KH Moh Usman Kediri, Penulis Kitab Fiqh Haid

Aswaja News – Tidak banyak ulama laki-laki yang produktif menulis literatur tentang problematika perempuan khususnya mengenai masalah haid. Salah satunya KH Usman Kediri yang aktif menulis kitab-kitab fiqh haid. Kitab-kitab yang beliau tulis menjadi rujukan fiqh perempuan khususnya fiqh haid. Berikut biografi singkat beliau.

1. NASAB BELIAU

Beliau lahir di desa Petok. Salah satu desa ditepi barat Sungai Brantas Kabupaten Kediri Jawa Timur. Desa ini berada diantara dua pesantren besar yang sudah begitu mashur namanya, yaitu Pondok Lirboyo dan Pondok Ploso.

Ayah beliau bernama Kyai Abdul Qodir bin Kyai Fadhil bin Kyai Mustajab bin Kyai Ali Munshorif Batokan.

Kakek beliau, yaitu Kyai Fadhil adalah orang tua dari dua ulama’ besar di Kediri pada zamannya, yaitu Kyai Jamal Batokan dan Kyai Jipang Batokan. Kyai Fadhil juga merupakan ayah dari Kyai Jauhari, dimana Kyai Jauhari ini adalah menantu dari Kyai Abdul Karim Pondok Pesantren Agung Lirboyo, sekaligus juga merupakan ayah dari tokoh yang begitu terkenal akan kehebatannya, yaitu Gus Ma’sum.

Sementara nenek beliau atau istri dari Kyai Fadhil Batokan bernama Nyai Anjar binti Kyai Soleh Banjar Mlati. Kyai Soleh juga merupakan ulama’ besar di Kediri pada zamannya. Menantu beliau juga ulama’-ulama’ hebat, diantaranya adalah:

  1. Kyai Abdul Karim pendiri Pondok Lirboyo.
  2. Kyai Ma’ruf pendiri Pondok Kedunglo.
  3. Kyai Abdulloh pendiri Pondok Bangsongan, dan
  4. Kyai Fadhil, pengasuh Pondok Batokan.

Adapun nama ibu beliau adalah Nyai ‘Aisyah atau sering dipanggil Mbah Sah. Beliau putri dari Kyai Anwar Pacul Gowang. Sementara Kyai Anwar ini adalah kakek dari Kyai Anwar Mansyur pengasuh Pondok Pesantren Agung Lirboyo saat ini.

Demikian sekilas mengenai nasab beliau yang bersambung dengan banyak ulama’-ulama’ besar.

2. KELUARGA

KH. Mohammad Ustman adalah merupakan anak terakhir dari pasangan Kyai Abdul Qodir dan Ibu Nyai ‘Aisyah. Adapun nama kakak-kakak beliau adalah:

  1. Fathimah.
  2. Hindun.
  3. Thohiroh.
  4. Hamidah.

Keluarga beliau pada mulanya tinggal di Dusun Batokan, akan tetapi kemudian pindah ke dusun Petok, dan disaat berada di Petok inilah beliau dilahirkan.

Adapun setelah dewasa dan setelah lulus Pon.Pes. Lirboyo, beliau menikah dengan Ibu Nyai Nur, putri dari Kyai Siroj dari Purwodadi Jawa Tengah. Dimana kemudian beliau dikaruniai dua orang anak, yaitu Gus Muhammad dan Neng Fatimah.

3. RIHLAH ILMIYAH

Setelah lulus SD, beliau melanjutkan studinya dengan mondok di Pesantren Lirboyo yang saat itu dibawah asuhan almarhum Kyai Mahrus Ali. Saat berangkat beliau ditemani Ustadz Wahid yang kala itu juga mendaftar masuk ke Pondok.

Karena memiliki kecerdasan yang menonjol, maka saat itu beliau sering diminta pihak Pondok Lirboyo untuk mewakili pondok dalam forum Bahsul Masail diberbagai pondok pesantren.

Ketika Ramadhan, beliau juga pernah “ngaji posonan” dibeberapa pesantren lain. Diantaranya Pesantren Senori Tuban, dibawah asuhan almarhum Kyai Fadhol yang terkenal sangat alim. Dan juga pernah “ngaji posonan” di Pesantren Kwagean Kediri, dibawah asuhan Kyai Abdul Hanan, sosok ulama’ karismatik, alim dan juga begitu tawadhu’, yang memiliki ribuan santri.

Selain itu, beliau juga pernah mengaji Kitab Sohih Bukhori kepada paman beliau, Kyai Jamaluddin Batokan, yang membimbing beliau dan sering menjadi sumber rujukan beliau ketika ada masalah.

Setelah lulus di Pondok Lirboyo, beliau diminta mengajar di almamater beliau tersebut. Selain itu, beliau juga pernah mengajar di Pesantren Klodran yang waktu itu dibawah asuhan almarhum Kyai Ridwan.

Selain mengajar, beliau juga aktif menulis kitab-kitab. Kitab pertama beliau adalah kitab I’anatun Nisa’, kitab berbahasa Jawa yang membahas masalah ilmu haid.

Diantara penyebab beliau menulis kitab ini adalah berawal atas keprihatinan beliau dimana banyak kaum wanita yang tidak memahami masalah istihadhoh. Sudah umum dikalangan wanita yang memahami dan beranggapan bahwa bila keluar darah lebih dari 15 hari, maka kelebihannya otomatis adalah darah kotor atau istihadhoh, padahal anggapan ini salah dan tidak sesederhana itu.

Penyebab lainnya, suatu ketika saat ada musyawarah para guru di Pesantren Lirboyo, beliau mendapat dorongan dari Kyai Anwar Mansyur untuk menulis kitab yang membahas masalah haid dan istihadhoh. Dan akhirnya, lahirlah kitab I’anatun Nisa’ ini.

4. MENDIRIKAN PESANTREN

Ketika sudah di rumah, beliau mendirikan pengajian yang hingga kemudian berkembang menjadi sebuah Pondok Pesantren. Pesantren beliau bernama Pon.Pes. Al-Anwar. Sebuah nama yang beliau ambil untuk tafa’ulan pada pesantren Al-Anwar Sarang yang diasuh oleh almarhum Kyai Maemoen Zubeir, sosok ulama’ yang begitu kharismatik di Indonesia.

Selain mengasuh para santri di pesantren beliau sendiri, beliau juga mengajar di Pesantren Temboro dan juga Pesantren Lirboyo hingga beliau wafat.

Sekalipun beliau berkiprah diluar Jam’iyyah Nahdotul Ulama’, namun beliau tetap memiliki hubungan yang begitu baik dengan Pesantren Lirboyo. Bahkan saat Pesantren Lirboyo ada acara, baik acara pondok maupun acara pribadi dari para Masyayikh Lirboyo, beliau tetap sering mendapat undangan.

Sesuatu hal yang begitu jarang, dimana biasanya mereka yang memilih “beda”, akan terputus dari Pesantren. Namun beliau tetap bersambung, bahkan tetap mendapat perlakuan yang istimewa dari para Masayikh Lirboyo.

5. KARYA TULIS

Beliau juga penulis yang produktif. Sudah puluhan kitab karya beliau. Dimana setidaknya ada 6 kitab yang khusus membahas problematika darah wanita. Diantara karya tulis beliau yaitu:

  1. I’anatun Nisa’.
  2. Kifayatun Nisa’.
  3. Fiqhul Haid.
  4. Mereka Bertanya Kepadamu tentang Haid.
  5. HAID dan Masalah-Masalah Wanita Muslim.
  6. MAHIR Ilmu Haid.

Enam kitab di atas adalah kitab-kitab yang membahas secara khusus permasalahan fiqih haid. Selain itu, ada juga kitab-kitab beliau yang lain, diantaranya:

  1. Akhlakul Nubuwwah.
  2. Akhlaqus Salafus Solih.
  3. Anwarul Hukama’.
  4. Zubdah Birrul Walidain.
  5. Suruthu Qobulid Du’a.
  6. Rukhosut Thoharoh.
  7. Jalbur Rizky.
  8. Adabul Munakahah.
  9. Risalatut Taubah, dll.

6. WAFAT

Beliau wafat di hari yang mulia, yaitu pagi hari di hari Jum’at tanggal 5 Dzulhijjah 1444 H / 23 Juni 2023 M. Banyak ulama’ juga masyarakat yang hadir untuk berta’ziyah ke rumah duka. Termasuk penta’ziyah dari daerah-daerah luar Kabupaten Kediri. Beliau di makamkan di pemakaman keluarga di barat masjid PonPes Batokan Kediri.

7. JASA BELIAU

Tentu begitu banyak jasa beliau. Salah satu diantaranya adalah boleh dikata beliau adalah ulama’ yang menghidupkan ilmu haid di Indonesia. Karena sebelumnya penjelasan-penjelasan mengenai masalah haid yang detail hanya disebutkan di kitab-kitab fiqih yang tebal-tebal. Sehingga banyak masyarakat awam yang tidak mengetahui hukum permasalahan darah haid ini.

Memang sebelum kitab I’anatun Nisa’ ini sudah terbit kitab khusus yang membahas masalah haid. Namun di era kitab I’anatun Nisa’ inilah ilmu haid bisa tumbuh dan berkembang pesat dan menyebar luas di Indonesia. Sehingga setelah itu banyak muncul kitab-kitab maupun buku-buku lain yang juga mengkupas ilmu haid. Saat ini telah banyak bermunculan pakar-pakar ilmu haid di berbagai tempat di Indonesia, bahkan hingga negeri jiran Malaysia.

8. PENDAPAT PARA ‘ULAMA

Beliau begitu mendalam ilmunya, terutama dalam fiqih sehingga almarhum Kyai Uzairon menjuluki beliau sebagai Kyai yang “faqih” (ahli fikih). Sementara almarhum Kyai Kasmuri Njasan menyebut bahwa ilmu beliau bagai lautan.

•••

2 thoughts on “KH Moh Usman Kediri, Penulis Kitab Fiqh Haid

  1. Subhanallah ..beliau adalah pamanku, adik kandung ibuku yg bungsu , beliau sangat sayang kepada kakak-2 juga keponakan-2 nya, beliau tempat kami bertanya teritama masalah-2 fiqh .
    Allahummagfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu . Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *