AswajaNews – Kabupaten Kediri bukan sekadar titik geografis di Jawa Timur, melainkan jantung peradaban besar yang telah berdenyut selama lebih dari seribu tahun. Memahami sejarah Kediri berarti membuka kembali lembaran kejayaan Nusantara di masa silam.
Jejak Awal: Pembagian Kerajaan Airlangga
Sejarah Kediri tidak lepas dari sosok Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan. Pada tahun 1042, untuk menghindari perang saudara antara kedua putranya, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua: Jenggala dan Panjalu.
Panjalu inilah yang kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri dengan pusat pemerintahan di Daha. Di bawah kepemimpinan raja-raja besar seperti Jayabaya, Kediri mencapai puncak kejayaan, terutama dalam bidang sastra dan ramalan yang melegenda hingga kini.
Penetapan Hari Jadi Berdasarkan Prasasti Kwaden
Bagi masyarakat setempat, tanggal 25 Maret dirayakan sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri. Penetapan ini tidak dilakukan sembarangan, melainkan merujuk pada data historis yang valid, yaitu Prasasti Kwaden (Prasasti Paradah).
“Prasasti Kwaden berangka tahun 843 Saka atau 25 Maret 921 Masehi. Dokumen batu ini menjadi bukti administrasi pemerintahan yang sah di wilayah Kediri sejak zaman Mataram Kuno.”
Dalam prasasti tersebut, disebutkan bahwa wilayah Paradah (sekarang di wilayah Simpang, Kediri) ditetapkan sebagai Sima atau daerah swatantra (otonom) oleh Raja Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodong. Hal inilah yang menjadi dasar yuridis penetapan usia Kabupaten Kediri yang kini telah berusia lebih dari 1.100 tahun.
Transformasi Menuju Era Modern
Setelah masa kerajaan berakhir, Kediri tetap menjadi wilayah strategis di masa kolonial Belanda hingga masa kemerdekaan. Kesuburan tanah di lereng Gunung Kelud menjadikan wilayah ini sebagai pusat perkebunan dan industri yang menopang ekonomi Jawa Timur.
Kini, dengan pembangunan Bandara Internasional Dhoho, Kabupaten Kediri bersiap kembali menjadi pusat perhatian dunia, mengulang memori kejayaan masa lalunya namun dengan wajah yang lebih modern.***





