AswajaNews – Di tengah arus modernisasi, sejumlah tradisi dan budaya lokal di Blitar masih terus bertahan dan dijalankan oleh masyarakat. Keberlanjutan itu terlihat dari seni pertunjukan, ritual adat, hingga agenda budaya yang tetap hidup melalui peran komunitas dan dukungan pemerintah daerah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar sendiri menegaskan bahwa berbagai bentuk seni, upacara adat, dan kerajinan lokal masih dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Salah satu tradisi yang masih kuat adalah Larung Saji. Pemerintah Kabupaten Blitar menyebut upacara adat ini digelar turun-temurun setiap 1 Muharram atau 1 Suro, dengan nuansa spiritual sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi dan hasil laut masyarakat. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya lokal di Blitar tidak sekadar dipertahankan sebagai tontonan, tetapi masih memiliki makna sosial dan religius yang dekat dengan kehidupan warga.
Selain itu, ada pula Siraman Gong Kyai Pradah di wilayah Lodoyo, Kecamatan Sutojayan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar mencatat ritual budaya ini rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni pada 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal. Keberlangsungannya menegaskan bahwa warisan budaya berbasis simbol dan pusaka masih dirawat di tengah perubahan zaman.
Dari sisi seni pertunjukan, Reog Bulkiyo menjadi salah satu contoh budaya khas Blitar yang tetap lestari. Data Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud menjelaskan Reog Bulkiyo sebagai kesenian tradisional bernuansa Islam yang berkembang di Blitar, lengkap dengan iringan alat musik tradisional. Kehadiran kesenian ini memperlihatkan bahwa identitas budaya Blitar tumbuh dari perpaduan sejarah, seni, dan nilai keagamaan.
Di Kota Blitar, pelestarian budaya juga tampak melalui Bersih Desa Kelurahan Blitar dan aktivitas di Kampung Budaya Pasar Jaranan. Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Bersih Desa rutin digelar setiap tahun, sementara Pasar Jaranan memiliki festival berkala untuk menjaga seni jaranan tetap hidup. Ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu menghapus budaya lokal, melainkan bisa berjalan berdampingan ketika masyarakat masih memberi ruang bagi tradisi.
Karena itu, budaya lokal Blitar layak dipahami bukan sebagai peninggalan masa lalu semata, tetapi sebagai bagian dari identitas yang terus hidup. Di tengah modernisasi, tradisi-tradisi tersebut tetap menjadi pengikat memori, kebersamaan, dan karakter khas Blitar.***





