Aswajanews — Hampir seribu jamaah memadati Lapangan Hasan Sadikin, Kelurahan Beduri, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026) malam. Mereka mengikuti kegiatan Beduri Bersholawat yang digelar Karang Taruna Budi Utomo Kelurahan Beduri bekerja sama dengan Asparagus Ponorogo.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Hadir dalam kegiatan itu Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kabupaten Ponorogo, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Ponorogo, tokoh masyarakat, pemuda, serta masyarakat Kelurahan Beduri dan sekitarnya.
Suasana lapangan sejak malam mulai dipenuhi jamaah. Lantunan shalawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menghidupkan suasana peringatan yang tidak hanya bernuansa keagamaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi warga.
Rangkaian shalawat dipimpin oleh Gus Ulil dari Ponorogo dan Gus Farid dari Blitar. Jamaah mengikuti lantunan shalawat dengan khidmat sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Gus Nabil dari Joresan, Ponorogo, menyampaikan mauidhoh hasanah mengenai keutamaan memperingati Maulid Nabi.
Dalam tausiyahnya, Gus Nabil menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak semestinya hanya dipahami sebagai sebuah acara seremonial. Maulid dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada sosok yang menjadi uswatun hasanah bagi umat manusia.
Kecintaan tersebut, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan itu, semestinya diwujudkan melalui upaya meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, persaudaraan, dan sikap menghargai perbedaan.
Maulid dan Perbedaan Pandangan tentang Bid’ah
Peringatan Maulid Nabi selama ini memang menjadi salah satu persoalan yang memiliki perbedaan pandangan di kalangan umat Islam. Sebagian kelompok menganggap bentuk peringatan tertentu sebagai bid’ah karena tidak dilakukan sebagai tradisi khusus pada masa Nabi Muhammad SAW dan generasi awal Islam.
Di sisi lain, banyak ulama dan komunitas Muslim memandang Maulid sebagai sarana untuk mengingat sejarah kehidupan Rasulullah, memperbanyak shalawat, bersedekah, bersilaturahmi, serta menanamkan kecintaan terhadap Nabi. Dalam pandangan ini, yang menjadi perhatian utama bukan sekadar nama atau bentuk acaranya, melainkan isi, tujuan, dan nilai kemaslahatan yang terkandung di dalamnya.

Karena itu, perbedaan pandangan mengenai Maulid semestinya tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Selama kegiatan diisi dengan shalawat, pengajian, doa, sedekah, silaturahmi, serta ajaran yang mendorong umat berbuat baik dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, Maulid dapat menjadi ruang pendidikan keagamaan dan penguatan ukhuwah.
Beduri Bersholawat memperlihatkan sisi positif dari tradisi tersebut. Ribuan warga berkumpul dalam suasana damai, mendengarkan nasihat keagamaan, bershalawat, dan mempererat hubungan sosial. Dalam konteks masyarakat, kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana membangun kohesi sosial sekaligus memperkuat nilai-nilai religius.
Cinta Nabi dan Cinta Tanah Air
Menariknya, Beduri Bersholawat mempertemukan dua momentum penting: Maulid Nabi Muhammad SAW dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Keduanya dapat dipertemukan melalui satu nilai penting, yakni keteladanan dalam membangun kehidupan bersama.
Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana membangun masyarakat yang memiliki solidaritas, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap perbedaan, dan komitmen terhadap kehidupan bersama. Nilai-nilai tersebut relevan dengan semangat kemerdekaan Indonesia yang dibangun melalui perjuangan, persatuan, gotong royong, dan pengorbanan berbagai elemen masyarakat.
Semangat kemerdekaan karena itu tidak cukup dimaknai melalui upacara dan perayaan semata. Kemerdekaan juga perlu diisi dengan membangun masyarakat yang rukun, berkeadaban, saling menghormati, dan peduli terhadap sesama.
Dalam konteks itulah, memperingati Maulid Nabi bersamaan dengan HUT Kemerdekaan dapat menjadi pesan simbolik yang kuat: mencintai Nabi diwujudkan dengan meneladani akhlaknya, sedangkan mencintai Indonesia diwujudkan dengan menjaga persatuan dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Bagi generasi muda, terutama Karang Taruna, perpaduan kedua momentum tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dan kegiatan kebangsaan tidak harus ditempatkan dalam ruang yang terpisah. Keduanya dapat berjalan bersama dalam semangat membangun masyarakat yang religius sekaligus nasionalis.
Apresiasi layak diberikan kepada Karang Taruna Budi Utomo Kelurahan Beduri dan Asparagus Ponorogo yang mampu menghadirkan kegiatan keagamaan dalam suasana kebersamaan warga. Dengan melibatkan masyarakat luas, tokoh agama, pemuda, dan unsur pemerintahan, Beduri Bersholawat tidak sekadar menjadi agenda peringatan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan sosial.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, ruang-ruang kebersamaan semacam itu memiliki arti penting. Shalawat menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah, sementara semangat kemerdekaan mengingatkan masyarakat tentang pentingnya persatuan.
Dari Lapangan Hasan Sadikin Beduri, pesan tersebut menemukan bentuknya dalam sebuah perayaan sederhana tetapi penuh makna: mencintai Nabi, memperkuat persaudaraan, dan merawat Indonesia. (***)





