Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag
*********
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hari ini kita berdiri di garis akhir bulan Dzulqo’dah. Tak lama lagi, hilal Dzulhijjah akan terbit membawa kabar gembira bagi penduduk bumi dan langit. Di saat jutaan saudara kita sedang mengemasi bekal menuju puncak Haji di Arafah, kita yang belum berkesempatan berangkat seringkali merasa “tertinggal”.
Namun, ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Adil. Dia tidak menutup pintu kemuliaan bagi hamba-Nya yang rindu. Dia menghadirkan 10 hari pertama Dzulhijjah sebagai “peluang emas” yang nilai pahalanya bahkan mampu menandingi pahala jihad.
Allah SWT sampai bersumpah atas nama waktu-waktu ini dalam Al-Qur’an:
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
”Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2)
Para ahli tafsir, termasuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, menegaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Inilah hari-hari terbaik dalam setahun (Afdhalu ayyamid dunya), melampaui keutamaan hari-hari di bulan Ramadhan (kecuali malam Lailatul Qadar).
Rasulullah Muhammad mempertegas urgensi waktu ini melalui lisan mulianya:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ
”Tidak ada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari).
Sebelum matahari Dzulhijjah terbit, marilah kita menyusun strategi ibadah agar waktu mulia ini tidak berlalu menjadi sekadar angka di kalender. Allah SWT berfirman:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
”…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (10 hari pertama Dzulhijjah).” (QS. Al-Hajj: 28).
Berikut adalah langkah nyata yang bisa kita lakukan:
- Taubatan Nasuha (Taubat yang Murni):
Mengakhiri Dzulqo’dah dengan memohon ampun adalah cara membersihkan “bejana” hati. Bagaimana mungkin rahmat Allah tumpah ke dalam hati yang masih penuh dengan kotoran maksiat? - Menghidupkan Dzikir (Tahlil, Takbir, Tahmid):
Sesuai anjuran Nabi, penuhilah rumah, kendaraan, dan tempat kerja kita dengan zikir. Biarkan lisan kita basah memuji-Nya sebagai bentuk partisipasi batin kita atas gema talbiyah para jamaah haji. - Puasa di 9 Hari Pertama:
Khususnya pada tanggal 9 Dzulhijjah (Puasa Arafah). Rasulullah Muhammad menjanjikan:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
”(Puasa Arafah) menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim). - Menyiapkan Kurban Terbaik:
Jangan jadikan kurban sebagai beban tahunan, tapi jadikanlah ia bukti cinta. Sembelihlah sifat pelit dan sombong dalam diri seiring dengan mengalirnya darah hewan kurban.
Mari kita memohon dengan kerendahan hati kita:
Ya Allah, sampaikanlah usia kami pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dalam keadaan sehat dan penuh semangat ketaatan. Jika kaki kami belum diizinkan wukuf di Arafah, maka izinkanlah hati kami mencapai puncak takwa melalui amal-amal sholeh yang kami persembahkan di rumah-rumah kami.
Ya Allah, terimalah sisa amal kami di bulan Dzulqo’dah, dan jadikanlah Dzulhijjah besok sebagai momentum perubahan besar dalam hidup kami menuju jalan-Mu.
Selamat menjemput hari-hari emas Dzulhijjah. Semoga setiap detik yang kita lalui menjadi saksi pembela kita di akhirat kelak. Aamiin Yaa Mujibas saailiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





