Oleh: Annas Nurian Syafii
AswajaNews – Ketika seseorang memperlihatkan mobil mewah, jam mahal, handphone mahal, pakaian bermerek, makan di tempat eksklusif, liburan, atau berfoto dengan orang tertentu, kita biasa menyebutnya dengan kata sederhana; pamer. Tetapi jika kita lihat dari kacamata sosial, ada sesuatu yang lebih menarik, yakni ia sedang mengirimkan informasi tentang dirinya kepada orang lain, bahwa ia punya uang, bahwa ia sukses, bahwa ia berhasil, bahwa ia memiliki akses, bahwa ia di lingkungan tertentu. Dalam kehidupan sosial, kepemilikan bisa berubah menjadi bahasa, dan fungsi lain dari barang/kepemilikan digunakan untuk mengatakan; inilah posisi saya.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah sepenuhnya lepas dari struktur/hierarki dalam kehidupan berkelompok, dan dalam kehidupan berkelompok ada yang lebih didengar, lebih di hormati, lebih diinginkan, lebih berpengaruh, dan ada yang lebih mudah mendapatkan akses. Hari ini mungkin kita tidak lagi hidup dalam kelompok kecil seperti nenek moyang kita pada masa purba, tetapi mekanisme sosialnya masih sama alias belum hilang. Kenyataannya kita masih memperhatikan siapa yang berada diatas, siapa yang dibawah, dan yang paling penting, dimana posisi kita sendiri. Maka kemudian, kehidupan sosial bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana orang lain menilai apa yang kita miliki.
Kepedulian terhadap posisi sosial ini kemudian menjelaskan mengapa barang mahal bisa menjadi sinyal yang begitu kuat, dan tentunya sesuatu yang mahal menghabiskan sumber daya. Namun, memiliki sumber daya saja tidak cukup. Seseorang kaya, tetapi jika tidak ada tanda yang bisa dibaca orang lain, maka kekayaannya tidak otomatis menghasilkan pengakuan sosial. Di sinilah konsep signaling menjadi relevan. Konsep ini menjelaskan bagaimana suatu tindakan yang dilakukan menggunakan sesuatu/barang untuk memberi petunjuk kepada orang lain tentang status, posisi, sumber daya, atau prestasi tertentu. (Spence, 1973).
Dalam konteks kehidupan sosial, barang yang dimilki dapat berfungsi sebagai salah satu petunjuk tersebut. Padahal, memiliki handphone yang mahal tidak otomatis membuat seseorang lebih cerdas, mobil mewah tidak otomatis membuat seseorang lebih kompeten, jam yang mahal tidak membuat waktu seseorang lebih berharga. Tetapi yang menjadi ukuran adalah kemampuan membeli dan mempertahankan kepemilikan atas benda-benda tersebut dapat menjadi petunjuk tentang status maupun sumber daya yang dimiliki seseorang. Semua orang mungkin bisa berkata, saya sukses, tetapi tidak semua orang mampu menunjukkan tanda-tanda yang secara sosial dianggap konsisten dengan kesuksesan itu. Dengan demikian manusia tidak hanya mencari status, tetapi belajar memberikan sinyal kepada orang lain dengan cara mengiklankannya sebagai petunjuk atas statusnya. Dorongan untuk mengiklankan status inilah yang kemudian terlihat jelas dalam perilaku sehari-hari.
Jika kita telusuri sedikit lebih jauh, sebenarnya yang dipamerkan bukanlah barangnya, melainkan maknanya. Perhatikan bagaimana kita berbicara tentang kemewahan. Bukan hanya Aku punya mobil, tetapi Aku mampu memiliki mobil seperti ini, bukan hanya Aku pergi ke tempat seperti ini, tapi Aku termasuk orang yang bisa berada di tempat seperti ini, dan bukan sekadar, Aku mengenal orang itu, tetapi Aku memiliki akses kepada orang seperti dia. Maka kemudian, objek dalam hal ini hanyalah medianya, pesan sebenarnya adalah sumber daya, kompetensi, akses, dan/atau posisi sosial. Karena itu, flexing tidak selalu berarti seseorang ingin menunjukkan apa yang ia miliki, terkadang seseorang yang sedang berusaha menentukan bagaimana orang lain membaca dirinya. Tentu, tidak semua bentuk konsumsi atau unggahan tentang kemewahan harus dibaca sebagai upaya mencari pengakuan. Seseorang dapat membeli sesuatu karena fungsi, kenyamanan, selera atau sekadar kesenangan pribadi. Tetapi, suatu kepemilikan sengaja ditunjukkan kepada orang lain, benda tersebut dapat memiliki fungsi sosial tambahan, yakni menjadi tanda yang ikut membentuk bagaimana seseorang ingin dipersepsikan.
Pada akhirnya, semua pola tersebut mengarah pada satu pemahaman mendasar; bahwa sesungguhnya kita tidak sedang memuaskan keinginan, melainkan kebutuhan akan pengakuan. Bayangkan seandainya tidak ada kamera, Tiktok, Instagram, atau media sosial apapun, bakal tidak ada yang tahu apa yang kita pakai, kemana kita pergi, apa yang kita punya, atau siapa yang kita kenal. Lantas, apakah semua itu masih terasa sama pentingnya? Jika jawabannya iya, mungkin memang itulah yang kita inginkan. Tetapi, jika nilainya justru berkurang ketika tidak ada yang melihat, bisa jadi yang kita cari bukan sekadar barang, melainkan pengakuan. Jadi, selama ini bisa berarti bahwa di balik flexing, ada kebutuhan yang jauh lebih purba, yaitu keinginan untuk dianggap bernilai oleh kelompok. Kita mengira sedang membeli barang, padahal kita sedang membeli posisi. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa flexing bukan sekadar pamer, melainkan sebuah bentuk komunikasi.
Daftar Pustaka
Spence, Michael. (1973). “Job Market Signaling.” The Quarterly Journal of Economics, 87 (3), 355-374.





