Oleh: Saiful Huda Ems.
*********
Sebelum saya menjelaskan lebih jauh tentang siapa dan bagaimana karakter serta perannya antara Khomeini dan Khamenei di Iran, pertamakalinya saya akan menjelaskan dahulu nama dari keduanya, yang biasanya terdengar di telinga orang di Indonesia ada sedikit kemiripan.
Ayatullah RUHULLAH KHOMEINI:
Beliau di Indonesia namanya sangat populer dengan sebutan Imam Khomeini. Masih ingat kan dengan nama itu? Ayatullah itu merupakan gelar tinggi dalam Ulama di Iran, yang kalau diartikan dalam bahasa kita berarti tanda Allah. Sedangkan Ruhullah itu bukan gelar, melainkan nama depan dari Khomeini. Ruhullah sendiri bermakna Ruh Allah atau jiwa milik Allah. Sedangkan Khomeini merupakan nama keluarga yang berasal dari Kota Khomeyn di Iran.
Ayatullah ALI KHAMENEI:
Sebagaimana yang terdapat di nama Ruhullah Khomeini, Ayatullah merupakan gelar tinggi dalam Ulama di Iran, yang bermakna tanda Allah. Sedangkan Ali Khamenei merupakan namanya. Nama asli dan lengkapnya sebenarnya Ali Hosseini Khamenei. Ali merupakan nama depan, Hosseini menunjukkan garis keturunan dari imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Orang dengan nasab ini biasanya sering disebut dengan Sayyid.
Setelah saya menjelaskan perbedaan dan asal usul nama kedua tokoh besar dalam abad modern sejarah politik dunia Islam ini, sekarang saya akan mencoba menjelaskan tentang perbedaan signifikan, terutama dalam peran sejarah, tingkat otoritas keagamaan, gaya kepemimpinan, dan konteks politiknya di Iran yang mengguncang pentas politik dunia. Okey?…
Mari kita mulai penjelajahan sejarah yang sangat spektakuler ini. Siapkan waktu kalian sambil ngabuburit, menunggu buka puasa tiba !.
RUHULLAH KHOMEINI.
Pertama, mari kita tinjau dari perspektif Peran Sejarah. Ruhullah Khomeini merupakan seorang pendiri dari Republik Islam Iran, yang sebelumnya merevolusi kekuasaan Shah (Raja) Mohamad Reza Pahlevi. Sedangkan Ali Khamenei merupakan penerus dari Ruhullah Khomeini.
Jadi Ruhullah Khomeini itu pemimpin utama Iranian Revolution, yang sebelumnya berhasil menggulingkan Shah Iran (Mohamad Reza Pahlevi) dan mendirikan Republik Islam Iran pada 1979. Beliau kemudian menjadi Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) Iran pertama (1979–1989).
Tokoh kharismatik yang menjadi simbol revolusi Islam di Iran ini, wafat pada 3 Juni 1989 dalam usia 86 tahun. Perhatikan ini, betapa ini sama percis dengan usia penerusnya, Ali Khamenei.
Ruhullah Khomeini wafat setelah menjalani operasi, karena pendarahan internal di sistem pencernaannya. Yang menarik adalah pemakamannya, yang menjadi salah satu pemakaman terbesar dalam sejarah modern. Diperkirakan lebih dari 10 juta orang tumpah ruah, mendatangi Tehran dari berbagai negara di dunia, untuk menghadiri prosesi pemakamannya di Tehran Iran.
Ruhullah Khomeini dimakamkan di Mausoleum of Ruhullah Khomeini, sebuah kompleks makam besar di selatan Tehran yang kini menjadi tempat ziarah dan simbol Revolusi Iran.
Karena banyaknya orang yang berdatangan untuk memakamkan Ruhullah Khomeini ini, proses pemakamannya hampir diulang karena peti jenazahnya sempat jatuh dari keranda, akibat jutaan orang yang berdesak-desakan ingin turut ambil bagian dalam pemakamannya.
Waowww dahsyat ! Donald Trump dan Netanyahu tidak mungkin bisa seperti ini kalau mereka nantinya sudah tewas !.
ALI KHAMENEI.
Sedangkan Ali Khamenei merupakan Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) Iran berikutnya yang melanjutkan Revolusi yang dicetuskan oleh Ruhullah Khomeini.
Ali Khamenei pada awalnya merupakan sekutu Khomeini dalam revolusi. Kemudian menjadi Presiden Iran (1981–1989). Setelah Khomeini wafat tahun 1989, Ali Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) Iran kedua dan melanjutkan sistem yang sudah dibuat Khomeini.
Jadi Ruhullah Khomeini itu bisa dikatakan seorang arsitek revolusi dan sistem, sedangkan Ali Khamenei bisa dibilang pengelola dan penerus sistem tersebut.
Kedua, dalam hierarki ulama di Iran, otoritas keagamaan keduanya berbeda tingkat:
Ruhullan Khomeini bergelar Grand Ayatollah (tingkat tertinggi ulama di Iran), dan beliau diakui sebagai marja’ taqlid (sumber rujukan hukum agama bagi umat).
Sedangkan Ali Khamenei saat menjadi pemimpin tertinggi belum setingkat Grand Ayatollah.
Konstitusi kemudian diubah untuk kemudian Ali Khamenei dapat menjadi Supreme Leader, sesuai dengan kemauan para petinggi Ulama, dan Rakyat Iran.
Jadi pada awalnya Ruhullah Khomeini punya otoritas agama jauh lebih tinggi dibanding Ali Khamenei, namun kemudian keduanya nyaris sama meskipun berangkat dari latar belakang yang berbeda. Ruhullah Khomeini berasal dari ulama papan atas, Ali Khamenei bersal dari ulama bawah.
Ketiga, dalam ideologi dan penafsiran politik, baik itu Ruhullah Khomeini maupun Ali Khamenei, keduanya sama-sama mendukung konsep Wilayat al-Faqih (kepemimpinan ulama atas negara), tetapi pendekatannya berbeda.
Kalau Ruhullah Khomeini menjadi penggagas teori ini secara radikal, menganggap ulama harus memerintah langsung negara, namun kadang juga lebih fleksibel secara politik untuk menjaga negara Islam. Sedangkan Ali Khamenei selalu menjaga dan memperkuat sistem yang dibuat oleh Ruhullah Khomeini.
Keempat, apabila kita memperhatikan gaya kepemimpinan diantara keduanya, maka kita akan dapati Ruhullah Khomeini terlihat lebih revolusioner, namun sama-sama kharismatik, dan sangat menentukan arah negara. Banyak keputusan besar langsung berasal dari dirinya.
Sedangkan Ali Khamenei nampak lebih birokratis dan institusional. Oleh sebab itu dalam kepemimpinan Ali Khamenei, kekuasaan selalu dijalankan melalui jaringan lembaga seperti: IRGC (Revolutionary Guard), Dewan Ulama dan Lembaga Negara lainnya.
Ali Khamenei wafat di usia yang sama percis dengan Ruhullah Khomeini, yakni 86 tahun. Tepatnya pada hari Sabtu 28 Februari 2026, setelah ditarget oleh banyak agent inteligent Amerika Serikat (CIA) dan Israel (Mossad) berbulan-bulan, lalu dibom secara membabi buta, hingga Ali Khamenei Sang Pemberani itu gugur, syahid bersama istrinya, putrinya, cucunya dan menantunya. Alfatihah…(SHE).
–Bersambung di Bagian Berikutnya–
Minggu 8 Maret 2026.
Saiful Huda Ems (SHE).



