Aswajanews — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui upacara dan perlombaan. Para santri Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) Hasan Abdullah, Kelurahan Beduri, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menerjemahkan semangat kemerdekaan melalui kreativitas dan pembelajaran kewirausahaan.
Sebanyak 40 santri bersama ustadz dan ustadzah mengikuti sepeda hias bertema pedagang keliling, Ahad (2/8/2026). Kegiatan tersebut dipusatkan di Gedung Madin Hasan Abdullah, kompleks Masjid Jami’ Al Muwahidin, Kelurahan Beduri.
Sepeda para santri dihias dengan berbagai atribut yang menggambarkan aktivitas pedagang keliling. Ada yang menampilkan konsep jualan makanan dan minuman, sementara peserta lainnya mengemas sepeda mereka dengan berbagai ornamen yang merepresentasikan aktivitas perdagangan rakyat.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan menyambut bulan kemerdekaan. Panitia sengaja memilih tema bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai sarana memperkenalkan dunia kewirausahaan kepada para santri.
Ketua panitia, Siti Saudah, M.Pd., mengatakan tema tersebut dipilih untuk memberikan pengalaman langsung kepada santri mengenai aktivitas ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Melalui tema bisnis UMKM ini, kami ingin memberikan pengetahuan kepada para santri tentang usaha dengan semangat kemerdekaan. Anak-anak kami ajak mengenal bagaimana orang berusaha, berdagang, berkomunikasi, dan melayani pembeli,” ujar Siti.
Menurut Siti, pembelajaran kewirausahaan penting dikenalkan sejak dini. Santri tidak hanya membutuhkan pengetahuan keagamaan dan akademik, tetapi juga keterampilan sosial, kreativitas, kerja sama, serta keberanian untuk berusaha.

Menyusuri Jalan Kampung
Rangkaian sepeda hias dimulai dari Gedung Madin Hasan Abdullah. Peserta kemudian menyusuri sejumlah ruas jalan di sekitar Kelurahan Beduri.
Rute yang ditempuh meliputi Jalan Nori, Jalan Delima, Jalan Branjangan, Jalan Perkutut, Jalan MT Haryono Gang 4, Jalan Salak, Jalan Manyar, Jalan Sikatan, kemudian kembali melalui Jalan Nori dan berakhir di Madin Hasan Abdullah.
Dengan sepeda yang telah dihias dan atribut pedagang keliling, para santri mengikuti perjalanan dengan penuh antusias. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi anak-anak untuk menampilkan kreativitas mereka di lingkungan tempat tinggal.
Para ustadz dan ustadzah turut mendampingi peserta sepanjang kegiatan. Pendampingan dilakukan untuk memastikan kegiatan berlangsung tertib sekaligus memberikan pengalaman edukatif bagi para santri.
Bazar Mini: Santri Jadi Penjual dan Pembeli
Setelah seluruh peserta kembali ke lokasi finish, kegiatan dilanjutkan dengan bazar mini.
Menariknya, penjual dan pembeli dalam bazar tersebut sama-sama berasal dari kalangan santri. Mereka mendapatkan kesempatan untuk merasakan secara langsung aktivitas jual beli dalam suasana yang sederhana dan menyenangkan.
Para santri belajar menawarkan barang, melakukan transaksi, berkomunikasi dengan pembeli, serta memahami nilai barang dan uang.
Bagi panitia, bazar tersebut merupakan bagian penting dari pembelajaran kewirausahaan. Konsep yang diperkenalkan bukan sekadar teori tentang UMKM, melainkan pengalaman praktis yang dapat dirasakan langsung oleh anak-anak.
“Anak-anak kami beri kesempatan untuk mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi penjual sekaligus pembeli. Dengan cara seperti ini, mereka lebih mudah memahami bahwa berwirausaha membutuhkan kreativitas, keberanian, komunikasi, dan kejujuran,” kata Siti.
Kreativitas Mendapat Apresiasi
Untuk memberikan motivasi kepada peserta, panitia juga menyiapkan penghargaan bagi peserta dengan penampilan dan kreativitas terbaik.
Empat kategori penghargaan diberikan, yakni Performance Terbaik I, Performance Terbaik II, Performance Terbaik III, dan Juara Favorit.
Penilaian tidak hanya diarahkan pada kemeriahan hiasan sepeda, tetapi juga kreativitas peserta dalam menerjemahkan tema pedagang keliling yang menjadi konsep utama kegiatan.
Pemberian penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus mendorong santri untuk berani berkreasi.
Bagi Madin Hasan Abdullah, peringatan HUT Ke-81 RI menjadi momentum untuk menanamkan makna kemerdekaan melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak-anak.
Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun generasi yang kreatif, mandiri, berani berusaha, mampu bekerja sama, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Melalui sepeda hias dan bazar mini, para santri belajar bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan dalam tindakan sederhana: berani berkreasi, belajar mandiri, dan mulai mengenal dunia usaha sejak dini. (***)





