Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag
*********
Selamat datang di edisi khusus Mutiara Jumat.
Hari ini (01/05/2026), tepat pada Jumat kedua di bulan Dzulqa’dah yang mulia, kita menjumpai sebuah momentum refleksi yang luar biasa: pertautan antara kesucian bulan Asyhurul Hurum dengan semangat perjuangan para pekerja di seluruh dunia, May Day.
Bekerja bukanlah sekadar rutinitas untuk menyambung hidup, melainkan sebuah manifestasi iman yang sangat agung. Islam memandang peluh keringat seorang pekerja sebagai tetesan keberkahan yang mampu menghapuskan dosa-dosa yang tidak bisa terhapus hanya dengan salat dan puasa.
*Harmoni Dunia dan Akhirat: Sebuah Seni Menjalani Hidup.*
Dalam menjalani keseharian, seorang Muslim diajarkan untuk memiliki dua sayap yang seimbang: ambisi yang sehat di dunia dan persiapan yang matang untuk akhirat. Hal ini terefleksi dalam sebuah prinsip hidup yang mendalam:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok pagi.”
Kalimat ini menuntut kita untuk menjadi pribadi yang visioner. Ketika kita bekerja “seolah hidup selamanya”, kita didorong untuk membangun karya yang berkualitas, sistem yang kuat, dan kemandirian ekonomi yang kokoh.
Sebagaimana pesan Rasulullah SAW bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang totalitas dalam berkarya:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian bekerja, maka ia melakukannya dengan itqan/sempurna”).
Namun, di sisi lain, kesadaran bahwa kita bisa “mati esok hari” menjaga hati agar tetap rendah hati, jujur, dan tidak serakah. Ia menjadi rem agar kesibukan dunia tidak membuat kita lupa akan kampung halaman yang abadi.
*May Day: Meneguhkan Keadilan di Bulan yang Mulia.*
Peringatan May Day di bulan Dzulqa’dah ini membawa pesan keadilan sosial yang sangat kuat. Islam menempatkan kemuliaan manusia pada apa yang ia usahakan. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qashas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Kita diperintahkan untuk mengejar kebahagiaan akhirat tanpa sedikit pun melupakan bagian kita di dunia.
Kesejahteraan pekerja adalah prioritas, Dalam semangat hari buruh ini, kita diingatkan kembali pada sabda Nabi yang menjadi landasan etika kerja yang adil:
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
Artinya: “Berikanlah kepada pekerja upahnya sebelum kering keringatnya”).
Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap martabat kemanusiaan dan keadilan ekonomi.
*Kerja sebagai Sajadah, Karya sebagai Bekal.*
Mari jadikan Jumat kedua Dzulqa’dah ini sebagai titik balik untuk memaknai ulang profesi kita. Jika hari ini Anda merasa lelah berjuang di garis depan pekerjaan, ingatlah bahwa tangan yang kasar karena mencari nafkah yang halal adalah:
هَذِهِ يَدٌ يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُولُهُ
Artinya: “Tangan yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya”.
Semoga setiap langkah kita menuju tempat kerja menjadi langkah yang mendekatkan kita ke surga, dan setiap hasil yang kita bawa pulang menjadi bekal yang barakah untuk keluarga.
Selamat menjemput keberkahan di hari Jumat.




