AswajaNews – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelontorkan dana Rp1,7 triliun untuk mendanai 18.215 kegiatan riset dan pengembangan nasional sepanjang Januari hingga April 2026. Dari seluruh bidang yang didukung, sektor kesehatan menjadi prioritas utama dalam penyaluran anggaran tahun ini.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, mengatakan pendanaan tersebut dibagi ke dalam sembilan program utama yang dijalankan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Program Penelitian menjadi skema terbesar dengan 13.028 proposal dan nilai pendanaan mencapai Rp1,04 triliun.
Selain itu, Program Hilirisasi Riset Prioritas mendanai 925 proposal senilai Rp318 miliar, sedangkan Program Pengabdian kepada Masyarakat mencakup 3.328 tim dengan anggaran Rp167 miliar. Sejumlah program lain juga ikut didukung, mulai dari pengujian model dan prototipe, riset konsorsium unggulan berdampak, hingga program mahasiswa berdampak.
Dari total penerima pendanaan, 60 persen berasal dari perguruan tinggi swasta dan 40 persen dari perguruan tinggi negeri. Pemerintah memfokuskan dukungan pada delapan bidang strategis, dengan kesehatan menempati posisi teratas sebesar 27 persen, disusul ketahanan pangan 25 persen, hilirisasi dan industrialisasi 16 persen, serta digitalisasi 15 persen.
Berdasarkan pengelompokan Rencana Induk Riset Nasional, bidang sosial humaniora mencatat jumlah kegiatan terbanyak dengan 6.819 riset. Di bawahnya ada bidang kesehatan dengan 3.713 kegiatan, pangan 3.023 kegiatan, dan rekayasa keteknikan sebanyak 2.642 kegiatan.
Kemdiktisaintek juga menetapkan kebijakan baru yang memperbolehkan honorarium peneliti dimasukkan dalam hibah penelitian APBN, dengan batas maksimal 25 persen dari total dana. Pemerintah menegaskan riset yang dibiayai tidak boleh berhenti pada laporan administratif, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.
Untuk menjaga transparansi, proses seleksi dan pengumuman pendanaan dilakukan melalui platform BIMA dan Hiliriset. Ke depan, pemerintah menyatakan akan terus memperluas ekosistem riset nasional melalui program lanjutan, termasuk Kosabangsa dan sejumlah skema pendanaan yang dikelola LPDP.





