Aswajanews — Di tengah padatnya agenda Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, arus peziarah justru tak pernah benar-benar berhenti di kompleks makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Selama pelaksanaan muktamar, kawasan ziarah malam Gus Dur dibuka selama 24 jam untuk memberikan kesempatan kepada para muktamirin menyempatkan diri berziarah.
Sejumlah peserta muktamar datang selepas mengikuti persidangan, rapat organisasi, maupun rangkaian kegiatan lainnya. Sebagian datang secara berkelompok, sementara yang lain memilih berziarah dalam suasana lebih hening, membaca tahlil, mengirimkan doa, dan mengenang perjalanan hidup tokoh yang pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sekaligus Presiden keempat Republik Indonesia tersebut.
Tidak sedikit muktamirin yang kemudian melanjutkan ziarah ke makam Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari di kompleks Pesantren Tebuireng. Dua makam itu seolah menjadi titik spiritual yang mempertautkan dua generasi besar perjalanan Nahdlatul Ulama.
Gus Dur merupakan cucu KH Hasyim Asy’ari. Namun, hubungan keduanya tidak sekadar hubungan genealogis. Keduanya merepresentasikan mata rantai penting dalam perjalanan pemikiran, tradisi, dan perjuangan NU.
KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama pada 1926. Dari pesantren Tebuireng, ia membangun basis keilmuan Islam tradisional sekaligus mengembangkan gerakan keagamaan yang kemudian menjadi salah satu kekuatan sosial terbesar di Indonesia.
Sementara itu, Gus Dur mewarisi tradisi tersebut dan membawanya ke ruang sosial yang jauh lebih luas. Dengan pemikiran tentang demokrasi, pluralisme, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap keberagaman, Gus Dur menjadikan nilai-nilai pesantren dan NU sebagai bagian dari percakapan kebangsaan.
Ziarah di Tengah Muktamar
Bagi sebagian muktamirin, ziarah bukan sekadar aktivitas ritual di sela-sela kesibukan muktamar. Ziarah menjadi ruang untuk mengambil jarak sejenak dari dinamika organisasi dan mengingat kembali akar sejarah NU.
Muktamar merupakan forum tertinggi organisasi yang membicarakan arah perjalanan NU ke depan. Namun, di Jombang, masa depan itu berhadapan langsung dengan masa lalu.
Di satu sisi, para peserta membahas masa depan organisasi, tantangan zaman, dan kebutuhan umat. Di sisi lain, mereka berada di tanah tempat sejumlah fondasi penting NU dibangun.
Karena itu, ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur memiliki makna simbolik. Para muktamirin tidak hanya datang kepada dua tokoh yang telah wafat, tetapi juga seolah berdialog dengan warisan pemikiran dan perjuangan yang mereka tinggalkan.
Makam menjadi ruang perenungan bahwa organisasi sebesar NU tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari tradisi keilmuan pesantren, ketekunan para ulama, perjuangan kebangsaan, serta kemampuan untuk terus membaca perubahan zaman.
Jombang dan Sakralitas Sejarah NU
Pemilihan Jombang sebagai tempat Muktamar NU ke-35 juga memberikan dimensi tersendiri bagi perhelatan organisasi tersebut.
Jombang bukan sekadar lokasi geografis. Daerah ini merupakan salah satu episentrum sejarah pesantren dan Nahdlatul Ulama. Di kawasan ini terdapat sejumlah pesantren besar yang memiliki hubungan erat dengan sejarah lahir dan berkembangnya NU.
Di Tebuireng, KH Hasyim Asy’ari mengembangkan tradisi keilmuan yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting bagi corak keberislaman NU. Dari lingkungan yang sama pula lahir dan tumbuh Gus Dur, tokoh yang kemudian membawa gagasan-gagasan pesantren ke panggung nasional dan internasional.
Dengan demikian, Jombang menyimpan semacam “memori kolektif” NU. Muktamar yang berlangsung di tempat ini bukan hanya pertemuan administratif atau politik organisasi, melainkan juga perjumpaan dengan sejarah.
Ada pesantren, makam ulama, tradisi keilmuan, dan jejak perjuangan yang menjadi latar kultural perhelatan tersebut.
Sakralitas Jombang terutama terletak pada pertemuan antara ruang, sejarah, dan ingatan. Ruang-ruang pesantren di Jombang mengingatkan warga NU pada tradisi intelektualnya. Makam para ulama mengingatkan pada kesinambungan sanad keilmuan. Sementara sejarah perjuangan para kiai mengingatkan bahwa NU sejak awal tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.
Dari Hasyim Asy’ari kepada Gus Dur
Menariknya, dua makam yang menjadi tujuan ziarah para muktamirin juga menghadirkan dua figur dengan konteks zaman yang berbeda.
KH Hasyim Asy’ari hidup pada masa ketika umat Islam menghadapi kolonialisme dan perubahan sosial yang sangat besar. Responsnya berangkat dari penguatan pesantren, pendidikan, keilmuan, dan organisasi.
Beberapa generasi kemudian, Gus Dur menghadapi persoalan yang berbeda: demokratisasi, relasi agama dan negara, pluralitas masyarakat, hak-hak warga negara, serta perubahan global.
Meski konteksnya berbeda, terdapat benang merah yang kuat: kemampuan membaca zaman tanpa kehilangan akar tradisi.
Di titik inilah ziarah ke kedua makam menjadi relevan dengan muktamar. NU dituntut untuk terus bergerak ke depan, tetapi pergerakan itu tidak berarti memutus hubungan dengan akar sejarahnya.
Muktamar di Jombang seakan menempatkan NU di antara dua horizon: menengok warisan masa lalu sekaligus merumuskan masa depan.
Pembukaan ziarah malam Gus Dur selama 24 jam semakin memperkuat suasana tersebut. Ketika aktivitas muktamar mulai mereda pada malam hari, sebagian muktamirin justru bergerak menuju kompleks makam. Dalam keheningan malam, agenda organisasi yang penuh dinamika berganti dengan lantunan doa dan tahlil.
Di sana, perdebatan tentang organisasi, kepemimpinan, dan masa depan NU sejenak berhenti. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa setiap generasi NU pada akhirnya akan menjadi bagian dari sejarah yang sama.
Dan Jombang, dengan makam KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur, menjadi salah satu tempat paling kuat untuk mengingat kesadaran tersebut. (***)





