Drama Perang

Oleh: Rosadi Jamani (Dosen UNU Kalbar)

Udah lupakan cerita hoax foto editan itu. Biarlah Anies dan Ganjar khusyuk jalankan ibadah haji di Mekah. Cerita perang Rusia vs Ukraina saja, makin seru dan penuh drama.

Waduh, perang kok pakai drama segala, Bang? Ini soal nyawa manusia. Emang sinetron macam kisah affair Virgoun dan Syahnaz, Bang.

Itulah ente, asyik menertawakan foto editan Anies bersama Raja Salman tawaf di Masjidil Haram. Sampai soal perang kelas dunia pun kelupaan ngikutinya. Beberapa waktu lalu, tentara bayaran PMC Wagner melakukan aksi pemberontakan. Dalam hitungan jam sukses melumpuhkan Kota Rostov on Don. Habis itu bergerak menuju Moskow, tempat Presiden Rusia, Vladimir Putin ngopi sambil pencet tombol rudal. Dunia pada geger. Wagner yang sukses menaklukan Bahkmut, kok malah memberontak ke tuannya. Putin meradang. Segera hentikan aksi pengkhinatan itu. Media barat suka bener berita ini.

Aksi Wagner ini pun tak diterima Razman Kadirov, pemimpin Chechnya. Kadirov, pemimpin Muslim terkuat di negara bagian Rusia ini, marah besar ke Wagner. Izin ke Putin turunkan tentara elitnya. Tentara Kadirov sukses membentengi Moskow. Dua kubu tentara saling berhadapan. Dikit lagi mau perang terbuka. Tiba-tiba bisa dihentikan, berkat diplomasi Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko. “Torang basaudara, janganlah perang pacek-pacek” Mungkin kira-kira gitu dalam logat Papuanya. Lukashenko sukses damaikan tentara yang terkenal dengan semangat jihadnya, tak takut mati.

Lalu, di mana letak dramanya, Bang?

Putin melunak hatinya. Wagner yang awalnya dituduh pengkhianat dan akan dihukum berat, dibatalkan. Dengan catatan, tak nginjak tanah Rusia. Sebagai jalan keluarnya, 25 ribu pasukan Wagner pimpinan Yevgeny Prigozhin diungsikan ke Belarusia dengan jaminan Lukashenko. Putin pun lega. Pasukan Kadirov pun kembali menarik pelatuk senjatanya.

Nah, aksi pemindahan pasukan Wagner ini oleh media Inggris disebut, drama. Bahkan, dibumbui dengan sebuah drama licik nan keji. Apa sebab? Karena, perbatasan Belarusia dengan Kiev, ibukota Ukraina sangat dekat. Ibarat Kota Sanggau Kalbar dengan Kuching Sarawak Malaysia. Kalau tentara Wagner nyerang Kiev, dekat sekali. Inilah yang tidak diinginkan tentara NATO sebagai tukang kompor Ukraina. Apalagi sejumlah hulu ledak nuklir Rusia sudah ditempatkan di Belarusia ini. Ngeper Eropa.

Kalau gitu, ada benarnya juga analis media Inggris itu. Berarti perang juga perlu drama ya, Bang? Jelas perlu drama dan bagian dari taktik perang. Tak masalah ngorbankan beberapa orang, asalkan tujuan tercapai. Namanya juga perang, segala cara dipakai. Tak ada istilah halal haram, semua sama. Tak macam ente nak makan, lihat dulu apakah ada logo halalnya ndak. Kalau lagi perang, tak ada lagi semua itu. Semua menjadi darurat dan boleh. Apalagi hanya drama.

Terlepas benar atau tidak info itu, pastinya Rusia vs Ukraina masih berperang. Ntah sampai kapan perang negara serumpun ini akan berakhir. Yang ditakuti dunia, Rusia terdesak, lalu manas keluarkan senjata pamungkasnya, Tsar Bomba. Jangankan Ukraina, Eropa bisa jadi debu dibuatnya. Ngeri wak.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan, Bang? Ya, kelas teri macam kita ini, bisanya berdoa. Berdoa agar kedua kubu berdamai. Bukan damainya ormas saat mau Imlek ya. Ini murni damai hentikan perang. Berdoa tiap habis sembahyang agar Putin dan Zalenski mau teken perdamaian. Sama halnya, pendukung Anies dan Ganjar agar dua kandidat presidennya mendapatkan haji mabrur. Selalu didoakan haji mabrur. Udah gitu aja. Alhamdulillah, kita masih bisa ngopi sampai hari ini dengan tenang dan damai.

camanewak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *