Oleh: Ustadz Imron Ahmadi, S.Ag
*********
Di era transformasi digital yang tumbuh pesat, arus informasi bergerak dalam hitungan detik melintasi batas-batas wilayah dan kelompok masyarakat. Namun, kemudahan serta kecepatan menyebarkan informasi sering kali tidak berbanding lurus dengan ketelitian dalam menguji kebenaran fakta. Fenomena ini kerap melahirkan prasangka, perselisihan, hingga penyebaran hoaks di tengah masyarakat. Menanggapi tantangan tersebut, gerakan edukasi publik yang mengusung “Budayakan Tabayyun” hadir sebagai pengingat krusial akan pentingnya bersikap kritis dan arif dalam mengolah setiap informasi yang diterima.
Dalam realitas sosial, tidak sedikit kasus kesalahpahaman yang dipicu oleh oknum yang sengaja “pencitraan” (mutamalliq) dan selalu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus). Orang yang gemar mencari kesalahan biasanya akan memotong narasi, memelintir fakta, dan menyampaikan cerita yang menguntungkan dirinya agar terlihat benar atau berprestasi di mata orang lain.
Prinsip tabayyun, yang secara harfiah bermakna meneliti, mengklarifikasi, dan memverifikasi hadir sebagai obat penawar sekaligus benteng penangkal dari adu domba yang dibuat oleh orang-orang bertipe demikian. Allah SWT secara eksplisit memberikan panduan metodologis bagi setiap orang beriman dalam merespons sebuah kabar agar tidak terjebak permainan orang fasiq atau orang yang gemar mencari panggung di atas penderitaan orang lain. Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
”Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (bertaqayyun-lah), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Islam juga melarang keras sikap suka mencari-cari kesalahan (tajassus) yang lazim dilakukan oleh orang yang berniat “mutamalliq”, sebagaimana firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا
”Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurot: 12).
Sikap “mutamalliq” dengan cara memburukkan orang lain di depan satu pihak dan berpura-pura baik di depan pihak lain sangat dikecam dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW menyebut perilaku bermuka dua ini sebagai salah satu sifat manusia terburuk. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاءِ بِوَجْهِ وَهَؤُلاءِ بِوَجْهِ
”Kamu akan mendapati seburuk-buruk manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang bermuka dua (dzal wajhain), yang datang kepada suatu kelompok dengan satu wajah dan datang kepada kelompok lain dengan wajah yang berbeda.” (HR. Bukhari & Muslim).
Selain itu, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat tajam terkait kebiasaan masyarakat yang gemar membagikan setiap rumor atau kabar angin tanpa proses cross-check. Membagikan informasi unverified dari orang yang suka mencari kesalahan, meskipun tanpa niat buruk, tetap dapat menyeret seseorang pada perbuatan dusta.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Kitab Shahihnya:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang ia dengar (tanpa memverifikasinya).” (HR. Muslim).
Pesan edukasi ini merangkum bahwa tabayyun adalah wujud dari hati yang bijak dan lisan yang terjaga. Ketika dihadapkan pada orang yang suka mutamalliq, pencitraan dan mencari-cari kesalahan; kebijaksanaan diwujudkan melalui tiga langkah praktis:
- Dengar dari Berbagai Sisi (Multi-perspective Listening).
Jangan langsung mempercayai aduan atau laporan dari orang yang suka mencari kesalahan. Dengarkan langsung penjelasan dari pihak yang dituduh agar narasi tidak didikte oleh orang yang bermaksud “cari muka”. - Pastikan Kebenaran Informasi (Fact-Checking).
Periksa fakta secara mandiri, cari bukti objektif, dan teliti motif pembawa berita. Jika beritanya bersumber dari prasangka atau manipulasi cerita, abaikan dan jangan beri panggung. - Jaga Lisan dan Jemari (Mindful Communication).
Jangan menjadi penyambung lidah bagi orang yang suka memfitnah. Jika sebuah informasi belum jelas atau hanya bertujuan merusak reputasi seseorang, tahan lisan dan jari dari menyebarkannya.
Hal ini selaras dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya menahan lisan dari hal yang tidak berguna atau merugikan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim).
Membudayakan tabayyun bukan hanya melatih kita menjadi kritis terhadap berita hoaks di media sosial, tetapi juga membentengi diri dari manipulasi orang-orang di sekitar kita yang suka “mutamalliq” dan mengintip kesalahan sesama. Dengan tabayyun, kita menutup celah bagi para pemfitnah dan penjilat sosial untuk merusak hubungan persaudaraan.
Dengan menjadikan tabayyun sebagai norma sosial yang mampu menjadikan masyarakat dapat merawat kedamaian, persatuan, dan keharmonisan. Mari kita terapkan prinsip utama: Saring sebelum sharing, verifikasi sebelum memercayai, dan budayakan tabayyun demi lisan yang terjaga serta hati yang damai.
Wallohu a’lam bisshowab.





