AswajaNews – Sejarah Kota Malang tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang yang dimulai jauh sebelum masa kolonial. Pemerintah Kota Malang menempatkan masa Kerajaan Kanjuruhan sebagai salah satu tonggak awal pertumbuhan kawasan ini, dengan sosok Raja Gajayana yang kerap dikaitkan dengan fase awal perkembangan pusat pemerintahan di wilayah Malang.
Setelah masa itu, kawasan Malang juga terhubung dengan perkembangan sejarah Jawa Timur pada era kerajaan-kerajaan besar berikutnya.
Memasuki era kolonial Belanda, wajah Malang mulai berubah lebih jelas menjadi kota modern. Pemkot Malang mencatat bahwa pada 1821 kedudukan pemerintahan Belanda dipusatkan di sekitar Kali Brantas, lalu pada 1882 mulai dibangun rumah-rumah di bagian barat kota serta alun-alun.
Dalam fase ini, tata kota dirancang untuk memenuhi kebutuhan komunitas Eropa, dan jejaknya masih dapat dilihat hingga kini di kawasan seperti Ijen Boulevard dan lingkungan sekitarnya.
Perubahan besar terjadi ketika Malang resmi ditetapkan sebagai Gemeente atau kotapraja pada 1 April 1914. Status itu membuat Malang memiliki pemerintahan kota sendiri. Pemkot Malang menyebut H.I. Bussemaker sebagai wali kota pertama yang mulai menjabat pada 1 Juli 1919.
Pada masa inilah pertumbuhan infrastruktur kota semakin kuat, termasuk perkembangan kawasan pusat pemerintahan yang kini masih dikenali melalui bangunan bersejarah seperti Balai Kota Malang dan kawasan sekitar Stasiun Kota Baru, yang kini tercatat sebagai cagar budaya.
Setelah Indonesia merdeka, Malang berkembang bukan hanya sebagai kota administratif, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan jasa di Jawa Timur. Portal resmi Pemkot Malang kini menggambarkan kota ini sebagai bagian penting dari episentrum Malang Raya, dengan peran strategis dalam sektor perdagangan, jasa, dan pariwisata.***





