Aswajanews – Halaman Masjid NU Ponorogo, Jawa Timur, riuh oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Muslimat dan Fatayat Nahdlatul Ulama, Sabtu (24/10/2026) hingga Minggu (25/10/2026). Bazar dua hari itu digelar untuk memeriahkan Hari Santri 2026.
Puluhan stan berjajar di halaman masjid. Pengunjung dapat menemukan kuliner olahan rumah tangga, aneka kudapan, busana muslimah, kerajinan tangan, hingga produk perawatan rumah tangga. Seluruhnya dibuat dan dijajakan oleh anggota Muslimat dan Fatayat NU Ponorogo. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari jemaah masjid, santri, hingga keluarga yang berakhir pekan, tampak memadati lokasi sejak pagi.
Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Ponorogo Imroatul Munfaridah, M.S.I. mengatakan, bazar ini menjadi ruang bagi anggota untuk menunjukkan karya sekaligus memperluas pasar. ” Dengan adanya bazar ini memberikan akses langsung UMKM perempuan NU dan promosi yang bagus,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Kecamatan Ponorogo Hj. Siti Siyami, M.Pd. Menurut dia, kegiatan ini juga mempertemukan perempuan muda dan senior dalam satu ekosistem usaha. ” Kolaborasi kegiatan lintas generasi perempuan NU ini sangat baik sebagai bentuk soliditas organisasi” katanya.
Salah satu peserta, Muslimah mengaku penjualannya meningkat selama bazar, ” Alhamdulillah ada pembeli yang baru tahu produk khas Mojokerto ini dan membeli” tuturnya.
Penguatan kapasitas
Bazar semacam ini patut diapresiasi. Hari Santri kerap dirayakan lewat upacara dan kegiatan keagamaan, tetapi Muslimat dan Fatayat NU Ponorogo menambahkan dimensi lain: kemandirian ekonomi perempuan. Santri tidak hanya dimaknai sebagai penuntut ilmu agama, tetapi juga penggerak kesejahteraan umat.
Perempuan memegang peran penting dalam perekonomian keluarga dan komunitas. Banyak UMKM di tingkat akar rumput dikelola perempuan, sering kali dari rumah, dengan modal terbatas. Karena itu, pasar yang terbuka saja belum cukup. Pelaku usaha juga memerlukan peningkatan kapasitas, antara lain pengelolaan keuangan, standar mutu dan kemasan produk, perizinan seperti NIB dan sertifikasi halal, serta pemasaran digital.
Organisasi perempuan berbasis jemaah seperti Muslimat dan Fatayat memiliki modal sosial yang kuat untuk itu: jaringan anggota yang luas, kepercayaan, dan kebiasaan bergotong royong. Modal ini dapat diperkuat lewat pelatihan berkala, pendampingan, akses pembiayaan, dan kemitraan dengan pemerintah daerah, perbankan, maupun perguruan tinggi.
Bazar dua hari ini menjadi langkah awal yang baik. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan agar semangat Hari Santri terus hidup dalam usaha-usaha kecil perempuan Ponorogo sepanjang tahun. (***)





