Aswajanews — Malam di Kota Jombang, Jawa Timur, menjadi ruang perjumpaan para alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dari berbagai daerah. Di tengah rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, para alumni PMII berkumpul dalam suasana santai melalui kegiatan Kongsi IKA PMII se-Indonesia di Bebek Pinggir Sawah Resto, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang digelar Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) tersebut berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 24.00. Tidak ada sekat formal dalam pertemuan itu. Para peserta duduk bersama, berbincang, menikmati hidangan, dan bertukar gagasan tentang organisasi maupun kehidupan kebangsaan.
Kongsi IKA merupakan kependekan dari “Kongkow dan Ngopi Santai”. Konsep tersebut sengaja dikemas lebih cair untuk mempertemukan para pengurus PW IKA PMII dari berbagai wilayah Indonesia dalam suasana kekeluargaan.
Sejumlah tokoh alumni PMII turut hadir. Di antaranya anggota DPR RI , mantan Menteri Pemuda dan Olahraga , serta . Hadir pula Sekretaris Jenderal dan Bendahara PB IKA PMII bersama jajaran pengurus lainnya.
Dari kalangan akademisi, hadir pula . Kehadiran para tokoh lintas bidang tersebut memperlihatkan luasnya jejaring alumni PMII yang kini berkiprah di berbagai sektor, mulai dari politik, pemerintahan, pendidikan, hingga masyarakat sipil.
Ajakan Bergerak Bersama
Acara dibuka oleh Luluk Nur Hamidah. Dalam suasana yang akrab, ia mengajak seluruh pengurus dan alumni PMII untuk memperkuat soliditas serta membangun budaya saling mendukung.
Menurut dia, kekuatan jaringan alumni tidak semata-mata terletak pada banyaknya jumlah anggota, tetapi pada kemampuan untuk membangun sinergi dan bergerak bersama.
“Alumni PMII harus solid dan saling mendukung. Kita harus bergerak bersama,” demikian pesan yang disampaikan dalam pembukaan kegiatan.
Ajakan tersebut mendapatkan respons positif dari para peserta. Perjumpaan yang dikemas dalam suasana santai dinilai dapat menjadi ruang untuk memperkuat kembali hubungan antarpengurus setelah masing-masing alumni menjalani aktivitas di berbagai bidang dan daerah.
Bagi organisasi alumni, silaturahmi semacam itu memiliki arti penting. Jaringan yang dibangun sejak masa menjadi kader PMII dapat terus dipelihara ketika para kader memasuki dunia profesional, politik, akademik, birokrasi, maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.
Dari Kongkow ke Gagasan
Konsep Kongsi IKA sengaja tidak ditempatkan sebagai forum rapat formal. “Kongkow dan ngopi santai” menjadi pendekatan untuk membangun komunikasi yang lebih cair.
Di sela-sela hidangan dan percakapan, para peserta bertukar cerita mengenai pengalaman organisasi, perkembangan daerah, persoalan kebangsaan, hingga dinamika Nahdlatul Ulama.
Suasana informal justru membuka ruang interaksi yang lebih luas. Para pengurus dari berbagai provinsi dapat saling mengenal, membangun komunikasi, dan memperkuat jejaring.
Pertemuan semacam itu menunjukkan bahwa konsolidasi organisasi tidak selalu harus berlangsung melalui forum resmi. Kadang, percakapan yang lahir dari meja makan dan secangkir kopi justru dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih konkret.
Mangayubagyo Muktamar NU
Kegiatan Kongsi IKA PMII di Jombang juga menjadi bagian dari suasana mangayubagyo Muktamar NU ke-35. Para alumni PMII datang ke Jombang bukan hanya untuk menghadiri forum internal organisasi alumni, tetapi juga turut merasakan momentum penting bagi perjalanan Nahdlatul Ulama.
Jombang memiliki posisi khusus dalam sejarah NU. Kota ini merupakan salah satu pusat perkembangan tradisi pesantren dan memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah kelahiran serta perkembangan Nahdlatul Ulama.
Karena itu, berkumpulnya alumni PMII di Jombang dalam momentum Muktamar NU memiliki makna simbolik tersendiri. PMII dan NU memiliki hubungan sejarah yang panjang. Banyak kader PMII kemudian berkiprah dalam berbagai ruang kehidupan sekaligus tetap menjadi bagian dari ekosistem besar Nahdlatul Ulama.
Dalam konteks tersebut, Kongsi IKA tidak hanya menjadi acara temu kangen alumni. Ia menjadi ruang untuk merawat ingatan bersama, memperkuat jejaring, dan membicarakan kemungkinan-kemungkinan kerja bersama ke depan.
Malam semakin larut ketika pertemuan mendekati tengah malam. Namun, percakapan para alumni belum sepenuhnya berhenti. Dari meja-meja yang ditempati peserta, silaturahmi terus berlanjut dalam suasana santai.
Kongkow dan ngopi santai malam itu pada akhirnya memperlihatkan satu hal sederhana: jejaring alumni tidak hanya dibangun melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui perjumpaan manusiawi.
Di tengah kesibukan Muktamar NU ke-35, Jombang menjadi tempat para alumni PMII kembali duduk bersama—menengok perjalanan yang telah dilalui sekaligus membangun energi untuk bergerak bersama menghadapi masa depan. (***)





