Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag
*********
Perputaran waktu adalah salah satu ayat kauniyah (tanda kebesaran) Allah yang paling agung. Di awal ambang pintu gerbang Tahun Baru 1448 H, yang dalam hamparan budaya masyarakat Jawa karib disapa Wulan Suro, kita dipertemukan dengan momentum yang sarat akan berkah: Jumat Pertama di penghujung tahun.
Bagi masyarakat Jawa, sasi Suro dudu mung gilirane waktu (bukan sekadar pergantian waktu), melainkan ruang sakral untuk nyepi, tirakat, dan muhasabah. Ketika keutamaan Hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam berpadu dengan atmosfer agung menyongsong bulan Suro atau Muharram, di sinilah letak Mutiara Waktu bagi setiap jiwa untuk kembali ke fitrah, memperkuat akar tradisi, sekaligus melaju dalam transformasi spiritual.
Madrasah Spiritual: Edukasi Syariat & Kearifan Lokal.
Mengarungi pergantian tahun di tanah Jawa identik dengan laku prihatin dan berbagi. Islam menjembatani tradisi mulia ini melalui dalil-dalil yang sahih.
1. Hakikat Tirakat dan Muhasabah (Mawas Diri).
Masyarakat Jawa mengenal laku mawas diri atau tepa selira di awal tahun. Dalam Islam, inilah esensi utama dari perintah ber-muhasabah untuk menatap hari esok. Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr 18).
2. As Syuro atau Muharram Sebagai Bulan yang Disucikan (Bulan Allah).
Bulan Muharram atau Suro termasuk dalam Asyhurul Hurum (bulan yang dimuliakan), di mana masyarakat dilarang membuat pertikaian dan dianjurkan memperbanyak laku prihatin (puasa). Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan. di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus…” (QS. At-Tawbah 36).
Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan kita untuk menghidupkan bulan ini dengan berpuasa, yang kelak di masyarakat Jawa diiringi dengan tradisi membuat Bubur Asyura sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan:
أفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yaitu) Muharram.” (HR. Muslim).
3. Lebaran Yatim: Memperkuat Solidaritas Sosial.
Salah satu tradisi paling kental pada bulan Asyuro atau Muharram di Jawa adalah menyantuni anak yatim secara massal (Lebaran Yatim). Hal ini sejalan dengan spirit Rasulullah SAW yang sangat mencintai anak yatim, terutama di hari Asyuro:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا (وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى)
”Aku dan orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di surga bagaikan ini,” kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari).
Mutiara Amalan di Jumat Pertama di Bulan Muharram.
Mari kita padukan keagungan sunnah dan keluhuran tradisi melalui amalan-amalan utama berikut ini:
- Membaca Surah Al-Kahfi & Memperbanyak Shalawat.
Sebagai benteng spiritual (tulak bala’) batiniah kita dianjurkan
Oleh Nabi Muhammad SAW untuk memperbanyak membaca Surat Al Kahfi dan Solawat kepada Baginda Rasul.
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, niscaya akan memancar cahaya baginya di antara kedua Jumat.” (HR. Al-Hakim).
- Meneguhkan Hakikat Hijrah (Meninggalkan Keburukan).
Pergantian tahun adalah momentum ngentas diri dari sifat-sifat tercela menuju keluhuran budi yang luhur (akhlakul karimah). Seperti disampaikan oleh Rosulullah SAW:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ.
“Dan orang yang berhijrah (yang sejati) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).
- Sedekah Asyuro & Berbagi.
Menghidupkan dapur umum warga melalui pembuatan jenang/bubur Suro untuk mempererat tali silaturahmi antarsesama.
”Wahai jiwa yang tenang, manfaatkanlah Jumat terakhir ini sebagai jembatan cahaya. Basuhlah masa lalu dengan istighfar yang tulus, jernihkan hati melalui laku prihatin, dan penuhilah dada dengan optimisme baru menyambut 1 Muharram 1448 H.”
Melangkah Bersama: Kokoh dalam Tradisi, Melaju dalam Transformasi.
Tahun baru 1448 Hijriyah adalah kanvas putih yang suci. Melalui momentum Jumat pertama menyongsong bulan Muharram atau lebih dikenal “Sasi Suro” ini, kami mengajak untuk sejenak melambatkan ritme duniawi, merenungi setiap jejak yang telah ditinggalkan, dan bersiap melangkah ke depan.
Mari kita jaga keluhuran tradisi warisan para ulama dan leluhur terdahulu, sembari terus beradaptasi dan bertransformasi ke arah yang lebih baik di era digital ini.
“Selamat menyongsong Tahun Baru 1448 H.”
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah hijrah kita, menetapkan kita dalam keselamatan (slametan), serta melimpahkan keberkahan yang berlipat ganda.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.




