AswajaNews – Di Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kota Madiun, terdapat sebuah situs sejarah yang menjadi saksi penting perjalanan penyebaran Islam dan kehidupan pemerintahan lokal pada abad ke‑18. Situs itu adalah Kompleks Masjid Kuno dan Makam Taman, yang mencakup Masjid Donopuro serta area makam leluhur para pemimpin Madiun. Kompleks ini kini diakui sebagai cagar budaya oleh pemerintah karena nilai sejarah dan budayanya.
Masjid Kuno Taman, yang awalnya dikenal sebagai Masjid Donopuro, dibangun pada sekitar tahun 1754–1755 oleh Kiai Ageng Misbach, yang dikenal pula sebagai Kiai Donopuro. Masjid ini didirikan di atas lahan perdikan—yaitu tanah bebas pajak yang diberikan oleh pemerintah kerajaan kepada komunitas Muslim setempat sebagai dukungan terhadap kegiatan keagamaan.
Bangunan masjid memiliki ciri khas arsitektur tradisional Jawa dengan dominasi material kayu jati, atap tajug, serta gaya joglo yang menunjukkan perpaduan nilai budaya lokal dan tradisi Islam awal di Nusantara. Struktur bangunan ini mempertahankan keaslian desainnya, dan sebagian besar tiang dan elemen kayu original masih terjaga hingga saat ini.
Masjid Donopuro berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat penyebaran ajaran Islam di kawasan Karesidenan Madiun pada masa itu. Peran ini membuat masjid menjadi titik awal perkembangan Islam di wilayah Kota Madiun dan sekitarnya.
Pada tahun 1981, kompleks masjid kuno dan makam di belakangnya secara resmi ditetapkan sebagai peninggalan cagar budaya oleh pemerintah. Sejak penetapan ini, nama Masjid Donopuro berubah menjadi Masjid Besar Kuno Taman sebagai pengakuan atas nilai sejarah dan fungsinya yang penting bagi komunitas lokal.
Penetapan sebagai cagar budaya juga berarti bahwa renovasi atau perubahan bentuk bangunan harus dilakukan dengan pengawasan ketat dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) agar nilai historisnya tetap terjaga.
Di sebelah barat masjid terdapat area makam kuno yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sejumlah tokoh penting dalam sejarah pemerintahan Madiun. Makam ini dikenal sebagai tempat dimakamkannya para Bupati Madiun dan pejabat penting dari masa ke masa, termasuk tokoh‑tokoh yang berperan dalam pembangunan dan administrasi awal Kota Madiun.
Kawasan makam yang berada dalam satu kompleks dengan masjid ini semakin menegaskan peran situs ini tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sejarah yang menyimpan cerita panjang tentang kepemimpinan lokal dan perkembangan masyarakat Islam di Madiun.
Kompleks Masjid Besar Kuno Taman kini menjadi salah satu destinasi wisata religi dan sejarah di Kota Madiun. Pemerintah setempat bahkan meluncurkan paket wisata religi yang menghubungkan lokasi ini dengan situs bersejarah lain seperti Masjid dan Makam Kuno Kuncen sebagai bagian dari upaya mengenalkan nilai sejarah kepada masyarakat luas serta meningkatkan kunjungan wisatawan.
Di sini, pengunjung tidak hanya dapat beribadah, tetapi juga belajar tentang sejarah awal Islam di Madiun, mengetahui kisah para pemimpin lokal yang pernah mendekatkan budaya dan agama, serta melihat keunikan arsitektur masjid tua yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Kompleks Masjid Kuno dan Makam Taman di Kelurahan Taman menjadi salah satu saksi sejarah penting perjalanan Islam dan pemerintahan awal Kota Madiun. Dibangun pada masa Bupati Mangkudipuro, situs ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran agama, tempat peristirahatan leluhur pemimpin lokal, serta bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang dilindungi sebagai cagar budaya Kota Madiun.***





