhadap perubahan karakter perang.
Iran merespons ancaman tersebut dengan membangun sistem yang tidak bergantung pada individu semata. Dalam sektor AI dan drone, misalnya, pendekatan yang digunakan lebih bersifat kolektif. Tim riset dari militer, industri, dan universitas bekerja secara terintegrasi, sehingga kehilangan satu individu tidak serta-merta melumpuhkan keseluruhan sistem.
Di sinilah pentingnya memahami ekosistem industri militer Iran. Sistem ini bertumpu pada tiga pilar utama: kampus, industri, dan militer. Kampus menjadi sumber utama SDM dan inovasi, industri berperan mengubah riset menjadi produk, sementara militer menjadi pengguna sekaligus pemberi arah strategis. Ketiganya terhubung secara sirkular yang saling memperkuatkan.
Universitas-universitas teknik terkemuka di Iran memainkan peran sentral dalam mencetak ilmuwan di bidang fisika, teknik, dan AI. Riset yang dihasilkan tidak berhenti di ranah akademik, tetapi diarahkan untuk kebutuhan praktis, termasuk kepentingan pertahanan. Dengan demikian, kampus tidak berdiri sebagai menara gading, melainkan bagian dari sistem pertahanan dan strategi nasional yang lebih besar.
Sementara itu, industri militer Iran berada di bawah kendali negara dan terorganisasi dalam berbagai klaster darat, laut, udara, elektronik, dan rudal. Struktur ini memungkinkan integrasi vertikal dari riset hingga produksi alutsista.
Militer, khususnya Garda Revolusi Islam Iran berfungsi sebagai pengguna sekaligus integrator teknologi. Mereka tidak hanya menerima produk dari industri, tetapi juga memberikan umpan balik operasional yang menentukan arah riset selanjutnya. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan tidak bersifat teoritis, melainkan langsung teruji dalam kebutuhan nyata di lapangan.
Kekuatan lain dari sistem ini adalah kemampuannya memanfaatkan teknologi “dual-use”, yaitu teknologi sipil yang dapat dialihkan ke kepentingan militer. AI, komunikasi digital, dan drone adalah contoh nyata. Riset yang awalnya ditujukan untuk kebutuhan sipil dapat dengan cepat diadaptasi menjadi instrumen pertahanan, bahkan ofensif.
Fenomena ini memberi pelajaran penting bagi Indonesia. Di kampus-kampus kita, muncul pula kelompok yang menampilkan diri sebagai “ilmuwan gerakan”, seperti HTI. Mereka bukan produsen teknologi militer secara langsung. Namun memiliki kapasitas keilmuan untuk memproduksinya. Dalam situasi genting mereka dapat menggeser kemampuan sains dan teknologi yang mereka miliki dari untuk kepentingan sipil menjadi militer.
Dalam situasi damai (normal) ilmuwan-ilmuwan HTI berperan sebagai produsen wacana ideologis. Sama seperti ilmuwan Iran yang menjadi bagian dari strategi pertahanan, ilmuwan HTI berfungsi sebagai aktor jaringan yang menghubungkan kampus dengan gerakan politik transnasional.
Walhasil, pelajaran dari Iran dan fenomena ilmuwan HTI sama-sama menegaskan bahwa SDM strategis adalah fondasi kekuatan negara. Bedanya, Iran mengarahkan ilmuwannya untuk membangun teknologi pertahanan, sementara HTI mengarahkan “ilmuwannya” untuk membangun ideologi khilafah.
Tantangan bagi Indonesia adalah bagaimana menjaga kampus sebagai ruang akademik yang produktif, kritis, dan berbasis data, tanpa terjebak dalam homogenisasi ideologi. Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan dan mampu melindungi integritasnya, dialah yang memiliki peluang terbesar untuk bertahan dalam konflik global (Iran) maupun konflik wacana (HTI).



