AswajaNews – Kabupaten Bojonegoro memiliki identitas geografis yang kuat karena tumbuh di sepanjang aliran Bengawan Solo. Sungai besar ini mengalir dari wilayah Jawa Tengah menuju bagian utara Bojonegoro, lalu menjadi salah satu unsur alam yang membentuk pola pertanian, permukiman, ekonomi, hingga tantangan kebencanaan di daerah tersebut.
Bagian utara Bojonegoro masuk dalam Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang dikenal subur dan menjadi ruang pertanian ekstensif. Kawasan ini banyak dimanfaatkan untuk tanaman pangan, terutama padi pada musim penghujan, serta komoditas lain seperti tembakau pada musim kemarau.
Secara topografi, wilayah di sepanjang Bengawan Solo merupakan dataran rendah dengan ketinggian sekitar 11 sampai 25 meter di atas permukaan laut. Dataran rendah ini menjadi salah satu penopang utama aktivitas pertanian Bojonegoro, meski pada saat yang sama juga membuat sebagian kawasan lebih rentan terhadap genangan dan luapan sungai.
Di sisi selatan, wajah Bojonegoro berubah menjadi kawasan pegunungan kapur yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Sementara itu, bagian barat laut yang berbatasan dengan Jawa Tengah masuk dalam pengaruh Pegunungan Kapur Utara, sehingga bentang Bojonegoro mempertemukan dataran sungai, perbukitan kapur, dan lahan pertanian.
Selain pertanian, Bojonegoro dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas di Jawa Timur. Potensi migas membuat kabupaten ini memiliki posisi ekonomi yang penting, karena sumber daya alam bawah tanahnya menjadi salah satu pendukung perekonomian daerah selain sektor agraris.
Konektivitas juga menjadi bagian penting dari geografi Bojonegoro. Letaknya yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah dan terhubung dengan kabupaten lain di Jawa Timur menjadikan Bojonegoro sebagai daerah lintasan regional, terutama untuk pergerakan hasil pertanian, aktivitas industri migas, perdagangan, dan mobilitas masyarakat.
Namun, keberadaan Bengawan Solo juga membawa tantangan banjir musiman. Saat curah hujan tinggi dan debit sungai meningkat, wilayah dataran rendah di sekitar aliran sungai berpotensi terdampak luapan air, sehingga penguatan sistem peringatan dini, drainase, tanggul, dan pengelolaan kawasan bantaran menjadi kebutuhan penting.
Dengan kombinasi Bengawan Solo, dataran pertanian, pegunungan kapur, potensi migas, dan jalur konektivitas regional, Bojonegoro memiliki karakter geografis yang berlapis. Tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan tata ruang agar pertanian tetap produktif, industri migas berjalan terkendali, dan risiko banjir dapat ditekan melalui pengelolaan wilayah yang berkelanjutan.***





