Aswajanews – Ponorogo – Air mineral Almanu hadir sebagai salah satu ikhtiar Nahdlatul Ulama dalam membangun kemandirian ekonomi jamaah sekaligus memperkuat basis ekonomi organisasi. Di bawah naungan PT Bintang Songo, produk ini tidak sekadar diposisikan sebagai komoditas bisnis, melainkan simbol kesadaran kolektif bahwa NU memiliki potensi ekonomi besar apabila dikelola secara solid dan profesional.
Almanu diharapkan menjadi pintu masuk dalam membangun ekosistem ekonomi NU yang berkelanjutan, sekaligus menopang aktivitas badan otonom dan berbagai program keumatan. Program ini digagas oleh Lembaga Perekonomian NU tingkat cabang/kabupaten dengan menggandeng struktur NU di tingkat MWC dan kecamatan dalam distribusinya.
Keuntungan yang diambil relatif rendah sebagai bentuk komitmen bahwa usaha ini tidak semata mengejar profit, tetapi juga kebermanfaatan. Sebagian keuntungan dialokasikan untuk mendukung kegiatan organisasi, sebagai wujud keberpihakan pada penguatan struktur internal NU.
Namun dalam perjalanannya, Almanu masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah persepsi keliru dari sebagian warga NU yang menganggapnya sebagai usaha pribadi, bukan bagian dari ikhtiar ekonomi organisasi. Padahal, manajemen perusahaan berada di bawah PT Bintang Songo yang menjamin pengelolaan profesional dan terbuka.
Persoalan konsolidasi internal juga menjadi tantangan utama. Meski sosialisasi telah dilakukan, masih terdapat warga maupun tokoh NU yang belum memahami secara utuh sistem distribusi dan mekanisme memperoleh produk. Hal ini menunjukkan komunikasi internal yang perlu diperkuat.
Selain itu, rendahnya kesadaran kolektif untuk menggunakan produk sendiri dalam berbagai kegiatan organisasi juga menjadi hambatan serius. Padahal, menjadikan Almanu sebagai konsumsi utama dalam forum, acara, dan kegiatan ke-NU-an merupakan langkah sederhana namun strategis untuk membangun identitas ekonomi Nahdliyin.
Faktor kepercayaan juga menjadi isu penting. Pengalaman kegagalan usaha di masa lalu akibat manajemen yang kurang profesional meninggalkan trauma kolektif. Akibatnya, setiap inisiatif ekonomi baru kerap disambut skeptis, bahkan dengan kecurigaan.
Tantangan lain yang tak kalah krusial adalah belum kuatnya tata kelola dan sistem terintegrasi dalam pengelolaan unit-unit usaha NU. Dinamika internal dan tarik-menarik kepentingan kerap menghambat ruang gerak pengelola di lapangan.
Keterbatasan tersebut berdampak pada kurang optimalnya pengembangan usaha, meskipun inisiator memiliki komitmen kuat untuk mengembalikan manfaat sepenuhnya kepada NU.
Meski demikian, Almanu tetap menyimpan potensi besar. Kepercayaan publik terhadap NU sebagai organisasi sosial-keagamaan yang kuat merupakan modal sosial yang dapat diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi nyata. Dengan pengelolaan profesional, transparan, dan akuntabel, Almanu berpeluang menjadi contoh keberhasilan ekonomi berbasis jamaah.
Lebih dari sekadar produk, Almanu dapat menjadi sarana edukasi ekonomi bagi warga NU bahwa kemandirian tidak akan lahir tanpa keberanian untuk mempercayai dan mendukung usaha sendiri.
Ke depan, dibutuhkan komitmen bersama seluruh elemen NU untuk menjadikan Almanu sebagai bagian dari gerakan ekonomi kolektif. Dukungan tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana: menggunakan produk sendiri, memperkuat jejaring distribusi internal, serta menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
Jika kesadaran ini tumbuh, Almanu tidak hanya akan bertahan sebagai produk, tetapi berkembang sebagai simbol kemandirian dan kekuatan ekonomi Nahdlatul Ulama.
Narasumber:
Bapak Eko
(Lembaga Perekonomian NU Ponorogo)





