AswajaNews – Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai kekayaan biodiversitas Indonesia dapat menjadi salah satu modal penting untuk membangun industri pangan dan kesehatan masa depan. Potensi tersebut dinilai tidak hanya berada di daratan, tetapi juga tersebar luas di wilayah laut Indonesia.
Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati besar, Indonesia memiliki berbagai sumber daya hayati yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Mulai dari tanaman lokal, mikroorganisme, hingga biota laut, seluruhnya membuka peluang riset untuk pangan fungsional, obat, suplemen kesehatan, dan bioteknologi.
BRIN menilai pemanfaatan biodiversitas tidak cukup hanya berhenti sebagai bahan mentah. Kekayaan hayati nasional perlu diarahkan ke riset, inovasi, dan hilirisasi agar mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Salah satu potensi yang tengah mendapat perhatian adalah makroalga atau rumput laut tropis Indonesia. Dalam publikasi ilmiah BRIN, makroalga disebut sebagai sumber daya hayati laut yang melimpah dan memiliki keragaman biomolekul bernilai tinggi.
Makroalga tidak hanya penting sebagai komoditas kelautan, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan dalam sektor pangan dan kesehatan. BRIN mencatat, berbagai kajian ilmiah menunjukkan makroalga mengandung senyawa bioaktif yang relevan untuk mendukung pangan berkelanjutan dan peningkatan kualitas kesehatan manusia.
Dalam kajian tersebut, makroalga tropis Indonesia disebut memiliki kandungan seperti polisakarida sulfat, protein dan peptida bioaktif, asam lemak esensial, pigmen fotosintetik, serta senyawa fenolik. Kandungan ini menjadi dasar pengembangan pangan fungsional, nutraseutikal, dan aplikasi bioteknologi kelautan.
Peneliti BRIN Ratih Pangestuti menempatkan bioprospeksi makroalga sebagai bagian penting dari transformasi bioindustri biru Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya menekankan pemanfaatan sumber daya laut, tetapi juga pengelolaan yang berkelanjutan dan selaras dengan prinsip ekonomi sirkular.
Pengembangan biodiversitas juga berkaitan erat dengan kebutuhan pangan masa depan. Pangan tidak lagi hanya dipandang dari sisi ketersediaan, tetapi juga dari aspek gizi, keberlanjutan, keamanan, dan kemampuan industri dalam menciptakan produk berbasis sumber daya lokal.
Di sektor kesehatan, biodiversitas Indonesia membuka peluang pengembangan bahan baku obat, suplemen, dan produk berbasis biomolekul alami. Potensi ini menjadi penting karena kebutuhan produk kesehatan berbasis bahan alam terus berkembang, baik di pasar nasional maupun global.
Namun, besarnya potensi tersebut juga diikuti sejumlah tantangan. Pengelolaan biodiversitas membutuhkan data yang kuat, riset yang berkelanjutan, serta kolaborasi lintas lembaga agar pemanfaatannya tidak merusak ekosistem.
Universitas Gadjah Mada bersama BRIN sebelumnya juga mendorong penguatan riset biodiversitas nasional melalui forum diskusi pengelolaan biodiversitas. Dalam forum tersebut, Indonesia disebut memiliki 31.750 jenis flora dan 744 ribu jenis fauna, tetapi juga menghadapi tantangan seperti deforestasi, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan perdagangan satwa ilegal.
Karena itu, pengembangan bioindustri berbasis biodiversitas perlu berjalan seimbang antara riset, konservasi, dan kepentingan ekonomi masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, kekayaan hayati yang besar berisiko hanya menjadi potensi yang belum memberi manfaat optimal.
BRIN berharap pemanfaatan biodiversitas dapat memperkuat arah pembangunan ekonomi hijau dan ekonomi biru Indonesia. Jika dikelola dengan riset yang kuat dan hilirisasi yang tepat, kekayaan hayati Indonesia berpeluang menjadi fondasi industri pangan dan kesehatan masa depan.
Dengan modal biodiversitas yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga produsen produk inovatif berbasis sumber daya hayati. Langkah ini dinilai penting agar manfaat kekayaan alam dapat memberi nilai tambah lebih besar bagi masyarakat dan daya saing nasional.***





