AswajaNews – Masa remaja sering kali dianggap sebagai masa “badai dan stres”. Padahal, secara biologis, ini adalah fase di mana otak anak sedang melakukan renovasi besar-besaran, terutama pada area yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan. Tantangan bagi orang tua bukan lagi menjaga keamanan fisik mereka, melainkan menjaga kepercayaan dan jalur komunikasi.
Berikut tips komunikasi dengan anak remaja yang bisa dipraktikkan:
Bukan Menghakimi tapi mendengarkan untuk memahami
Kesalahan umum yang sering kali orang tua lakukan saat anak remaja bercerita adalah langsung memotong cerita dengan nasihat atau kritik. Remaja tidak membuthkan itu, namun mereka membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan jati diri mereka yang sedang tumbuh. Cobalah teknik mendengarkan aktif. Terkadang, saat mereka mengeluh tentang teman atau sekolah, mereka tidak butuh solusi instan—mereka hanya butuh divalidasi bahwa perasaan mereka nyata.
Menghargai Privasi adalah Bentuk Penghormatan
Bagi remaja, privasi adalah kebutuhan perkembangan. Keinginan mereka untuk memiliki ruang sendiri bukan berarti mereka menyembunyikan sesuatu yang buruk, itu adalah cara mereka membangun kemandirian. Berikan mereka ruang, akan tetapi tetaplah hadir sebagai jaring pengaman. Jangan langsung menginterogasi,baiknya gunakan kalimat terbuka seperti, “Ayah dan ibu selalu ada buat mendengarkan kalau kamu sudah siap untuk cerita.”
Negosiasi dan Batasan yang Logis
Disiplin otoriter biasanya akan memicu pemberontakan pada remaja. Mulailah melibatkan mereka dalam pembuatan aturan rumah. Misalnya, dalam menentukan jam pulang atau penggunaan gadget. Ketika remaja merasa dilibatkan dalam pembuatan aturan, mereka akan cenderung lebih bertanggung jawab untuk mematuhinya karena mereka merasa lebih dihargai sebagai individu yang mulai dewasa.
Fokus pada Koneksi, Bukan Hanya Prestasi
Di tengah tekanan akademik dan sosial yang tinggi, remaja perlu tahu bahwa nilai mereka tidak ditentukan oleh nilai ujian atau jumlah viewers dan like yang tinggi di media sosial. sebagai orang tua kita harus memastikan mereka tahu bahwa cinta orang tuanya bersifat tanpa syarat (unconditional love). Rumah harus menjadi tempat mereka bisa melepas “topeng” sosial mereka dan merasa diterima sepenuhnya menjadi dirinya sendiri tanpa tedeng aling-aling.
Itulah tips-tips yang bisa dipraktikkan di rumah kepada anak remaja ibu-bapak di rumah supaya kita sebagai orang tua tetap bisa dekat dengan anak meski mereka sudah beranjak remaja.***

