AswajaNews – Harga telur ayam ras di tingkat peternak Ponorogo mengalami penurunan cukup tajam. Kondisi ini membuat Asosiasi atau Perkumpulan Peternak Ayam Petelur Ponorogo (PPAPP) meminta pemerintah ikut turun tangan.
Ketua PPAPP, Eny Kustianingsih, mengatakan intervensi pemerintah diperlukan agar stok telur yang melimpah dapat terserap dengan baik. Salah satu solusi yang diusulkan adalah kerja sama antara dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan peternak ayam petelur.
Menurut Eny, program Makan Bergizi Gratis atau MBG bisa menjadi salah satu jalan keluar jika telur dimasukkan dalam menu secara rutin. Ia berharap dapur SPPG dapat menyerap telur dari koperasi maupun asosiasi peternak di Ponorogo.
“Seharusnya dengan adanya permintaan telur yang lemah, pemerintah mengambil kebijakan di mana dapur SPPG itu minimal 2 kali dalam seminggu bisa menyerap telur,” ujar Eny, Senin, 18 Mei 2026.
Eny menilai penyerapan melalui dapur SPPG perlu diatur agar distribusi telur lebih merata. Sebab, kondisi saat ini tidak sama di semua peternak. Ada sebagian yang kekurangan, tetapi ada pula yang mengalami penumpukan stok telur.
Ia berharap pemerintah bisa mengambil peran sebagai penengah yang adil dalam situasi harga telur naik maupun turun. Menurutnya, saat harga telur anjlok, peternak tidak boleh dibiarkan menghadapi kerugian sendirian.
“Ke depan untuk pemerintah sebaiknya menjadi wasit yang adil dan memberi solusi. Saat harga telur turun jangan dibiarkan, saat harga naik ya kita jangan ditekan,” tambahnya.
Saat ini, populasi peternak ayam petelur di Ponorogo disebut cukup banyak. Namun, persoalan utama yang dihadapi bukan pada jumlah produksi, melainkan perputaran telur yang melambat akibat menurunnya permintaan pasar.
Stok telur yang melimpah membuat harga di tingkat peternak turun drastis. Harga acuan telur ayam ras dari peternak berada di angka Rp22.800 per kilogram di kandang. Namun dalam praktiknya, harga telur kini hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram.
Harga tersebut dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak. Apalagi, harga pakan ayam masih tinggi, termasuk jagung yang mengalami kenaikan di pasaran. Eny menyebut bantuan SPHP jagung dari pemerintah memang membantu, tetapi belum semua peternak mendapatkan bantuan tersebut.***





